Ada cinta di Bangunan tak berkaca

Maftuh el_Hasanah
Karya Maftuh el_Hasanah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Maret 2017
Ada cinta di Bangunan tak berkaca

Langit terselimuti awan mendung setelah sekian hari latar-latar halaman haus akan cucuran air hujan, Juni yang sedang santai diatas kursi bambu menyaksikan teman-teman sebayanya bermain sepak bola, entah mengapa Juni enggan ikut bermain padahal biasanya dia yang paling semangat bermain bola dan sekarang dia hanya termenung sendiri dengan kaki sebelah kanan dilipat dilutut sebelah kirinya, sambil memegangi sebuah gitar dan perlahan-lahan memetik senarnya tanpa tuk menyanyikan lagu-lagu dunia. “kamu kenapa Jun tampak lesu begitu ? gegana yah?” Fahmi berbisik menggoda Fahmi salah satu teman sekolahnya yang sedang ingin mengganggu Juni, suaranya hingga memecahkan sebuah lamunannya, sedangkan Juni hanya diam dalam kagetnya. Fahmi yang merasa aneh dengan kelakuan sahabatnya itu hanya bisa menebak-nebak keadaan Juni, meski rasa khawatir mengelabuhi hati Fahmi, tak lama kemudian Fahmi beranjak pergi sambil menatap Juni yang masih asyik terdiam. Akhirnya Fahmi memilih untuk mengisi perutnya yang sedang keroncongan, dia masuk ke dalam kantin salah satu milih sekolahnya, yang sudah bertahun-tahun berjualan diarea sekolahnya itu. Ibu Ismawati yang sudah beranak dua ini seperti ibu para siswa yang mana ibu Ismawati sangat baik dan sering memberikan hutang kepada para siswa ketika tanggal tua. “Bu’ pesan gado-gado yang seperti biasanya yah?” tutur Fahmi “Oke Fahmi, tanpa micin dan gak terlalu pedas kan?” Ucapnya sambil menebarkan senyum kepada Fahmi tanda bahwa ibu Ismawati mengerti. Setelah Fahmi merasa benar-benar kenyang ia langsung beranjak pergi untuk menonton pertandingan sepak bola. Keesokan harinya setelah detik-detik ujian mulai terciumi seperti biasa para siswa mulai berkumpulan tuk belajar bersama atau menghafal pelajaran yang perlu dihafalkan, dan tak jarang disetiap sudut-sudut ruangan para siswa bertaburan. Ujian akhir sekolah ini mulai berjalan dengan lancar, di suatu malam Juni dan Fahmi sedang iseng menelusuri area-area ruang ujian, Juni tersenyum sembari melihat salah satu bangku milik Meesya anak kelas b2, tak lama kemudian Juni menghampiri Fahmi yang sedang beerdiri tegak didepan pintu sambil membaca daftar nama dan tata tertib ujian akhir sekolah. “Fahmi kamu bawa pena gak?” Ia menghampiri Fahmi dengan nada pelan. “Bawa, kenapa emangnya?” “Sini dunk aku pinjam!” pinta Juni sambil menodongkan tangan kanannya kepada Fahmi, tak lama kemudian Juni masuk kembali ke kelas b2 dan meletakkan selembar kertas putih dan lusung. Melihat perilaku Juni, Fahmi pun masuk untuk memastikan apa yang sedang dilakukan temannya tersebut, lalu setelah ia mengetahuinya Fahmi langsung tersenyum dan mulai mengerti tingkah laku Juni yang sejak kemaren selalu menyendiri. “Eh Jun, ayo kita pergi entar kita ketahuan pak satpam lo!” Tuturnya keesokan harinya sebelum bel ujian terdengar Juni sedang berdiri dipinggir jendela gedung sebelah karena kebetulan ruang ujian terbagi menjadi empat gedung, dan setiap ruangan terdiri dari dua puluh peserta ujian. Meesya tampak khusyuk belajar sambil berjalan menuju ruang ujiannya. Setelah bel tanda ujian akan dimulai Meesya terkejut melihat kertas putih yang ditemukannya. “ semangat ya! Jangan lupa baca doa sebelum mengerjakan soal ujian”.  #Juni :* Meesya tersenyum membaca tulisan tersebut sambil membolak-balik kertas yang tak menarik tersebut. Setelah ujian selesai ia sengaja memperlambat diri untuk keluar ruangan tak berkaca tersebut, karena ia masih berfikiran tentang kertas putih yang di tulis Juni untuknya, mereka telah lama saling mengenal dan tak jarang pula mereka saling berkomunikasi akan tetapi rasa aneh terus mengelilingi ruangan tersebut hingga tak dapat membendung pikir Meesya. Kali ini Meesya serasa ingin menemui Juni yang seharian pula tak terlihat di area sekolah. Meesya tampak bingung dan kali ini ia memutuskan untuk membalas surat Juni. “Kobarkan semangat tuk menghadapi ujian yang selanjutnya!” Nb: hadapi semua dengan cinta karena dengan adanya cinta semua akan terasa mudah. ##### Fahmi kali ini tampak gembira karena liburan akhir sekolah akan segera dirasakannya, ia punya banyak planning untuk mengisi hari liburnya dan semua itu telah ia siapkan jauh-jauh sebelumnya, tempat yang sangat ingin ia datangi adalah kota Bali, keindahan dan kealamiannya masih sangat kental sekali sehingga tak jarang pula para wisatawan-wisatawan ketagihan untuk menikmati keindahan kota tersebut yakni diantaranya para turis-turis luar negeri. Kali ini Fahmi tak hanya sendiri untuk pergi ke kota Bali ia ditemani oleh salah satu teman akrabnya yaitu Reyhan. Mereka berdua memang tak bisa diragukan lagi atas kegirangannya untuk berlibur karena,mereka sangat menyukai traveling. “Fahmi mumpung besok hari minggu kita ke pasar senggol yuk?” ajaknya “Boleh tuh, emang kamu tahu jalannya?” “Tahulah, tempat itu gak jauh kok dari sini Cuma karena besok itu hari minggu jadi kita mending jalan kaki aja, soalnya jalanan bakalan macet dan itu sangat memakan waktu.” “Okay lah besok kita pagi-pagi sekali harus sudah pada bangun.” “Iya dunk pastinya!” Reyhan tampak girang sekali dan dihari pertama mereka menginjakkan kakinya di kota Bali mereka hanya menghabiskan waktu malamnya untuk beristirahat. ##### Juni tampak senang mendapat balasan surat dari Meesya, akan tetapi Juni tertegun membaca akhir kalimat yang tertera di dalam surat tersebut. Dengan segera Juni memencet tombol handphonenya dan menelpon Meesya. “Halo! Meesya….” “Iya Juni ada apa?” “Ada sesuatu yang ingin aku katakan ke kamu.” Jawabnya dengan gugup “Silahkan! Emang tentang apa sih kayak yang serius banget? Tumben!” Ucapknya heran “Kenapa kamu ngirim surat seperti itu?” “Loh! Kenapa emangnya? Ada yang salahkah?” “Nggg….akk salah sih. Cuma sebenarnya cinta yang selama ini yang ku rasakan tak seindah senyum yang telah kamu berikan ke aku..” “Hah! Maksud kamu apaan Jun? a aaaku gak paham maksud kamu?” “Sebenarnya gini, aku tuh gak suka sama cewekku.” “Hah! Kok bisa gitu?” Meesya semakin heran dengan pernyataan Juni dan semakin penasaran karena perilaku temannya ini. Meesya tanpa berkedip menatap keluasan langit, ia berharap kali ini bintang-bintang dapat memecahkan lamunannya, fikirannya terus berkecamuk, dalam benaknya ia terasa heran dengan pernyataan Juni, entah senang atau bahagia yang Meesya rasakan. Yang menjadikannya bahagia adalah kabar hatinya bahwa seseorang yang selama ini menjadi teman dalam kosongnya waktu bahkan hatinya telah lama pula menyimpan rasa suka terhadapnya, namun disisi lain ia tak mampu berkata-kata karena Juni telah memiliki seseorang kekasih. “Juni, teruslah bersamanya, yakinlah bahwa cinta akan hadir karena sering bersama” “Enggak Sya, ragaku memang bersamanya akan tetapi jiwaku selalu bersamamu” “Itu sekarang, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi esok dengan dirimu Jun” “Meesya, cinta itu tak bisa dicampuri dengan nafsu” Kata-kata itu terus berada dalam lamunannya, hingga tanpa sadar jam dinding menunjukkan pukul 13.30 wib, Meesya menutup jendela kamarnya dan mulai menutup mata yang telah berjam-jam tak beristirahat. Seharian ia habiskan waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya. Sekilas canda tawa mereka menghapuskan peristiwa yang hampir membuat Meesya semalaman tak bisa tidur. Hari demi hari Meesya lalui tanpa adanya kabar dari Juni, mungkin ini adalah waktu yang telah diberikan Tuhan untuk Meesya menenangkan diri, sehingga Meesya sedikit lupa akan bayang-bayang bahasa Juni. Suatu ketika Juni menghubungi Meesya, namun kali ini percakapan yang kemaren menjadi hilang seketika, dan Juni hanya banyak menceritakan tentang kekasihnya sedangkan Meesya hanya bisa mengikuti alur ceritanya. ##### “Aku janji bakal segera mutusin dia hanya untukmu” ujarnya meyakinkan Meesya “Loh! Aku gak mau kamu mutusin dia hanya karena aku” jelasnya “Iya, aku tahu, ini adalah kata hatiku sendiri, aku sayang ke kamu dan begitu pula dengan kamu kan Sya” “Oke, Oke! Aku memang sayang ke kamu tapi ini adalah jalanku dan aku tak pernah memintamu untuk mutusin dia, aku seorang wanita dan begitu pula dengan dia, aku tahu bagaimana sakitnya dia ketika dia tahu bahwa kamu tak mencintainya” Juni terus memaksakan dirinya untuk meyakinkan Meesya, hingga ia sering mengirimkan pesannya dengan kekasihnya yang hampir berada di ujung tanduk, Meesya hanya terdiam melihat kenyataan yang ia mainkan, Meesya telah terperangkap dalam skenario itu, ia pasrah hingga semua keputusan ia serahkan kepada Juni. Suatu ketika Juni mengatakan bahwa ia telah memutuskan hubungannya dengan kekasihnya, dan Juni mulai fokus dalam menyongsong masa depannya. Semakin hari Juni dan Meesya semakin dekat hingga keduanya dikabarkan memiliki hubungan oleh teman-teman sejawatnya. Beberapa bulan kemudian menjelang liburan kedekatan mereka semakin renggang oleh kesibukan mereka masing-masing. “Akhir-akhir ini aku sering mimpi aneh” curhatnya kepada Juni “Mimpi apa emangnya” tanyanya penasaran “Aku bermimpi kamu berdiri didepan kelas dengan memakai baju putih dan celana hitam, sedangkan didalam kelas ada mantan kekasihmu bersama teman-temannya, aneh! Aku tak tahu apa maksud dari mimpi tersebut” “Ya sudah kalau begitu lupakan aku Sya” “Hah? Begitukah?” tanyanya heran “Iya Sya, melihatmu aku terasa sakit karena aku sadar aku telah banyak menyakitimu, aku ingin aku berjalan tanpa ada rasa beban dipundakku, aku ingin hidup dikelilingi dengan orang-orang asing, aku ingin fokus dengan cita-citaku” jelasnya Meesya hanya bisa terdiam tanpa bahasa, ia lebih banyak mengisi hari-harinya dengan menyendiri, segala yang berkecamuk didadanya terasa enggan untuk pergi dan ia merasa bahwa selama ini ia telah salah melakonkan permainan yang diciptakan oleh Juni. Kisah yang ia miliki sungguh sesingkat mungkin, kini penyesalan selalu menjadi teman dalam hari-harinya. Sulit bagi Meesya untuk melupakan Juni, berbagai cara ia lakukan untuk dapat membencinya. “Sudah tak usah pikirkan dia, dari dulu aku sering mengingatkanmu, cowok kayak dia tak pantas mendapat ketulusan hatimu Sya” Ucap Meera yang sedang duduk bersamanya didepan taman mesjid sekolah, Meera adalah salah satu teman sekolahnya yang paling dekat dengannya, tak jarang mereka saling menceritakan peristiwa mereka masing-masing. “Apa arti dari semua perhatian dan pengorbanannya untukku selama ini Meer? Kamu tahu bangetkan bagaimana dia ke aku?” ungkapnya sambil mengusap airmata yang tak mampu ia bendung. “Iya aku tahu semuanya Sya, tapi harus kamu ketahui bahwa semua orang bisa melakukan apa yang dilakukan Juni terhadapmu, kamu pun juga bisa melakukannya hanya saja kamu tak ditakdirkan untuk itu.” Jelasnya Meera berusaha untuk mengetuk hati Meesya yang terus saja memikirkan Juni, berbulan-bulan lamanya Meesya tak bisa move-on dari Juni hingga semangatnya terpatahkan oleh pikirannya sendiri.

  • view 79