Hujan, Rindu, Apalagi

Wurdiyah Nur Madura
Karya Wurdiyah Nur Madura  Kategori Project
dipublikasikan 20 Januari 2018
H+

H+


(se)buah catatan harian 717. Proyek ini sempurna. Isinya manis semua. Mustahil! Tidak mustahil, sebab aib dan kekurangan rumahtangga cukup disimpan berdua.

Kategori Petualangan

733 Hak Cipta Terlindungi
Hujan, Rindu, Apalagi

Hujan selalu berhasil mengkristalkan pembatas rindu, mengikatnya menjadi kian cantik nan syahdu untuk semakin dirayu.

 

Suamiku... Tentang hujan. Aku jatuh cinta kepadamu waktu itu. "Jadi, istrimu ini jatuh cinta cuma karena itu, waktu itu?" Tidak, bukan begitu. Istrimu ini jatuh cinta kepadamu di banyak waktu dengan banyak karenamu.

 

Tidak sekali dua kali kamu menanyaiku kenapa aku bersedia menikah denganmu. Selepas mengkhitbahku kamu cukup kerap bertanya perihal itu. Entah karena ada yang kamu ragukan dariku, atau kamu sedang berusaha meyakinkan dirimu.

 

Aku tidak punya banyak jawaban sebelum ijabmu terqabul di hadapan penghulu, sebelum aku sah sebagai istrimu. Tapi, aku sempat mengatakan waktu itu, "Nanti ya, kalau sudah halal, aku usahakan setiap hari memberi tahumu kenapa aku mencintaimu."

 

Saat ini, saat di luar pasukan hujan turun mengeroyok rindu, aku teringat kita di hari itu... Saat kita terjebak hujan lepas dari tol Suramadu.

 

"Neduh ya...," ajakmu

 

Aku menolak

 

"Kita belum pernah kehujanan berdua," jawabku mengisyaratkan kita lanjutkan saja perjalanan dengan sepeda motor kesayangan Bapak Mertuaku itu.

 

Kamu tidak menolak, tapi ternyata kemudian menggerutu saat kita berdua malam harinya terkena flu.

 

"Kita belum pernah flu berdua ya...," ucapmu dengan tatapan protes menirukan gaya bicaraku sore tadi itu.

 

"Ih maksudnya apa. Mau bilang kita flu gara-gara aku nggak mau diajak neduh gitu? Kan aku nggak maksa, neduh ya ayo. Aku tadi cuma bilang gitu, Sayang yang lanjut jalan," spontanku membela diri kulihat tatapanmu macam itu.

 

Wajahmu tampak serius malam itu, yang justru mengundang tawaku. Ya, aku tertawa melihatmu.

 

"Jangan ketawa," perintahmu.

 

Duh, mulai menyeramkan deh Kamuku.

 

"Yawdah deh aku nggak ketawa, peluk-peluk aja boleh? Nanti aku sayang-sayang biar anget perasannya, jadi flunya pergi deh..."

 

Eh tatapanmu makin menggebu, tapi makin lucu buatku. Tawa kitapun ikut lepas bersama pelukan yang merdu. Ah... Aku mencintaimu (salah satunya) karena itu, waktu itu.

  • view 43