Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 21 Juli 2017   12:10 WIB
Memburu Cahaya

 

Aku telah menggambar setiap mendung yang hitam

Mendung yang mengembalikan aku pada kegelapan

Mendung yang akan memulangkanku

Pada ruang yang tak ingin ku singgahi

Yang membawa aku pada ketakutan

Hempasan angin yang mengerikan

Memadu dengan pasti

Aku mencoba untuk menyembunyikan gelap

Pada engkau, dia dan siapapun

Meskipun kita dipertemukan pada langit yang sama

Aku tahu engkau akan terus memburunya dari cakrawala ke cakrawala

Lalu engkau kirimkan mendung-mendung itu pada ku

Aku terus berangkat dari terang menyongsong gelap

Pada tiang-tiang hatiku yang lebam sewarna lembayung

Dan mengertikah engkau semua ini?

Disaat aku datang untuk pertama kalinya

Setelah engkau mengabadikan malammu

Setelah engkau mencambuk tubuhmu dengan doa

Setelah senyummu mendiskusikan matahari

Kita diam tanpa bahasa

Diam seakan berebut langit

Langit yang akan menjadi tempat kebebasan untuk terbang

Terbang dilangit kebahagiaan

Langit yang seharusnya bisa dibagi baik-baik

Detik demi detik roda semakin berputar tanpa sudut

Membuat aku semakin paham

Terasa sekali engkau menjauhi ku

Diammu terang-terang membakar sayapku

Terlebih tirai yang selama ini kau tutup rapat

Bersama dusta yang ku percayai

Kini siapa yang mendustai kecuali dirimu

Engkau tahu betul cara menyakiti hatiku

Perkenalan kita yang lalu tersimpan rapi dibawah debu

Serapi kita yang begitu kusam kebenarannya

Sampai aku yakin kalau debu adalah bagian dari kita

Sekarang terbanglah sebebas mungkin

Berbahagialah sebahagia mungkin

Dan tenanglah

Aku akan terbang pula memburu cahaya

Seperti Laron terbang memburu lentera

Karena aku tengah muak pada dusta yang kadung aku percayai

Aku si penulis puisi tengah berangkat menjemput gelap

Dan engkau si pemeran sakti sedang pulang menyongsong terang

 

Karya : Maftuh el_Hasanah