Langit dan Rerumputan

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 23 Juni 2016
Langit dan Rerumputan

Beberapa hari yang lalu dia bercerita kepada langit tentang cita-citanya yang telah diterbangkannya ke udara. Terbang bersama burung-burung, menari bersama daun-daun pohon yang tinggi, dan mengudara bersama doa-doanya.

Senyumnya tidak pernah jauh-jauh dari bibirnya. Pun hatinya bersinar. Ada cahaya di sana. Ada harapan yang dia curahkan kepada-Nya. Dan dia tidak pernah gentar walau orang lain merendahkan mimpi-mimpinya.

Tidak hanya pada langit. Dia juga menceritakan perihal mimpinya kepada teman-temannya. Tentulah teman yang ada pada setiap harinya. Teman yang menguatkannya, yang percaya bahwa mimpinya adalah mimpi yang indah untuk diwujudkan.

Tetapi hari ini aku melihatnya menangis. Haru di wajahnya membuat dia tidak mau lagi berbicara kepada langit. Bahkan tersenyum kepada langitpun dia malu. Pagi ini kata langit, sekalipun dia tidak tersenyum padanya. Wajahnya selalu memandang ke bawah, seolah tidak mau seisi bumi membaca air matanya.

Tadi malam langit yang hitam gelap itu menceritakan semua. Langit mengerti perihal berita sahabatnya, tanpa perlu sahabatnya bercerita. Dia; sang pemilik hati yang bercahaya, hari ini meredup. Mimpi-mimpinya jatuh bersama jatuhnya air hujan.

Tidak, bukan karena dia gagal. Bahkan dia belum selesai berjuang. Dia masih ada dalam permulaan. Kata awan, mimpi-mimpinya yang telah dia terbangkan, jatuh dan terperosok di antara rerumputan. Hal tersebut sangat membuatnya patah. Sayap-sayap yang membawa mimpi-mimpinya patah. Katanya, dipatahkan.

08:13, 22.4.2016

  • view 80

  • Tukang Kutip
    Tukang Kutip
    1 tahun yang lalu.
    Quote: "Tadi malam langit yang hitam gelap itu menceritakan semua. Langit mengerti perihal berita sahabatnya, tanpa perlu sahabatnya bercerita. Dia; sang pemilik hati yang bercahaya, hari ini meredup. Mimpi-mimpinya jatuh bersama jatuhnya air hujan."