Kemerdekaan Adalah Saat Ini

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Motivasi
dipublikasikan 26 Juni 2016
Kemerdekaan Adalah Saat Ini

Ada yang memilih pergi dari kenyataan, menghilang tanpa sebab. Setiap harinya adalah teka-teki. Setiap sisi waktu dalam hidupnya untuk mencari; alasan yang tidak segera ditemukan. Atau mungkin hanya sebuah pelarian untuk sedikit riang?

Perang pada hatinya adalah buah dari konferensi yang berujung pada pengkhianatan salah satu pihak. Dan, dia tidak punya pilihan, dia tidak memilih untuk jadi korban, kan? Menjadi pelaku pun dia tak tega, bisa juga tidak sanggup.

Senapan teracung, tank-tank berebut jalan, dan suara dentuman keras memekik. Pikirannya penuh dengan batu-batu yang ingin disingkirkan. Gerimis kecil di matanya belum ada tanda-tanda akan berhenti.

Baginya, kemerdekaan adalah saat ini. Ketika penjajah perasaannya belum benar-benar lumpuh dan angkat kaki. Hanya luka kecil di pelipis kiri.

Kemerdekaan adalah saat ini.

Kemerdekaan yang dia pilih adalah memilih pergi. Pertanyaan yang sama akan menemui jawaban yang sama, tidak peduli sekeras apa seseorang memintanya menjawab dengan kalimat dan maksud yang berbeda.

Mengapa? Tidak tahu.

Janji yang belum sempat diucapkan dan mungkin tidak ada niat kuat untuk menyanggupinya, tertinggal di secarik kertas di meja rias; aku akan pulang, tapi entah kapan.

Aku akan pulang, tapi entah kapan.

Dan, siapa yang tahu jika batas usianya reda sebelum dia sempat pulang? Janji yang tidak berniat untuk disanggupi.

Lalu ke mana sebenarnya dia pergi? Jika tidak mampu menjelaskan alasan, tidak salah, kan meminta penjelasan keberadaan?

Tapi, kosong...

Termasuk mimik wajahnya, ekspresinya, gerakannya, kedipan matanya, dan barangkali air matanya. Kering.

Dia pun tak menahu ke mana akan pergi. Memeluk masa lalu, kah? Mengejar masa depan, kah? Pada kenyataannya dia sedang belajar meluruskan benar kusutnya.

Dari dulu, sulaman hidupnya tidak pernah ada tetesan air mata. Zaman emas itu berakhir setelah ditemukannya benang kusut di kolong meja kerja, padahal sulamannya masih tengah dari usai.

Dia beranjak, mulailah kepergian itu dijalani, ditelusuri.

Terus berlari, tetapi dia tidak pernah menengok ke belakang, bahwa kenyataan terus mengejarnya. Dia pun tidak pernah mendongak ke atas, bahwa kenyataan terus menghujaninya.

Minggu, 26 Juni 2016.

  • view 58