Belajar Sepanjang Hidup

Irma Permatasari
Karya Irma Permatasari Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 September 2016
Belajar Sepanjang Hidup

Fa-inna ma'al'usri yusraa

Hampir setiap pagi aku mendengar lantunan ayat-ayat surat pendek dari kamar itu. Menyimak diam-diam seseorang yang sedang berusaha untuk menghafalkan dan berlatih membacakan surat pendek dengan sedikit bernada.

“Abah lagi ngafalin surat?”

“Iya, lagi ngelancarin nih, biar ga malu kalo nanti di masjid diminta jadi imam, suratnya ga itu-itu aja.”

“Oh gitu, emang abah pernah di minta jadi imam?

“pernah, pas pak Ustad sakit.

“Aku aja susah buat ngafalin surat”

“bukan susah tapi males”

Aku jadi teringat saat lelaki setengah baya itu pertama kali belajar mengumandangkan adzan di masjid, tiap hari aku selalu mendengar beliau berlatih, layaknya seorang anak TPA yang akan mengikuti ujian. Namun ternyata gugup menguasainya saat itu, yang mengakibatkan ada satu lafadz adzan yang tertinggal. Namun kejadian itu tak membuatnya menyerah untuk mencoba lagi, hingga kini suara adzan beliau selalu terdengar merdu.

Itulah hidup, kita memang akan selalu di tuntut untuk belajar dan akan selalu dihadapkan dengan kegagalan. Entah belajar ilmu dunia, ilmu agama maupun ilmu bersosialisasi. Belajar untuk menguasai emosi, belajar untuk bersabar, belajar untuk mengalah, belajar untuk berbagi. Itu semua takkan lepas dari kehidupan kita sehari-hari.

Begitupun masalah umur, tak ada batasan umur untuk belajar, baik muda maupun tua. Semua orang bisa asalkan mereka mau berusaha. Setidaknya itulah yang aku pelajari hari itu, seseorang yang selalu memberikan banyak pelajaran sekaligus ikut belajar. Sesorang yang tak pernah memaksa tapi selalu memberikan panutan. Seseorang yang selalu mencoba membawa keluarga kecilnya berjalan menapaki Jannah.

“Yuk mulai sekarang kita sama-sama belajar, mumpumg teteh masih muda jangan putus asa. Abah aja nyesel kenapa dulu pas muda males-malesan belajar agama, tapi ga pernah ada kata terlambat buat belajar. Kita berjalan Sehidup Sesurga sama-sama, makanya mulai sekarang jangan maen teruuuus”.

“iih nyindiiiirr"

"Ih siapa yang nyindir, itu mah teteh aja yang ngerasa berarti. Menuntut ilmu itu engga kenal umur, ga kenal waktu. Abah pengen keluarga kita nanti di pertemukan lagi di Surga. Yuks ngafalin."

"Siap laksanakan kapten” ujarku sambil mengangkat tangan memberi hormat dan memeluk tubuh hangat itu.

Matahari pun terlihat bersemangat naik lebih tinggi, Jangan kalah semangat dari matahari ya. selamat belajar sepanjang hidup :)

  • view 292