Bangunan

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 17 Juni 2016
Bangunan

Aku rasa ada bangunan dalam diri yang pondasinya harus kuat. Tidak mengapa pada dindingnya ada bekas corat-coret, dengan tinta spidol warna, dengan krayon, dengan pensil, atau dengan lipstik sekalipun. Tidak peduli lantainya menggunakan keramik dengan warna apa, atau berlantai semen halus yang butuh tikar agar pakaian tidak kotor ketika duduk di atasnya.

Bangunan itu mengajarkan aku tentang keteduhan. Tentang hujan yang datang sebagai waktu agar aku lebih mudah tersenyum. Meski aku harus berhenti di suatu tempat menanti hujan reda dan melanjutkan ketika tinggal titik-titiknya. Tentang terik matahari siang. Tentang cahayanya, bukan pada keluhan yang terucap bersamaan dengan hadirnya. Meski aku harus berkali-kali mengusap keringat menggunakan ujung kemeja.

Aku sebut pohon-pohon yang berada di halaman depannya adalah penunggu paling setia. Menunggu dihujani awan kelabu, menunggu disinari terik matahari, dan menunggu agar diambil buah dari merawat diri. Penunggu paling setia itu juga menjelma menjadi pemberi paling baik.

Bangunan itu harus kokoh pondasinya. Agar manusia di dalamnya merasakan manis dari berteduh di dalamnya. Ketika hati meringis dan menangis bukan lagi harapan kepada manusia untuk membahagiakan, tetapi kepada Tuhan ia meminta untuk dibahagiakan. Sebab berharap kepada manusia sama saja menjerat diri pada luka paling perih di kemudian hari.

Pondasi bangunan itu bernama; iman.

Ngw, 16062016. Maharlika Igarani.

  • view 62