Menyamakan Frekuensi Jilid 1

Dwi Novi Antari
Karya Dwi Novi Antari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Agustus 2017
Menyamakan Frekuensi Jilid 1

Menyamakan Frekuensi, adalah dua kata menyebalkan.

Kepada sahabatku, yang tempo hari ingin dituliskan sesuatu. Maka, inilah tulisan untukmu. Dua kata ini selalu kau ulang, sampai aku hafal. Bukan sebab dua kata ini mudah diingat, sebab aku akan mendengar ulangan kisahmu tetang beberapa orang yang detail frekuensinya ingin kau ikuti.

Biar ku katakan, dua katamu itu sungguh sangat menyebalkan. Kenapa? Kau atau biar lebih tak seperti menuduhmu, sebut saja: kita.

Kita tak perlu bersusah payah menyamakan apapun dari orang lain, sekalipun hanya soal frekuensi. Kau tau apa arti frekuensi? Yang jelas didalamnya ada kata putaran dan waktu.

Sungguh akan sangat merepotkan menyamai seseorang dalam hal yang dipengaruhi putaran dan waktu, sebab selain harus menyamakan, kita juga harus tau sejauh apa dan sebanyak apa putaran dan waktu yang telah ia habiskan dalam banyak hal yang ingin kita samakan. Ini berarti waktu yang akan kita gunakan untuk kesamaan frekuensi akan sangat lama.

Maka, sungguh dua kata yang kau sering ucapkan itu sangat menyebalkan. Jangan bersusah payah menyamakan diri dengan seseorang yang kita kagumi, seperti sekarang, kau terlihat lelah dan bahkan menyerah.

Menurutku, kita cukup dengan melejitkan apa-apa yang jadi potensi kita, nikmati jadi diri, dan lakukan sesuatu karena kita suka bukan karena dia. Sebab kita, barangkali tidak akan disandingkan dengan orang yang kita samai frekuensinya, tapi kita akan dipasangkan dengan orang yang bisa saling sinergi dengan kita.

Hei, bukankah itu lebih indah, bicara soal sinergi daripada frekuensi? Dan dari beberapa buku yang kubaca, pasangan itu bukan yang saling sama dalam banyak hal, tapi yang dari banyak perbedaan malah disatukan untuk saling mengisi.

Ingat kata seseorang yang sama-sama kita sudah baca bukunya dengan uraian air mata, Abinya Karel, kata beliau, menggenaplah karena mengharap keberkahan Allah. Cukup sampai pada kata keberkahannya Allah kita berharap soal pasangan, daripada repot dengan menghitungi berbagai ukuran frekuensi berbeda.

Berhentilah patah hati karena tak sama frekuensi, berhentilah patah hati sebab seseorang yang diam-diam kau kagumi membuatmu menghela nafas karena jarak jauh yang kau asumsikan.

November 2015.

 

 

  • view 42