Menyamakan Frekuensi Jilid 3

Dwi Novi Antari
Karya Dwi Novi Antari Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Agustus 2017
Menyamakan Frekuensi Jilid 3

Kepada, lagi-lagi, sahabat terbaikku yang dengan berdarah-darah rasa sakit hati bercerita panjang tentang sepenggal kisah. Oh bukan, mungkin hanya sedikit kekecewaan, ya kekecewaan dengan klaim tanpa sebab jelas, atas sebuah pernikahan sakral milik seseorang.

Jangan pikir jika sahabatku ini adalah tokoh dalam sebuah cerita cinta komplek dengan perebutan status dinikahi, haha bukan. Ini hanya sebuah kekecewaan tanpa klaim yang jelas. Barangkali tulisan ini bisa meredakan sikap ‘aneh’ yang sahabatku miliki.

Mengidolakan seseorang dengan banyak prestasi dunia dan populer adalah lumrah dilakukan perempuan. Bukankah perempuan adalah makhluk dengan perasaan yang berlebih-lebih? Gerbang kagum mudah sekali terbuka. Sungguh sangat mudah membuka hati pada pesona lawan jenis yang berderet-deret karya atau segala kegiatan-kegiatannya tersebar di media sosial yang bisa dibaca secara bebas. Akses menuju segala detail yang dimiliki seseorang tidak lagi dihalangi privasi, sebab kadang dia sendiri yang menyediakan detail dirinya di akun-akun media sosial yang dimiliki.

Maka kisah kekecewaan ini dimulai dari kebiasaan sahabatku dalam membaca, sayang sungguh sayang yang ia baca adalah berbagai detail seseorang dengan kepopuleran di media sosial. Kalau kamu baca tulisan ini, semoga esok kamu sudah berganti, bacanya buku bacaan ya dear. Sebenarnya dalam dua tulisan dengan judul yang sama sudah terurai beberapa kekecewaannya, tapi kali ini mari akhiri.

Dalam ceritanya, lelaki yang memenangkan semua kriteria mempesona dalam daftar yang ia miliki akan segera menikah. Sekali lagi, akses untuk mengetahui hal semacam ini sangat mudah dari orang yang sangat populer atau yang hobi menebar segala kegiatannya di sosial media. Iya kan mudah?

Dalam kesadaran yang ia punya, sering kali sudah terucap betapa tidak mungkin adanya hubungan saling kenal antara ia dan si lelaki idola. Sebenarnya dalam hal ini, ada rasa kurang sependapat, tau bagaimana kerja jodoh? Dalam pengibaratan yang umum didendangkan, adalah kisah garam di laut dan sayur di kebun yang bertemu bertemu di dapur dan sungguh pengibaratan ini banyak diyakini banyak orang, termasuk kamu kan? Barangkali ia lupa. Tapi itu lebih baik daripada ia percaya pada pepatah itu dan menunggu-nunggu momentum bertemu, itu akan lebih sulit mengakhiri ‘kisah’ ini.

Dalam imajinasi yang ia bangun sendiri, hadir banyak kesemogaan, bukan tentang dia yang menjadi pengantin sang idola di pelaminan, bukan. Tentang kesemogaan kriteria pengantin perempuan yang sudah ia eja dalam imajinya. Sebab ‘seolah-olah’ dalam banyak hal yang ia hanya ketahui lewat sosial media cukup mendeskripsikan jelas karakter sang idola, dan dengan hebatnya dalam pikirannya membangun kecocokan dengan perempuan pendamping sang lelaki yang ia kagumi dalam imajinya. Aneh memang, tapi sepertinya ini kebenaran umum yang dimiliki seorang perempuan yang begitu perasa, “rasanya kok cocok sama yang kayak gini ya” lalu sederet kriteria perempuan hadir. Ah ya dasar perempuan. Soal ini sungguh bukan sebuah penilaian fisik dari pandangan atau perbandingan dengan diri, hati perempuan pun masih bening, ini hanya tentang rasanya. Sekali lagi, aneh memang soal ini, dasar perempuan.

Maka ketika identitas sang perempuan yang akan dinikahi terkuak, sekali lagi yang lagi-lagi ah, dengan mudah ini dilakukan sebab akses di akun media sosial sangat terbuka, betapa ia menghancurkan dirinya sendiri karena kekecewaan atas kriteria yang ia bangun dalam imajinya.

Ya, ini adalah kisah kekecewaan soal klaim yang ‘aneh’ soal pernikahan seseorang, ia tak patah hati karena bukan ia yang bersanding di pelaminan. Jika itu yang terjadi, sungguh sangat bersedia aku mengantarnya pergi untuk rukhiyah. Tapi sejak awal dalam kesadaran penuh, ia sudah membangun keyakinan bahwa ia tak bisa bersanding, tapi ia sungguh hancur sebab imaji yang ia punya.

Tidak pernah menjadi ampuh saat memberi saran pada seseorang yang jatuh cinta atau patah hati. Sebab seberapa banyak saran yang didapat, hatinya tetap akan memilih jalannya sendiri untuk sembuh atau terus terluka.

Lewat tulisan ini, hanya ingin mengisahkan barangkali ada yang sering dan sedang melakukan hal yang sama. Ambil pelajarannya, sudah jelas tersurat kan?

Tegaklah, sebagaimana tegaknya bunga matahari. Tunggu sampai sinar mataharimu datang, jangan bersedih saat tak kau lihat gemintang di langit, sebab kau sungguh tak butuh mereka. Dan kau kadang harus tak perduli tentang warna atau rupa bunga lain, bunga matahari pun indah dengan kesederhanaannya. Berhentilah menyamakan frekuensi, sebab kau akan dipasangkan dengan yang saling mengisi, bukan sama frekuensinya.

Februari 2017.

 

  • view 27