Keindahan di Jalanan

Dwi Novi Antari
Karya Dwi Novi Antari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 September 2016
Keindahan di Jalanan

Tidak benar jika keindahan hanya bisa ditemui di antara hijau pegunungan, atau pantulan biru di lautan. Jika diresapi, keindahan ada di sekitar kita. Bahkan di antara bising kendaraan atau riuh keramaian. 

Semisal pagi ini, saat menyusuri satu gang dengan berjalan agak lambat, kudapati seorang bapak mendorong gerobak. Aku memilih untuk semakin melambat, bermaksud mempersilahkan, ia tak membaca pertanda yang kuberikan. Gerobaknya malah berhenti, ia juga mempersilahkan. Maka, kugegaskan langkah, lalu berhenti dan memandanginya, berniat pula untuk mendekat. Tapi, si bapak mendorong kencang gerobaknya di atas jalanan yang lumayan sedikit berantakan. Suara kencangnya tak mau kalah beradu , "Allah". Satu kata, tapi cukup untuk membuatku kagum. 

Atau, pada satu waktu saat tapak kaki berhenti di salah satu daerah dengan reog sebagai dutanya. Di sisi jalan saat sedang kebingungan , datang seorang bapak. Peluit dan rombi jingganya cukup untuk menebak siapa dia. Dengan bahasa Jawa dan senyum terbaik, ia menawarkan diri membantu. Di antarakannya aku ke kantor yang lebih layak untuk diberi banyak pertanyaan ketimbang dirinya. Ia mengantarkanku ke kantor polisi lalu lintas. Tak habis disini, di pinggir jalanan, sang polisi menawarkan seseorang untuk mengantar ke tempat tujuan. Ramah sekali ia menjelaskan kisahku, gadis sebatang kara yang mencari alamat saudara yang lebih dari 17 tahun tak ia jumpai. Jawa Timur jadi saksi, soal sinergitas keindahan di jalanan.

Setelah usai dari bapak berseragam biru muda agak kelam, aku berganti berada di salah satu sisi mobil milik pedagang gordeng. Ia yang dengan berbaik hati mengantarkanku sampai ke alamat yang tak pernah kukira bisa kudatangi seorang diri demi janji kepada Ibunda.

Petuah Ayahanda, di jalanan selama kita memiliki niat baik, akan selalu ada pula orang baik yang membersamai. Sebagaimana pernah sebelumnya kubuktikan, pulang ke rumah dari ranah rantau dengan sebuah tumpangan dari bapak pengemudi truck dari sebrang pulau. Tebakan Ayanda, ia pasti juga seorang ayah dari anak perempuan seusiaku. 

Kejadian-kejadian sederhana itu kusebut keindahan jalanan. Hal yang membuat hati tersengat. Mendapati pelajaran lalu berkaca diri. Hal sederhana di jalanan sering kali yang luput untuk diilhami. 

 

Pada sapaan ramah orang-orang, senyum balasan dari ibu bapak tak dikenal, atau satu dua kejadian yang tak terduga tapi mengagumkan.

 

Aku selalu suka jalanan, begitu pula pada berjalan kaki. Di antara lalu-lalang kendaraan, ada ketulusan milik si pengayuh becak. Di antara ribut klakson kendaraan, ada keramahan milik penambal ban di pinggiran jalan. 

Jadi, kenapa kita sering menginginkan liburan dengan hijau dan biru yang terhampar? Jika di sela jalanan ada semangat yang mengobati? 

Maka, kita butuh lebih dari sekedar mata yang melihat, bukan?

  • view 383