Tabah

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Juni 2016
Tabah

Tidak maukah menjadi lebih tabah daripada hujan bulan Juni? Petrichor mengudara, berdiam sejenak melewati lubang penciuman dan berganti bau kopi hangat. Hangat yang membuat siapapun enggan meminumnya seteguk dalam beberapa detik. seperti penikmat kopi akut yang tidak bisa menghabiskan satu cangkir dalam lima menit, baginya butuh minimal tigapuluh menit untuk melahapnya. Bahwa kemudian aku tahu, bukan hanya rasanya yang begitu ia nikmati, tetapi aromanya pun memasuki hati.
 
Ada pula yang menikmati petrichor di bulan Juni dengan buku dengan judul terbaru dari penulis kesayangan. Kalimat sendu mewarnai langit seketika. Seperti pelangi yang melengkung setelah hujan. Seperti awan yang cerah lagi setelah merana. Seperti langit yang biru lagi setelah menemani awan menumpahkan prahara perasaannya.
 
Tabah adalah aroma di bulan Juni, bukan hanya pada hujan, tetapi pada hatiku, mungkin. Harus lebih banyak terbuka untuk setiap kenyataan. Pada yang menyakitkan sekalipun. Pada yang membahagiakan juga tak perlu berlebih dalam tertawa.
 
Harus tahu bahwa sedih yang membuat air mata kembali menyala tidak boleh terlalu lama dan terlalu berlebih kadarnya. Juga tentang tawa yang membuat hati selalu berbunga, tidak perlu berlalai-lalai untuk bersyukur kepada yang menulis takdir tawa itu pada diri kita.
 
Senyum harus lebih ramah menyapa, sepertinya. Ditulus-tuluskan ketika aku sadar masih ada kepura-puraan yang mendarat pada pelabuhan rasa.
 
1.30, 12062016. Di ujung barat Jawa Timur.
Maharlika Igarani.
 

  • view 68