Menyamakan Frekuensi Jilid 2

Dwi Novi Antari
Karya Dwi Novi Antari Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Agustus 2017
Menyamakan Frekuensi Jilid 2

Kepada sahabatku yang dulu sering melontarkan dua kata menyebalkan; menyamakan frekuensi. Mari lihat hari-hari ini, kalimat kebangganmu itu tak lagi ada dalam percakapan kita. Bahkan untuk satu atau dua kesempatan rasa-rasanya sudah hilang, kau tau apa sebabnya?

Kau, perempuan yang selalu menderingkan handphoneku di setiap waktu, dalam tuturmu kini tak ada decap kagum berlebih. Barangkali, saat ini kau menemukan apa yang telah menjadi kepentinganmu, mengindahkan dirimu dengan potensimu, juga telah mengenal arti kata menyibukkan diri. Ya, kau menemukan dirimu. Sedang dahulu, kau masih sibuk mengeja.

Beberapa penulis muda yang baru kau baca karyanya membuatmu merona, “Mbak, ini aku banget,” ujarmu disela menunjuk-nunjuk bab di buku yang kau baca. Lalu di lain waktu, kau melipat wajah tak jelas, soal penulis buku yang kau baca itu. Hanya sebab satu-dua junior atau temanmu ikut berderet membaca dan memuji penulis yang sama. Patah hatimu. Pada bagian ini, aku tak turut berduka, malah bergembira. Kau bisa bayangkan? Untuk buku-buku yang kubaca, jika aku serupamu, aku akan patah berulang dan berhenti membaca. Soal penulis roman yang sudah tutup usia, atau yang telah menikah muda, atau yang sudah beranak dua, haha. Menyedihkan memang jadi pembaca yang penuh harap.

Kau juga, si penyuka leader dengan tampang mempesona, bagian ini aku harus menggeleng. Tak habis pikir. Jadilah yang tak mudah silau oleh ia yang memukau, sebab pasti tak hanya dirimu yang mendambanya. Ada yang diam-diam, sepertimu dan lebih banyak yang terang-terangan. Kau selalu mematahkan hatimu setelah tau betapa banyak barisan pengemar yang menjadi sainganmu. Baiklah, tak apa menggagumi orang hebat, tapi dalam hematku, cukup itu menjadi inspirasi agar lebih baik, bukan menjelma ‘serupa’ atau untuk 'menyamakan frekuesi’, itu hal paling menyebalkan.

Tentang kau, sahabat taatku, dalam setiap curahan hatimu saat ada di hadapanku. Aku selalu percaya, kau akan dibersamai oleh orang yang bisa melihat cantikmu, pontensimu, hingga kebaikan hatimu dengan hatinya, dan bukan ia yang coba kau samai dalam frekuensinya. Bukan tak mendoakan apa yang sempat menjadi ingimu, tapi… seperti di tulisan sebelumnya dengan judul yang sama, sudah kuuraikan, bahwa akan lebih indah menyebutnya dengan bersinergi, daripada dua katamu itu; menyamakan frekuensi. Aku tak perlu lagi memasang muka abai saat kau menyebut satu-satu penulis yang baru kau baca tulisannya dulu, sebab kini ceritamu berbeda.

Hanya soal dunia yang kaupilih sebagai kesibukanmu. Jangan risaukan frekuensi, tak ada yang akan peduli, sebab kelak akan ada yang melihatmu dengan hati.

Oktober 2016.

 

  • view 36