Kematian Ilmiah

Dwi Novi Antari
Karya Dwi Novi Antari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Agustus 2017
Kematian Ilmiah

Dua gadis berpakaian putih di laboratorium kampus nampak saling berpandangan. Tajam. Suasananya mengental, menguap bersama aroma bahan-bahan kimia. Lima menit, sepuluh menit, detik-detik bahkan sudah menyatu hingga lima belas menit berlalu.
“Hentikan! Kita tak kan berhasil.” Seorang yang mengenakkan kacamata angkat bicara, geram pada hening yang tak berkesudahan.
“Ayolah, kita baru memulainya Nik.” Ucap gadis berjilbab jingga disebelahnya dengan memelas.
Nampak si gadis berkacamata itu membuang napas panjang, mengabaikan tapi tak melawan. Sedang dara jelita disampingnya masih saja sibuk mengamati tabung-tabung reaksi yang berjajar, matanya penuh harap.
 
Sebuah gunting dan alat-alat bedah perlahan didekatkan Nikta kepada temannya itu, ia dengan binar tak yakin namun penuh harap seperti rekannya, semoga dapat segera menyelesaikan semuanya malam ini juga. Tabung-tabung reaksi yang sedang dipandangi mereka perlahan berubah warna dan perlahan sedikit asap keluar. Detik itu juga binar rona wajah kedua gadis itu berseri. Sedikit lagi, pikir mereka senada. 
 
Nggiiiik... Ngiiiiik...
 
Bunyi dencitan pintu tua terbuka sempurna membuat binar kedua sahabat itu berubah, seketika sorot matanya menjadi waspada, perlahan kengerian mejalar pada keadaan Laboratorium. Lampu salah satu ruang kelas di koridor depan Laboraturium tiba-tiba berkilat-kilat. Padam seketika dan kemudian hidup lagi dengan nyala benderang, begitu terus berulang. Mencekam.
“Ay.. Ayyasa. Aku mulai merasa ada hawa tak baik disini.” lirih Si Gadis Berkaca mata berujar dan dengan cepat meraih lengan Ayyasa, Gadis berjilbab disampingnya.
“Hawa itu baik, bahkan ia terlahir sebagai jodoh Adam, Aku juga...”
“Ayolah Asa, jangan melucu disaat seperti ini, sejak tadi aku sudah merinding. Aku yakin ini...” Setelah memotong ucapan Ayyasa kini gadis dengan gengaman erat lengan temannya itu memejamkan matanya dalam-dalam.
“Iya, aku juga merasa ada yang mengawasi kita, sebaiknya kita lekas pulang saja Nik, kau siap menerjang lorong tengah itu Nik.”
 
Ah, dengan nada keluh Ayyasa juga ragu apa dia berani berlari melewati lorong pemisah bangunan Fakultas MIPA dan FKIP itu, lorong yang disebut-sebut tempat paling angker bersebelahan dengan Fakultas Fisika. 
 
“Nik.. Nikta, apa kau mendengarku?” 
Ayyasa dengan muka pias melirik rekan yang mengandenginya, Nikta terpejam namun ia terlihat penuh anggukan. Rasa takut memenuhi keduannya. Bersiap, mereka akan segera meninggalkan tempat yang sudah tak bersahabat ini.
 
Langkah keluh perlahan terayun menuju pintu besar, pintu untuk keluar dari Laboratorium. Ayyasa berada di depan Nikta, mengendap-ngendap dengan ragu seperti pencuri yang yang sedang menghindari pengejaran, suasana berubah tegang. Tangan berkuku orange milik Ayyasa berhasil meraih gagang pintu besar, lalu menutupnya perlahan.
 
Dalam hitunganan ketiga langkah yang semula perlahan kini menjadi larian kecil. Melewati ruang-ruang biologi, bangku-bangku berjejera rapi dalam kegelapan menambah ketakutan dua gadis yang kini berlari. Ruang kelas fisika yang dari tadi mengedipkan lampu sekarang akan mereka lewati, Nikta yang semula memandang langkah lari kakinya kini mengarahkan pandang pada ruang itu.
 
“Ayyasaaa it.. itu...” suara pelan yang putus. 
Nikta kini memimpin lari. Kencang sekali, ia juga lekas mengandeng tangan Ayyasa bukan lagi lenggannya. Gandengan yang teramat kuat, membuat Ayyasa kengiluan. Sesuatu dari tangan berwarna kuning langsat itu terjatuh. Lari Nikta semakin cepat. Kilasan lampu yang terang-redup di ruang yang baru mereka lewati membuat mata Nikta menangkap bayangan sesuatu. Melayang atau bahkan terbang di udara. Nikta tau itu, pasti tak salah lagi. Ia teramat yakin pada bayangan yang seperti ingin meraih lampu, itu yang membuatnya terang-redup. Barangkali begitu, pikir Nikta. Mereka harus menjauh, tepatnya pergi dari ruang Fakultas Fisika ini.
 
Krrreeek. 
 
Kali ini dencitan gerbang di ujung lorong. Menghentikan lari kedua gadis yang nafasnya tersenggal-senggal, tatapan mereka lebih keluh dibanding saat berada di Laboratoarium. 
 
Nikta pasrah, menangis lirih. Sempurna sudah ia duduk bersimpuh di lorong tanpa lampu. Hanya ada dua pilihan: kembali atau membuka gerbang lorong yang terkunci gembok besar. Nikta tau kedua pilihan itu tak ada yang bisa mereka pilih sebagai jalan keluar. Ayyasa hanya berdiri beku, memandang tajam gembok besar pada gerbang. 
“Ini karena kau, sudah kubilang.. ah kau itu selalu saja tak pernah mendengarku.” Keluh Nikta pada Gadis yang mematung dihadapanya.
 
Tak ada balasan, Gadis yang disalahkan itu malah makin tajam menatap gembok di ujung lorong. Pandangan tajam yang janggal, mata Ayyasa biasanya selalu berbinar riang. 
“Asa apa kau tak mendengarku? kita bahkan sekarang terjebak pada adegan paling tidak manusiawi. Aku ingin pulang Asa, Aku takuu... Aaaaaaaa” Tangan kaku milik Nikta menutupi seluruh raut mukanya, tak sempat ia menutup kalimatnya untuk Ayyasa. 
 
Detak jantung Ayyasa terpompa cepat, teriakan Nikta membuatnya ingin memalingkan muka, melihat apa yang membuat Nikta menutup matanya. Berat sekali, rangsangan otak kepada saraf di lehernya diabaikan oleh rasa takut yang menjalar. Perlahan ia harus memastikan. Dipalingkan badannya sedikit. Siluet gelap dari arah Fakultas Kimia, ruang paling ujung setelah Fakultas Biologi. Jauh sekali, terlihat kecil. Nafas Ayyasa terasa berat, ia lalu menghirup udara dari hidung dengan keras-keras.
 
“Ayyasa, aku ingin pulang, Ayyasaaa...” Nikta menagis ketakutan.
“Aku juga ingin pulang Nik, aku juga ...” Ayyasa ikut bersimpuh dan segera memeluk Nikta, mereka ketakutan. Memejamkan mata dan pasrah membiarkan apapun yang terjadi. Menunggu bayangan hitam itu mendekat, apapun yang terjadi mereka sudah tak sanggup melawan.
“Asa, maafkan aku. Jika saja aku memperhatikan serius reaktor larutan yang kita buat dan membantumu membedahnya dengan baik mungkin kita tidak akan mendapat nilai jelek.” Nikta berucap lirih seperti berbisik lalu memeluk Ayyasa dengan mata masih terpejam.
“Sudahlah, ini salahku yang terlalu ambisius pada nilai Prof dan tidak bersyukur pada nilai yang ada.” Ayyasa menahan nafas, haru pada dirinya sendiri.
 
“Kita akan mati konyol karena kodok.” Nikta bergetar, ketakutan sudah memenuhi tubuhnya.
“Kita tidak akan mati, atau jika mati, kita akan mati dengan ilmiah. Dua mahasiswa berseragam laboratorium ditemukan terbujur kaku di Fakultas MIPA. Itu tidak terlalu buruk kan Nik?” penjelasan Ayyasa membuat Nikta semakin ngeri. Mereka seketika tertawa kecut.
 
Siluet bayangan gelap itu berjalan lurus, tarikan nafas yang berbunyi keras dan irama langkah tegas menyatu. Nikta dan Ayyasa berpelukan kuat, mereka merasakan detak jantung yang sama-sama semakin cepat.
Mendekat, sudah dekat. Langkah banyangan gelap itu sudah dekat. Kali ini Ayyasa merasa menjadi pemeran utama sebuah film horor, ah bahkan ia tak pernah menyukai film horor yang muatannya horornya tak lebih banyak dari adegan yang membuat gadis seperti Ayyasa meradang. 
 
“Aaaaaaa....” Nikta yang sudah membuka mata gemetar berteriak tak karuan.
Bayangan itu merendah, masih samar terlihat, sinar lampu tak meyentuh lorong. Dekat sekali bayangan itu seperti ingin menerkam. Kita akan berakhir Ayyasa, pikir Nikta panik.
“Hei.. Apa ini milikmu?” Suara serak seorang lelaki memecahkan kekalutan kedua gadis dihadapannya.
“Ka.. kau siapa?” Ayyasa membuka mata perlahan, terbata-bata bertanya.
“Jo, Johanda Wikoco, aku Mahasiswa Fisika. Haha, kalian nampak ketakutan. Ini milikmu nona?” Jo mengangkat sebuah gelang berwarna kuning menyala dihadapan kedua gadis yang menarik nafas perlahan. Lega.
Ayyasa meraih gelangnya dari tangan Jo. Gelang itu terjatuh saat Nikta mengenggam erat tangannya untuk lekas berlari tadi. Jo ikut duduk di lorong menjelaskan mengapa ia ada disini, ternyata sama seperti mereka. Untuk sebuah percobaan. Jika Ayyasa dan Nikta berada di Laboratorium untuk mencoba mengulang praktek pembedahan kodok yang gagal dilakukan saat ujian kelas. Jo berada di kelas fisika untuk mencoba eksperimennya tentang elemen listrik. Itu mengapa lampu di ruang fisika mati dan hidup kembali.
 
Jo membutuhkan beberapa larutan untuk ia uji coba dengan peralatan kelistrikannya tadi, itu juga mengapa ia terlihat dari arah ruang kimia. Dan Jo juga tidak sedang sendiri, ia bersama seorang satpam muda yang bekerja dishift malam kampus ini. Satpam muda yang mungkin mengunci lorong disisi mereka duduk sekarang. 
 
“Dimana Satpam itu?” tanya Ayyasa cemas. Satpam muda yang selalu melarang Ayyasa dan Nikta memasuki bangunan MIPA. Dengan jalan rahasialah mereka bisa berada disini sekarang.
“Entahlah, mungkin sedang berkeliling. Bagaimana kalian bisa berada disi.. ” Pandangan mata Jo beralih pada ruang yang tiba-tiba memercikkan suara keras seperti pecahan kaca berulang. Ia seketika berdiri dan berlari kearah suara, diikuti kedua gadis yang masih saja berpelukan.
Di depan ruang kimia, seorang laki-laki berseragam putih dan biru kelabu terbujur kaku mengenggam senter yang masih mengeluarkan cahaya. Jo sudah mendekat, memandang kelu kematian satpam muda yang baru saja mereka bicarakan. Banyak tabung kimia yang pecah diantara tubuh kecil laki-laki berusia 18 tahun itu. Gigi Jo bergemerutuk. Antara amarah atau ketakuakan.
 
“Lari, cepat larii. Jauhi ruang ini.” Jo berteriak pada dua gadis yang berada dihadapannya.
Tanpa banyak melihat ke arah belakang, mereka berlari. Nikta dan Ayyasa semakin tak mengerti.
Kembali terduduk di lorong ujung ruang Fakultas Fisika. Ayyasa mulai ingin mencerca Jo dengan puluhan pertanyaan, ia sungguh tak paham apapun. Nikta sudah gemetar dan keringat dingin keluar dari celah kulit wajahnya yang coklat pucat. Jo duduk di sebelah Nikta dekat dengan ujung gerbang yang masih tergembok sedang Ayyasa tepat di pinggir muka lorong. 
 
“Jo, apa kau tau sesuatu?.” Tanya Ayyasa bergemuruh.
“Entahlah, hanya saja satpam itu bilang untuk berhati-hati. Malam ini katanya seseorang akan jadi bahan percobaan tepat sepeti dua tahun lalu.” Jelas Jo dengan napas berat.
“Percobaan apa? Dua tahun lalu?” mata tajam Ayyasa kembali aktif.
“Entahlah, aku juga tak tau.” Jo medekap kakinya yang tertekuk perlahan.
“Jo, jelaskanlah.” Ayyasa mulai meradang.
“Dua tahun lalu, Ayah satpam muda itu juga mati di kampus ini. Katanya ini adalah kutukan Laboratorium, malam ini malam Jumat nona. Dan sekarang tepat di hari dan waktu yang sama seperti kematian Ayahnya, ia hanya ingin tau. Entahlah aku tak paham kutukan ataupun makhluk yang ia selalu sebut-sebut itu.”  Jo membuka dekapan pada kakinya perlahan.
Suasana malam makin mencekam, sejak bunyi pecahan gelas kimia pada tubuh Satpam muda itu, semua lampu di Fakultas MIPA padam. Nikta yang mulai menenangkan diri perlahan menegakkan duduknya. Ayyasa hanya memandang Jo yang mulai tak nyaman.
 
“Jo, apa kita akan mati konyol disini.” Nikta bertanya lirih pada Jo.
“Entahlah, paling tidak kita akan mati dengan ilmiah. Tiga mahasiswa Fakultas MIPA berseragam Laboratorium ditemukan mati diantara serpihan tabung reaksi, bukankah itu tidak terlalu buruk nona-nona?” Jo mengulurkan senyumnya, pias tak bernilai senang.
 
Nikta seketika melirik Jo dan berpaling pada wajah nanar Ayyasa. Kata-kata yang tulus, bernada sama dan senyum yang penuh tanya setelahnya. Malam hanya bersuara sunyi tak lagi mencekam, sudah padam semua kengerian dan mungkin ini pertanda baik, kalian berjodoh kawan, pikir Nikta perlahan.
 

  • view 32