Percayalah, Aku Pernah Sakit Hati

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Percayalah, Aku Pernah Sakit Hati

Senja kali ini entah senja keberapa seorang Raini mengusik semua masa laluku, atau tepatnya membuat aku berpikir lagi untuk membuatnya percaya pada takdir yang semuanya baik. Aku harus mengorek lagi luka-lukaku, yang sempat aku kubur dan tidak ingin seorangpun membacanya. Tapi, dia menggoyahkan segalanya. Aku bercerita.

“Ran, ayolah, kamu tahu rasanya menunggu tanpa tenggat waktu, kan? Kamu pikir aku ini pengangguran yang tidak punya kerjaan dan kamu bisa seenaknya mengajakku ngobrol tapi kamu sendiri tidak mau mendengarkanku?”

“Kamu memang tidak pernah merasakan hal yang sama denganku, makanya kamu mudah sekali bicara seperti itu. Sok bijak!”

Sama sepertimu, Raini. Dulu aku juga menemui orang-orang dengan kalimat sok bijaknya. Religius, idealis, politikus, hingga guru-guru di SMA yang semuanya menyemangati untuk terus belajar dan akhirnya kita bisa mendapatkan segala impian dan cita-cita. Aku muak, sangat muak. Aku benci kata-kata motivasi, aku benci disemangati. Aku seperti mayat hidup. Atau aku tidak benar-benar hidup? Aku mati dalam putus asa.

Beberapa bulan aku mencoba berdamai dengan segalanya, tidak bisa. Aku tetap sakit hati. Aku tetap ingin hidupku berakhir, tapi aku takut. Aku punya apa untuk menjawab pertanyaan-Nya? Aku bisa apa memanipulasi timbangan amal baikku ketika hari penghisaban itu tiba? Apakah aku bisa membuat yang salah menjadi benar seperti dunia ini? Tidak. Hingga aku bertemu dengannya...

“Siapa bilang? Siapa bilang aku tidak pernah bersedih, kecewa, gagal, patah hati, menolak kenyataan, berprasangka buruk, dan ragu-ragu? Siapa yang bilang?

Aku pernah bersedih, aku kehilangan, tapi pada akhirnya aku sadar bahwa segalanya yang mampu aku jangkau sekarang bukan sebenar-benarnya milikku. Titipan. I don’t have anything. 

Aku pernah kecewa, ketika aku meletakkan harapan itu pada manusia. Aku sadar aku salah. Aku sadar aku terlalu meniadakan-Nya. Hingga aku kecewa pada diriku sendiri, sayang.

Aku pernah gagal, keinginanku pada suatu hal harus binasa. Ambisiku tiba-tiba habis. Aku terpuruk. Cita-citaku hancur. Tapi, ada yang bilang kalau pada saat itu aku tidak mendapatkannya meski dengan usaha sekeras-kerasnya, barangkali di hadapan-Nya cita-citaku tersebut tidak cocok untukku.

Aku pernah patah hati, perasaanku pada seorang anak gadis harus ditikam dalam sekali. Aku tertusuk oleh perasaan yang sembarangan, cinta. Aku salah, belum waktunya aku mencintai manusia, kecuali jika aku ingin patah hati seperti itu.

Aku pernah menolak kenyataan, kenyataan yang bahkan orang lain menginginkan terjadi padanya. Aku sebal akan keadaan, keberadaan. Aku sempat menginginkan ketiadaan seseorang. Ingin dia lenyap. Ingin aku tidak diciptakan menjadi aku yang sekarang. Aku ingin menjadi orang lain, dengan kehidupannya. Tapi, selamanya menolak selamanya aku harus berperang batin. Akhirnya aku berdamai, menerima.

Aku pernah berprasangka buruk. Bahkan aku pernah menilai-Nya meninggalkanku, memberiku segenap luka dan membiarkanku di sini tanpa obat, tanpa teman. Ternyata aku salah, Ran, aku yang terlalu lama meninggalkan-Nya. Ketika aku meminta, aku kembali kepada-Nya, dengan air mata buaya, setelah aku dapat, aku pergi lagi. Menyebalkan, bukan?

Dan satu lagi, aku pernah ragu-ragu. Aku pernah sangat takut pada masa depan, bayang-bayang manusia yang bengis, menakutkan, dan egois. Semuanya terobati, ternyata aku tidak berserah diri pada-Nya segenap-genapnya. Aku menyangsikan kebaikan-Nya. Aku bodoh saat itu. Tapi, apakah sekarang aku pintar? Tidak juga. Seorang yang bodoh akan terus mencari kebenaran. Seorang bodoh yang cerdik.”

“Ayo, kita pergi.”
Ajakmu beberapa menit setelah aku mengoceh.

Aku tahu kamu tidak pernah tidak bisa tersihir oleh omonganku, Raini.

  • view 485