Keterpisahan

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Oktober 2016
Keterpisahan

Dengan sedikit sesal, kuakui satu kemenyerahan dalam batinku. Kehadiran ketidaksanggupan untuk hidup, atau lebih tepatnya untuk membuatnya berarti. Dalam diam, sebenarnya sudah kubahasakan dari kedua sudut mataku. bahwa aku sudah tidak ingin lagi bertengkar dengan diriku sendiri tentang kejujuran. Telah cukup waktunya aku membohongi diriku sendiri bahwa aku mampu melupakan semua yang pernah ada, yang pernah ditaruh di dalamnya begitu saja tanpa permulaan yang sangat baik dan akhirnya harus jadi sampah. pengakuan ini sudah seratus kali dan bosan mulai membelah awan kemudian jatuhlah hujan.

Nantinya, kau juga akan tahu, atau kalau boleh sekarang saja. Aku sedang beristirahat di bawah pelampiasan sisa-sisa harapan. Dan pengistirahatan ini tidaklah tenang atau mengasyikkan. Kutemui suara daun-daun yang bersentuhan melewati gendang telinga dan aku seperti mencium aroma khayalan yang pernah kita lukis bersama di atas awan. Suara gemericik air yang kudengar dari sisi kiri pemberhentian, membuatku berpikir satu hal; untuk menghanyutkanmu dan membuangmu jauh-jauh tidak akan pernah mudah, sepertinya, sebab bisa jadi kau hanya tenggelam di dasar dan mengakar di sana. Ditetumbuhi lumut yang menjadikanmu semakin abadi dalam ketidakabadian. Kupejamkan mata, semakin gelap semakin kulihat dirimu dengan bayanganmu. Kamu ada. Kamu masih ada.

Angin membawaku terbang, seperti ada yang tersenyum padaku di ujung sana. Senyum manusia itu mengingatkanku pada pelepasan kita. Pada ucapan selamat jalan dan sampai bertemu lagi. Lalu aku mengerutuki diriku sendiri, mengapa masih saja membiarkan mataku terlena akan senyum yang dibuat-buatnya untuk kukenang? Bukankah ini sebuah penjeblosan? Pembodohan? Semu? Aku tetap tidak akan mampu meraihnya sebab setelah ini adalah perpisahan. Dan tidak disertai dengan berpisahnya rasa dari raga.

---

Jangan takut, jangan pernah.

Jangan pernah takut untuk berpisah dengan siapapun. Sebab bisa jadi, dengan keterpisahan itu akan ada pergantian jiwa-jiwa yang baru. Menanam rasa padanya. Meneguk cinta di antaranya. Membersamainya. Saling menuntun. Menjaga. Dan kuat untuk saling mengungatkan.

Jumat, 14 Oktober 2016. 22:29. | M

  • view 176