Umbu Mada

Mahamida Longso
Karya Mahamida Longso Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Januari 2018
Umbu Mada

                                               

                                                                                                                           UMBU MADA

 

            (awal pertemuan Rambu Lingga dengan pemuda itu di lereng gurung yang terdapat padang sabana yang sangat luas. Rambu Lingga sedang kelelahan mengumpulkan kayu bakar tanpa ia sadari seorang pemuda datang menghampirinya.)

Pemuda                  :Maaf Eri, boleh saya bantu?

Rambu Lingga       :Biar sudah Umbu.

Pemuda                  :Tidak apa-apa Rambu.

(Dengan malu-malu Rambu Lingga menerima bantuan pemuda itu. Dalam perjalanan pulang pemuda itu mengenalkan namanya. Mereka berbincang-bincang hingga tiba di semuah rumah panggung yang mewah.)

Rambu Lingga         : Kerima kasih Umbu atas bantuannya.

Umbu Mada              : Iya, sama-sama Eri.

(setelah kejadian itu mereka sering bertemu dan semakin dekat. Namun Rambu Lingga pun sering di paksa oleh orang tuanya untuk menikah dengan pemuda bangsawan. Rambu Lingga pun putus asa dan pergi bertemu Umbu mada di lereng gunung.)

Rambu Lingga         : Bagaimana kalau kita lari saja dari ini kampung. Saya capek, Mama  dengan Bapa setiap hari hanya marah-marah tidak jelas.

Umbu Mada          : Begitu sudah Eri, mereka yang melamar Eri adalah keluarga maramba sedangkan saya ini dari keluarga mayilla. Kita hanya bisa bersabar saja Eri.

Rambu Lingga         : Apa maksudnya Umbu bersabar, Umbu tidak rasakan apa yang saya rasakan, baik sudah biar saya saja yang pergi. Saya tidak tahan lagi.

                               (kesal dengan tanggapan Umbu Mada)

Umbu Mada           : Maksudnya Eri?

Rambu Lingga       : Kau sama saja dengan mereka, tidak pernah mau mengerti.

(Melihat kekasihnya sangat marah. Umbu Mada pun membuat keputusan, dengan  mantap ia menatap wajah dambaan hatinya.)

Umbu Mada           : Baik. Kita berdua ke Waijelu saja, kebetulan disana saya punya aya juga ada. Nanti malam Eri tunggu saya dipinggir kampung.

(Malam pun semakin gelap. Umbu Mada mulai risau karena Rambu Lingga yang belum juga tiba. Namun tak lama kemudia Rambu Lingga pun muncul.)

Rambu Lingga       : Umbu lariiii...lariiii Umbu, (teriaknya lantang)

(Umbu Mada pun menarik Rambu Lingga naik ke atas kuda dan memacu kudanya dengan sangat cepat, mereka pun lolos dari kejaran para pemuda kampung itu. Melihat Rambu Lingga menangis Umbu Mada pun menghentikan kudanya, tangisan kekasihnya membuatnya khawatir.)

Rambu lingga      : Tidak apa-apa Umbu, saya ingat Mama dengan Bapa saja Umbu.

Umbu Mada        : lalu bagaimana sekarang?,

Rambu Lingga     : Apa yang bagaimana Umbu. Kita harus lanjutkan ini perjalanan, (diam sejenak) Lagi pula tidak mungkin juga kita pulang sekarang, ada saatnya kita pulang lagi ke kampung itu Umbu.

(mereka pun tiba di sebuah perkampungan yang sangat ramai namun suasananya cukup damai. Umbu Mada dan Rambu Lingga pun langsung menuju sebuah rumah sederhana.)

Umbu Mada        : Maafkan saya Aya. Saya datang tiba-tiba tidak memberitahu Aya terlebih dalulu.

( melihat gadis cantik jelita itu, sang kakak pun menarik Umbu Mada keluar rumah.)

Laki-laki              : Na kawinni, siapa dia Umbu?.

Umbu Mada        : Dia Rambu Lingga. Perempuan yang saya suka Aya. Saya sangat mencintainya, tetapi orang tuanya tidak setuju, karena itu kami lari kesini. (berbisik)

Laki-laki              : Bagaimana kalau orang tuanya datang mencarinya kesini?

Umbu Mada        : Mereka tidak mungkin tahu aya kalau kami ada disini.

Laki-laki              : Bagaimana pun kalian harus hati-hati Umbu. Mereka Maramba, pasti mampu berbuat apa saja.

Umbu Mada        :  Baik aya.

(Setelah beberapa saat Umbu Mada dan kakaknya berbincang-bincang tiba-tiba muncul dua orang laki-laki berbadan besar yang disusul oleh orang tua Rambu Lingga untuk mengepung mereka. Umbu Mada berusaha mendekati Rambu Lingga, namun tiba-tiba pemuda-pemuda kampung itu mengeluarkan parang sambil menghalangi Umbu Mada.)

(Setelah kejadian itu para pemuda kaya menghadiri pengadilan kampung untuk mengadili Umbu Mada. Sesepuh kampung memberikan hukuman agar Umbu Mada pun dibuang didalam hutan larangan. Mendengar hal itu Rambu Lingga pun menangis tersedu-sedu, ia berusaha melepaskan ikatan pada kedua tangannya. Namun mereka pun terus meminta Rambu Lingga untuk memilih laki-laki terhormat untuk menjadi suaminya.)

Rambu Lingga     : Saya tidak mau Ama, saya hanya akan menikah dengan Umbu Mada.  Tidak ada seorang pun yang berhak menikahi saya. Tidak.

Sesepuh               : Tidak! Kau Rambu, mau tidak mau kau harus menikah dengan salah satu dari mereka, kau tidak punya pilihan Rambu. Kau tetap harus melakukannya. (dengan suara lantang sambil menunjuk pemuda pemuda kaya)

Rambu Lingga     : Saya tidak mau. Saya hanya akan menikah dengan Umbu Mada. Saya tidak akan menikah dengan siapapun selain Umbu Mada.

Sesepuh               : Ini perintah! Kau harus menurut.

(Rambu lingga pun semakin marah. Dengan suara yang sangat keras ia pun berteriak dengan lantang mengucapkan sumpahnya.)

Rambu Lingga     : Oh Tuhan sang pemilik tanah yang ku pijak, demi langit yang Engkau jadikan atapku, dan demi petir sang penopang leluhur. Kalau saya tidak bisa menikah dengan Umbu Mada, maka saya bersumpah saya akan mati bersama petir yang menyambar. (teriaknya sambil menahan tangis)

(Tiba-tiba suara keras memecah angkasa, suara gemuruh disertai petir membuat semua orang mulai ketakutan, Rambu Lingga jatuh tersungkur dan pemuda-pemuda kampung mencoba mendekatinya.)

Umbu Mada        : Tidak ada yang boleh menyentuhnya.

Sesepuh               : Diam kau. (menunjuk Umbu Mada)

(Umbu Mada yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya dapat melihat kekasihnya penuh kesedihan.)

Sesepuh               : Rambu, segera kau pilih siapa diantara mereka yang akan kau jadikan Suami? Bila tidak. Maka akan saya perintahkan untuk membunuh Umbu Mada.

Rambu Lingga     : Baiklah kalian yang memaksa.

(tanpa perduli dengan ancama para sesepuh, Rambu Lingga pun berdoa.)

Rambu Lingga     : Untukmu wahai Tuhan Yang Maha Besar. Dengarlah doaku hamba ciptaanMu, biarkanlah saya  hancur dari muka bumi ini. Semua cinta yang saya punya hanya untuk Umbu Mada seorang. Maka dengan ini saya Rambu Lingga memintaMu wahai Sang Pencipta, penguasa langit dan bumi, pelindung parah leluhur. Saya minta dengan kesungguhan hati untuk lebur dari bumi ini. Ya Tuhan hancur leburkan bumi ini.

(Rambu Lingga pun membenturkan kepalanya tiga kali ke tanah dengan berurai air mata. Seketika suara petir yang sangat besar menyambar tubuh Rambu Lingga dan menghancurkannya berkeping-keping. Kepingan tubuh itu menjadi sangat harum dan terbang terbawa angin.)

       (Sedangkan Umbu Mada di buang ke dalam hutan larangan. Hari demi hari Umbu Mada hanya menangis dalam hutan itu karena merindukan kekasihnya. Sampai akhirnya ia meninggal dalam hutan larangan itu.)

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                              SELESAI

                                                           

  • view 56