Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 17 Januari 2018   11:16 WIB
JADI, (SI)APA YANG SALAH?

"Gimana sih pendidikan Indonesia ini, kok begini-begini aja.”

“Ribet!”

“Terlalu bertele-tele dan penuh intrik pemerintah!”

“Gurunya juga masa seringkali lebih subjektif.”

“Malahan ada guru yang mau aja di ganti nilainya pakai materi.”

“Seringnya ngasih tugas doang, ya. Mentang-mentang ada kebijakan guru sekarang perannya lebih banyak sebagai fasilitator.”

“Ya.. Mereka hanya mengejar status sosial tanpa memperhatikan tanggung jawab sebenarnya apa.”

            Begitu, kan, yang sangat sering kita dengar di kalangan masyarakat? Opini-opini yang selalu mengangkat kesalahan pihak eksternal dari anak didik. Sedangkan, pihak internal dari anak didik seperti orang tua dan keluarga serig kali tidak terlalu menjadi sorotan. Lagi-lagi sistem pendidikan, aturan sekolah, dan pribadi guru sebagai pendidik yang menjadi bahan untuk disalahkan.

            Untuk sebuah perubahan, cobalah kita memperhatikan terlebih dahulu apa yang lebih dekat dengan lingkungan pribadi kita sebelum mencari pembenaran dengan mengorbankan pihak jauh untuk dikambing hitamkan. Saya punya sedikit cerita yang memang benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi. Saya menceritakan pengalaman ini hanya bertujuan agar kita bisa sama-sama mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah yang saya ceritakan. Sama sekali saya tidak berniat untuk menyudutkan pihak mana pun dan untuk itu saya akan sebut saja tokoh-tokoh dalam cerita saya dengan nama-nama yang bukan nama sebenarnya.

            Sejak awal tahun 2017, saya mencoba meluangkan waktu di luar jadwal kuliah saya dengan mengajar les privat yang sesuai dengan materi yang sedang saya dalami di peerkuliahan, yaitu Bahasa Inggris. Saya berharap bisa mendapatkan sedikit tambahan uang saku untuk kebutuhan sehari-hari di rantauan dan kebetulan saya memang cukup senang terhadap dunia pendidikan dan awalnya saya mencoba dengan seringnya melakukan kelompok belajar bersama dengan teman-teman di kampus saya. Sampai akhirnya ada satu teman sekelas yang meminta saya untuk membantunya mejadi tutor untuk adiknya yang akan mengikuti ujian masuk untuk PTN. Setelah menetapkan jadwal pertemuan, lama pertemuan, dan salary, akhirnya kami deal dan saya anggap bahwa adik teman saya ini, sebut saja sebagai Boby, sebagai the first student. Setelah kurang lebih tiga bulan saya menjadi tutor untuk Boby, tanpa sengaja saya menemukan iklan lowongan kerja untuk posisi asisten paruh waktu di suatu lembaga kursus Bahasa Inggris dan Matematika di papan iklan lowonga kerja kampus. Tanpa berpikir panjang saya langsung membuat surat lamaran dan CV lalu meminta teman saya untuk mengantar sambil mencari alamat. Setelah menjalani tes tulis dan interview jadilah saya bekerja paruh waktu di sana. Saat itu benar-benar menjadi awal untuk saya belajar dan mengaplikasikan teori-teori tentang cara mendidik, mulai dari belajar basa-basi dengan anak kecil karena kebetulan di tempat kursus tersebut, sebut saja lembaga ABCD, mayoritas muridnya adalah anak-anak 4 tahun sampai SD. Kemudian saya juga belajar bagaimana sabarnya memberitahu anak kecil ketika mereka bertanya, belajar memilih kosa kata terbaik yang paling mudah untuk dipahami. Dan ya! Memang paling utama yang saya pelajari di sana adalah tentang kesabaran. Serius! SABAR.

            Sistem pengajaran dengan semi privat dengan rata-rata peserta didik adalah pasangan kakak beradik yang otomatis memberikan peluang bagi saya untuk bisa mengenal karakter setiap satu persatu pasangan kakak beradik, bahkan setiap anak. Ada satu anak perempuan kelas enam SD yang benar-benar bisa membuat kita para asisten dan pembimbing berdecak kagum karena kecepatan daya tangkapnya dan mampu mengerjakan sepuluh lembar soal untuk level pertengahan akhir dalam setengah jam saja! Padahal kebanyakan anak hanya mampu lima lembar dalam 45-50 menit, KEREN kan? Ada lagi anak yang dari awal saya berada di sana sudah di level itu dan sampai sekarang saya mau satu tahun di sana masih saja di level itu. Ada juga yang selalu saja tidak pernah mengerjakan PR dan saat mengerjakan latihan di kelas pun bisa 90 menit untuk 10 lembar level awal, bahkan setelah selama itu masih memerlukan perbaikan karena banyak kesalahan. Okay, biar gak kemana-mana ceritanya, jadi saya mau cerita tentang anak ini.

            Sebut saja anaknya sebagai Okan. Di hari pertama saya bekerja, saya disodori setumpuk soal-soal latihan yang harus diperiksa. Setelah banyak yang saya periksa akhirnya tibalah saya harus memeriksa soal dengan nama Okan. Saya bergumam dalam hati wah namanya lucu. Tapi, ketika saya buka itu soal, saya rasanya ingin membatalkan niat untuk memeriksanya saja dan meminta asisten lain saja yang memeriksanya. Saya tak sanggup membacanya. Kalian tahu? Tulisannya sangat sangat berantakan dan jawabannya benar-benar tak ada yang tepat satu pun! Ada banyak halaman nomor soal yang tidak diisi juga dan banyak gambar-gambar hasil karya imajinasi Okan di setiap lembarnya. Akhirnya saya memanggil Ibu pimpinan, saya bilang “Bu, ini bagaimana?” dan si Ibu malah tertawa sebentar lalu rautnya jadi ikut jadi suram juga. Beliau menjawab “Udah buang aja, biasa Okan mah begitu.” Saya bengong sebentar lalu balik ke meja lagi. Menjelang sore, Okan datang! Pada First impression, siapa pun akan mengatakan dia lucu. Karena memang lucu banget ya ampuuun. Putih, gembil, mata bulat, rambut bule, dan ceriwis. Tapi, ketika mendampinginya belajar, semua itu akan hilang dengan makian dalam hati. Aslinya, deh.

            “Okan mana PR-nya?” Tanya saya.

            “Ini” Okan menyodorkan PR-nya dengan wajah polos.

            TADA! Semua kertas soal PR Okan masih putih suci nan bersih tiada terkira.

            Saat itu juga aku langsung menyerahkan Okan dan PR-nya yang bersih pada chief  saya saja karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Sedangkan dari sebelumnya saya hanya menangani anak-anak rajin. Berlanjut beberapa bulan kemudian saya masih paruh waktu di lembaga ABCD tersebut dan Okan masih selalu begitu. Tidak mengerjakan PR dan lama mengerjakan latihan di kelas. Padahal Ibu pimpinan sudah mencoba membicarakannya dengan orang tua Okan, tapi tetap saja Okan tidak ada kemajuan. Kejutan lagi, Okan sekarang tidak sendiri karena adiknya ikut belajar di ABCD juga. Sebut saja Enjel. Enjel lucu juga tapi tidak seputih Okan. Dia rajin dan selalu banyak bertanya.

            Enjel yang masih TK selalu bertanya tentang banyak hal karena saya pun saat seumuran dia memang selalu penasaran tentang segala sesuatu. Tiga bulan pertama Enjel sangat menyenangkan. Sampai tiba di bulan keempat, Enjel mulai tidak kondusif belajar di kelasnya, dan dia masih mengerjakan PR. Tapi, PR-nya bolong-bolong. Di bulan kelima lebih parah lagi, dia benar-benar jadi Okan junior, kebiasaannya sama persis. Lalu, akhirnya saya mendapat informasi dari chief saya tentang keluarga Okan. Jadi, Okan ini anak kesatu dan punya dua adik yaitu Enjel dan satu adik lagi yang belum saya tahu. Okan ikut berbagai les di luar sekolahnya juga ternyata. Ada les piano, ada les matematika, dan les-les lain selain les Bahasa Inggris di ABCD, sampai-sampai waktunya selama satu minggu benar-benar habis untuk belajar saja dan hampir setiap hari sampai di rumah jam setengah sembilan malam. Sedangkan dia mulai keluar dari rumah dari jam ENAM PAGI. Papanya sibuk bekerja dan Mamanya sibuk dengan urusan pribadinya. Sering saya dengar cerita dari Okan kalau Mamanya lagi keluar kota, pernah juga dengar kalo Mamanya lagi ke Jepang. Awalnya saya kira itu untuk bekerja. Tapi ternyata pergi-pergian Mamanya itu untuk belanja dengan teman-temannya.

            “Okan sama Papa aja dong di rumah?” Tanya saya suatu hari saat Okan cerita tentang Mamanya yang lagi ke Jepang.

            “Ada Mbak kok. Okan juga suka ngerjain PR sama Mbak. ”

            Chief  saya pernah cerita juga kalau Okan udah lelah, Mbaknya yang suka ngerjain PR-nya. Jadi jangan heran kalau tulisannya beda-beda dan ada jawaban yang ngasal.

            “Ngapain les di sini dong, Teh kalo begitu?” Tanya saya saat itu.

            Si Teteh Chief cuma mengedikkan bahu sambil senyum kecut.

            Saya sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk kerja paruh waktu di lembaga kursus ABCD itu. Saya benar-benar mendapat banyak hal. Tak perlu ditanya berapa penghasilan yang saya dapat. Tapi, pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran untuk kehidupan dan masa depan saya sangat tidak sebanding dengan penghasilan tersebut. Terlalu jomplang kalau harus dibandingkan. Belum tentu saya dapat pengalaman negitu jika saya hanya bekerja paruh waktu di tempat lain. Dari cerita Okan dan Enjel tadi, saya benar-benar menjadikannya renungan. Sebagus apa pun sistem yang diterapkan di tempat sekolah formal atau informal, jika keadaan di rumah tidak mengkondisikan anak-anak dengan perhatian dan pendampingan lengkap dari orang tua, maka tidak ada jaminan bahwa hasil dari sistem sekolah akan sesuai dengan yag diekspektasikan. Karena apalah daya beberapa gelintir guru yang harus memperhatikan puluhan bahkan ratusan anak. Sedangkan orang tua di rumah hanya punya tanggung jawab untuk memperhatikan paling banyak 4 atau 5 dan 6 anak saja. Saya benar-benar ikut menyesalkan Okan dan Enjel yang hanya diserahkan pengasuhannya pada Mbak pengasuh, Ibu dan Bapak Guru di sekolah, dan juga para tutor di tempat kursus. Saya tidak mempermasalahkan tentang Okan yang punya banyak agenda les setiap harinya, bahkan selalu pulang lebih malam dibanding pekerja kantoran dan para PNS. Namun, yang menjadi renungan saya, andaikan Papa dan Mama Okan saling bekerja sama dan membuat komitemen untuk mendampingi anak-anaknya di rumah.bayangkan saja, Okan selalu dibiarkan mendapatkan PR-nya tiba-tiba sudah selesai dikerjakan oleh Mbaknya. Karakter apa yang akan terbentuk pada diri Okan saat besar nanti? Enjel yang awalnya selalu ceria dan semangat belajar Bahasa Inggris juga rajin mengerjakan setiap soal latihan yang diberikan tiba-tiba setiap harinya didapati bahwa semangatnya menurun, PR-nya tidak lagi dikerjakan dan bisa jadi dia pun menunggu PR-nya akan dikerjakan oleh Mbak seperti PR kakaknya. Asumsi saya, mungkin Enjel jadi begitu karena di saat dia sedang merasa penuh semangat dan ketertarikan pada apa yang baru dipelajarinya, dia tidak mendapati orang yang bisa dia ajak bercerita tentang semenarik apa waktu yang telah dia lewati setiap dia belajar di kelas Bahasa Inggris ABCD atau mengerjkan PR-nya di rumah. Saya tahu sekali rasanya jadi Enjel bagaimana, karena saya juga pernah mengalami situasi seperti itu.

Ini baru tentang dua anak yang saya tahu secara langsung. Bayakangkan jika ada banyak orang tua yang bertindak seperti orang tua Okan dan Enjel di Negara kita ini. Apa jadinya anak-anak lucu itu di masa mendatang? Benarkah sistem pendidikan di sekolah yang salah? Jika ya begitu, sudah saja anak-anak tidak perlu dibiarkan bersekolah. Karena nyatanya setelah belajar banyak mata pelajaran di sekolah pun, anak-anak masih harus ikut les ini itu yang kebanyakan masih berkaitan dengan pelajaran sekolahnya. Untuk apa dong kalau begitu memasukkan anak ke sekolah-sekolah yang dianggap terbaik, sekolah yang dianggap terfavorit, bahkan ke sekolah yang mahal? Semoga cerita saya ini bisa menjadi inspirasi untuk pembaca yang sudah menjadi orang tua agar mengubah pola asuh jika memang terlanjur melakukan hal yang sama. Dan untuk pembaca yang masih sebgai calon orang tua bisa segera melakukan perencanaan apa yang harus dilakukan bersama suami nanti. Dan untuk pembaca yang belum menikah, bersyukurlah bisa menemukan cerita ini sebelum menikah, biar nanti bisa jadi istri atau suami dan menjadi orang tua yang mendampingi anak-anak juga keluarganya dengan baik :)

 

Karya : Maesa Septia