Syar(i)at dan Ketentuan Berlaku

Maharevin
Karya Maharevin  Kategori Renungan
dipublikasikan 12 Februari 2018
Syar(i)at dan Ketentuan Berlaku

Bismillah,,

Di dunia ini tidak ada kejadian yang terjadi secara kebetulan. Dari manusia lahir ke bumi, hingga selembar daun jatuh dari rantingnya. Dari pertemuan dengan si-dia atau kecelakaan yang dialami. Semua ada sebab, semua ada alasannya.

Perkara kita bisa memahaminya atau tidak, itu lain soal. Sebab pengetahuan manusia terhadap apa yang terjadi di muka bumi pun ada batasnya. Dan ketika itu terjadi, lisan kita kerap berucap, kebetulan. Padahal tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua ada yang mengatur, semua ada garis skenarionya.

Kiranya kita juga mafhum, apabila kita menginginkan sesuatu harus ada upaya yang kita lakukan untuk mencapai tujuan itu. Ada hal-hal yang harus kita lakukan. Contohnya, Apabila kita lapar, tentu yang harus kita lakukan adalah makan, bukan berdiam diri atau update status. Lapar yang kita rasakan tidak terjadi secara kebetulan, pasti ada sebabnya. Sederhananya, kita lapar karena kita belum makan, maka makanlah dan lapar itu akan hilang.

Namun demikian, lapar akan hilang tatkala kita memakan apa-apa yang memang bisa kita makan dan dicerna oleh perut. Bayangkan, saat kita lapar sementara yang dimakan adalah piringnya, gelasnya, dan sendoknya atau tidak tanggung-tanggung, sekalian dengan katel dan pancinya. Alih-alih kenyang, yang ada kita terbaring di rumah sakit. Atau lebih dari itu, kita terpejam dan tak bangun lagi.

Contoh lain, yang kekinian. Saat kuota internet habis, tentu kita akan membeli pulsa internet atau beli kuota. Ada yang bisa membelinya secara online atau biasanya ke konter pulsa terdekat. Kuota yang kita dapatkan tergantung dari uang yang kita berikan. Kita bisa mendapatkan 4 Gigabyte (GB), 6 GB, 12 GB, hingga puluhan giga sesuai dengan tarif harganya. Belum lagi kalau kita beli paket internet, selalu ada syarat dan ketentuan yang harus kita ikuti. Baru kita bisa memakai internet kembali.

Yah, seperti itu. Sadar tidak sadar, mau tidak mau dengan syarat dan ketentuan tersebut, memang kehidupan sedianya demikian.

Pun kehidupan ini. Kita sama-sama mengerti dan yakin bahwa semua manusia akan menghadapi kematian, lalu berlanjut menapaki episode kehidupan lainnya. Tentu untuk hal sekompleks itu, akan ada syarat dan ketentuannya.

Kita ingin selamat hidup di dunia ini, abadi di syurga, apakah tidak ada syarat dan ketentuan yang harus kita penuhi? Tentu saja ada. Bedanya, yang menentukan semua itu bukan kita, tapi Dia. Zat yang menciptakan aku, kamu, dan kita semua. Dari zaman Nabi Adam As., hingga manusia terakhir yang terlahir ke dunia.

Kalau demikian adanya, mungkinkah syarat dan ketentuan itu hanya berlaku pada satu zaman dan tidak berpengaruh untuk zaman yang lain? Mungkinkah hanya akan ada eksklusifitas pada satu manusia dan tidak untuk manusia setelahnya? Kalau demikian adanya, tentulah tak adil. Tapi Dia mustahil tak adil.

Saudaraku, syarat dan ketentuan untuk masuk syurga tidak pernah berubah dari zaman ke zaman, hingga akhir nanti pun akan sama adanya. Aturan-aturannya terhimpun dalam firman-firmanNya. Taat dan jalankan apa yang difirmankan-Nya. Sebab kita milik Dia, syurga pun demikian.

Syahdan,  syurga hanyalah simbolisasi dari keselamatan. Bagi mereka yang tidak selamat, mereka akan dilemparkan ke dalam api neraka. Perlu ditekankan, orang yang masuk neraka, bukan orang yang tidak paham terhadap firman-Nya, bukan pula yang enggan masuk ke syurga, melainkan orang yang tidak mau mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku itu. Ragam faktor alasannya.

Lalu bukankah lucu, ketika di satu zaman, ada sekelompok golongan kemarin sore menjelang Magrib, tidak mau taat terhadap syarat dan ketentuan yang seharusnya, bahkan membuat syarat dan ketentuan tandingan yang didasarkan pada egonya. Tapi ketika ditanya, sudah meninggal inginnya ke syurga? Berkumpul bersama para Nabi dan Rasul.

 

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah kitab suci [Al-Qur’an], yang Kami jelaskan atas dasar ilmu sebagai petunjuk dan kasih sayang bagi orang-orang yang beriman.”  (Al-A’raf: 52)

 

~Peru, 12/02/2018

  • view 101