Sepi

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Sepi

Tentang sepi, atau hening, atau hampa, atau rindu?
22:56.

Hening.
Aku meraih buku catatan, mencari-cari tanggal kapan terakhir mengisinya dengan sampah-sampah yang segera digulung menjadi adonan, disantap oleh mata-mata yang mencari di mana bentuk keadilan, kepahitan, penolakan, patah hati, hingga sandiwara di atas sandiwara. Aku mencari jejak kapan aku berlari di antara bait-bait puisi tanpa rima, sajak, majas, dan apa itu namanya? Diksi? Entahlah, aku mungkin tertidur saat pelajaran Bahasa Indonesia.

Lima hari lalu, lama sekali?

Malam ini terasa sepi sekali dan entah mengapa berlalu begitu cepat. Padahal aku sedari tadi hanya memainkan layar handphone dengan mengubah-ubah putaran di playlist dengan instrumen Yiruma memenuhi daftar putar. Kemudian aku terkenang dengan sebuah puisi dengan latar belakang Do You. Aku benar-benar menahan air mata agar tidak melorot.

Hening. Sekitar pukul sepuluh.
Aku melihat tumpukan novel di depan, tergeletak begitu saja berserakan di meja belajar, mungkin karena meja ini telah lama tidak dipergunakan pemiliknya yang sedang mencintai kasur, bantar, dan selimut? Aku yang selalu saja merasa ramai dengan alur cerita, isi cerita, dan ending cerita kini merasa kesepian. Pikiranku terlalu ramai, namun sebenarnya sekitar sangat sepi. Pun hati.

Tapi sampai detik ini pun, aku tetap tidak mengerti definisi sepi sebenarnya.
Apakah untuk dia yang tidak dibersamai secara fisik? Apakah bagi dia yang tidak ada obrolan maya dengan dia di seberang kota? Apakah dia yang baru saja kehilangan anggota keluarga? Apakah dia yang hatinya terlalu rapat ditutup untuk banyak orang? Apakah sekarang? Aku? Suasana hatiku?

Rabu, 10 Agustus 2016.

  • view 168