Menghabiskan Air Mata

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juni 2016
Menghabiskan Air Mata

Hari ini entah hari ke berapa air mataku luruh. Di luar hujan, dingin dan basah. Tuhan mengerti, betapa sendu perasaanku. Sehingga Dia membawakanku hujan. Mungkin agar aku tidak terlalu lama bercanda. Agar aku kembali terbawa pada masa lalu.
Aku sudah merasakan bagaimana ngilunya luka. Tentang kebodohan masa lalu yang membuatku banyak memutar otak untuk membersihkannya. Aku tahu, di luar sana banyak orang yang tidak membutuhkan masa lalu. Tetapi tetap saja aku terbawa suasana.
Tidak ada seorangpun yang mau membuka lukanya kembali. Menjadikan dongeng sebelum tidur. Atau dibagikan kepada orang-orang. Begitupun luka lama ku. Luka itu menjadi bagian paling sensitif. Menjadi hal paling sulit untuk diterima.
Setiap hari aku mengobati luka ku. Pada bait-bait yang siap ku kirim kepada Tuhan.  Ku yakin Tuhan punya banyak skenario untuk ku jalani. Aku berserah. Terserah Tuhan akan membawaku ke mana. Asalkan tidak kembali pada luka lama ku.
***
“Udah pakek jeans saja, kasihan temanmu yang membonceng pasti repot!” itu kalimat ibu beberapa bulan yang lalu.
 Tuhan, kuatkan aku. Aku bukan seorang yang rapuh meski aku sering menangis. Aku lebih sering diam daripada harus mendebat. Lebih sering bertindak daripada sibuk menimpal dengan kata-kata. Lalu luruhan air mataku bercampur dengan aksara. Akulah yang pandai menyembunyikan perasaan, kata hujan. Tetapi tidak pernah menyembunyikannya pada ketikan tuts di laptop.
Bukan hari itu saja, kerap kali semangatku untuk berubah harus dipatahkan. Sayangnya dipatahkan oleh orang tuaku sendiri. Kepada siapa lagi aku harus mengadu ketika orang luar juga mencemoohku sedang orang tuaku juga berkata demikian?
Allah. Aku punya Allah. Aku hanya mempunyai-Mu dari segala yang aku punya. Harta tak mampu membuat air mataku reda. Tak mampu membeli ridha orang tua. Tak mampu menyembunyikan apa yang aku ingin sembunyikan. Tetapi Allah mengerti semua keluh kesah hamba-Nya. Mengerti apa yang aku sebut derita. Dia menenangkanku dengan segala kalimat-Nya, memberiku ketenangan, dan memberiku pasokan keyakinan.
Biarlah Allah yang mengikat hatiku pada manis cinta-Nya. Aku sakit, kerap sakit perasaanku. Tetapi cinta tidak mampu ditipu. Aku menangis, benar-benar menangis. Ada sendu setiap hari. Aku melahapnya nikmat. Seolah sendu adalah makanan dengan resep paling istimewa, dimasak oleh koki profesional.
Terkadang aku teramat ingin pulang. Pulang ke rumah-Nya segera. Tersebab aku sudah kelelahan. Serasa pundakku penuh beban. Dan air mataku menertawai, seolah aku becanda. Itulah Tuhan, jika aku tidak menyelesaikan urusanku di dunia, aku juga tidak akan segera dipanggil-Nya. Tuhan memberiku mata genap dengan air matanya adalah untuk melihat setiap ujian membawaku pada rumah yang indah di surga. Itu janji-Nya, dan siapa yang menyangsikan setiap janji-Nya?
***
“Assalamualaykum, ukhti.”
Wajah-wajah itu adalah kekuatanku. Ketika sudah tidak ada lagi bahu untuk kuberistirahat sebentar. Aku menemukan mereka. Begitulah rencana Allah, tiada yang tahu.
Dulu sekali aku juga sering menertawai perempuan dengan kerudung besarnya, meski hanya dalam hati. Aku melihat keteduhannya, namun karena hatiku masih diselimuti debu, pandanganku samar. Aku menganggapnya kuno dan berbagai macam kerendahan lainnya. Sekarang aku sadar, tiada yang lebih teduh dari mereka. Tiada yang lebih indah dari senyum tulus mereka. Tiada yang lebih halus dari jabatan tangan mereka. Satu per satu aku melihat di matanya ada cinta. Membawanya mencintai makhluk sepertiku.
Aku mencintaimu karena Allah. Entah jika Allah tidak memberi kalian kepada hidupku. Akankah aku selalu dalam kegelapan? Yang aku sendiri mungkin lebih menyesal kelak.
Beruntung, Allah memberiku hati yang kuat. Jika tidak, mungkin aku tidak akan bersama kalian sampai saat ini. Tidak akan berjalan bersama kalian, tidak akan mengerti mengapa kalian meneriaki dakwah, tidak mengerti kesungguhan kalian menjaga diri. Barangkali, aku akan menjadi seperti orang di luar sana. Dengan pergaulannya yang bebas. Tidak mengerti batas pria dan wanita.
Sungguh tidak mengapa, jika aku harus menangis setiap hari. Meskipun tanpa mereka sadari, mereka menyakitiku. Masuk ke ruang paling dalam dari hatiku dan memporak-porandakannya.
Aku sempat tidak menyadari kenyataan. Malas menerimanya. Karena sakit hatiku yang tidak mau diterima. Aku takut kebencian merobek keikhlasan. Aku takut aku membuat nama jelek untuk dakwah yang kita perbincangkan. Aku, dengan segala ketakutan.
***
Tidak ada keimanan yang bisa dibeli, begitu pun cinta. Hingga Rasul Muhammad salallahu’alaihiwassalam pun tidak akan bergetar hatinya ditawari berbagai harta dan tingginya jabatan. Tidak akan ada yang mampu merusak perasaan cinta pada Rabbnya. Dia hanya punya satu Rabb, tempat bersandarnya.
Tebus setiap kejamnya permusuhan dengan air mata. Sebut di hadapan-Nya apa yang kau minta. Dia tidak akan lengah terhadapmu, sekalipun. Sebab hamba yang beriman tidak akan mungkin Dia sia-siakan.
Dia yang menciptakan segala rencana dengan resikonya. Dia memberi kita pelajaran tanpa kita ketahui. Dia mencintai kita tanpa batas. Tetapi kita kadang terlupa. Kemegahan membuat kita lupa bahwa kita hanya manusia biasa. Kemudahan-kemudahan dalam melakukan setiap hal membuat kita lupa bahwa kita sedang menjalankan rencananya, sehingga ketika kita berhasil kita lupa berterima kasih kepada-Nya.
Aku sudah berjanji untuk menghabiskan air mataku pada sesuatu yang tepat. Karena setiap ada air mata, akan ada tawa menerpa. Aku tahu bahwa setelah hujan di hari ini selesai, akan muncul pelangi parabola di langit tinggi. Kalau tidak, pasti langit akan kembali cerah, tersenyum kepada kita bahwa sendu telah selesai.

  • view 156