Hati yang Tak Kembali

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 05 Juni 2016
Hati yang Tak Kembali

Setelah lama tak berjumpa, tak melihat tubuhnya, tak mendengar derap kakinya, tak mengintip senyumnya, tak tampak ayunan kakinya, dan tak pernah lagi melihat punggungnya yang menjauh. Ada sesuatu yang menyusupi relung hati. Lalu mengiris-iris hati hingga berdarah, terluka.

Mula-mula ada degup yang bertalu semakin keras, mengganti malam-malam yang sepi. Ada yang menemani duduk sendiri di pojok kamar dekat jendela. Menyeduh kopi dan menulis sejerit hati, menangis.

Tidak, aku bukan sedang sedih. Apalagi patah hati. Mungkin yang ada dalam perasaan ini jika aku mampu melisankan, membisikkan, atau menuliskan. Aku hanya ingin, tolong kembalikan separuh hatiku. Separuh yang kau ambil dariku. Dan engkau pergi melanglang entah ke tanah mana. Kembalikan.

Ku rasa sudahlah cukup, berhenti di sini membawa hatiku. Karena aku butuh hati baru. Mengganti separuhnya yang luka, berdarah, terkoyak, tercakar-cakar, sakit. Aku tidak pernah menduga, kau setega ini. Membawa separuh hatiku pergi, tapi aku terkuai. Dengan luka dan dengan perih. Sakit.

Selama perjalanan ini. Jangan kau buat separuh hatiku runtuh. Jangan kau ikut menyakitinya seperti aku menyakiti separuh hatiku yang ini. Aku yakin kamu baik, kamu peduli, dan kamu mengerti cara menjaga hati.

Rindu. Aku sudah sangat kesakitan. Ditelan sakit, tapi tidak ada anak sungai di mata. Aku kuat, dengan hati yang rusak, sakit, dan hampir mati aku masih bisa mengirim sesuatu untuk kau nikmati. Dan jika kau tidak mau, simpan saja. Letakkan jauh dari pandangan, dari sentuhan, dan dari pemikiran. Aku tidak mau kau membuangnya. Karena apa? Karena kamu telah membawa separuh hatiku dan tidak segera kau kembalikan.

Rindu. Apa ini benar-benar rindu. Tak mendengarnya, tak melihatnya dalam waktu lama. Lalu ada perasaan menggebu ingin berjumpa dengannya. Menatap sebentar kakinya atau celananya ketika berpapasan. Atau paling ringan, menatap punggungnya yang semakin menjauh hingga aku tidak mampu mengikuti dan terpaksa berhenti.

Kalau aku ceritakan lagi sakitnya, kau tidak akan percaya.

  • view 114