Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 1 Januari 2018   08:34 WIB
Sepotong.4

...tentang kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Saw, katamu"Itu Nabi, mana ada zaman sekarang manusia super baik seperti itu?"
 
Begini... Itu kalimat pesimis. Pesimisme adalah polusi pikiran. Ia mendestruksi pikiran kita untuk terbiasa, mafhum, dan maklum terhadap kebobrokan-kebobrokan yang terjadi di sekitar, tidak percaya pada potensi-potensi, kemungkinan-kemungkinan kebaikan yang memang masih nyata ada. Setiap ada sesuatu yang menurut kita terlalu berbeda dengan yang biasa dilihat, spontan dikatakan mustahil. Misal, zaman sekarang seolah hal yang biasa jika laki-laki berselingkuh. Sehingga, saat nampak ada laki-laki yang terlihat berbeda, setia, spontan didogma bahwa itu kebohongan, dikatakan tidak mungkin. 
 
Padahal, selalu tersedia dua sisi. Kita bisa memilih untuk melihat, menikmati, dan memperjuangkan sisi yang satu atau sisi lainnya. 
 
Di antara banyaknya wanita yang bangga menjadi pelakor, ada, tidak sedikit, banyak wanita sholehah yang setia sama imannya, menjaga diri, dan hanya menyerahkan diri kepada yang berhak atasnya. 
 
Di antara ributnya kasus laki-laki mendua, berbohong, selingkuh, tidak setia, zalim kepada keluarga, ada banyak laki-laki jantan yang menundukkan pandangannya dari yang haram, menjaga harga diri dan kehormatannya, melindungi keluarganya dari azab kemaksiatan, memenuhi kewajibannya atas amanah Allah berupa istri, melindungi lahir batinnya. 
 
Di antara sengaknya aroma kebrutalan pemuda zaman sekarang, ada banyak pemuda lainnya yang berprestasi, gemilang dengan karya, tumbuh keren mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
 
Dan untuk hal apapun lainnya, sungguh selalu ada dua sisi. Bahkan sekalipun segala sesuatu di dunia ini, di sekitar kita rusak moral seluruhnya, masih ada kamu! Kamu yang jika memilih masih tetap setia berusaha menjadi orang baik, maka dunia ini masih memiliki sesuatu yang baik. Jika kamu menyerah, menerima, memaklumi semua kerusakan di sekitarmu, akhirnya kamu tenggelam turut menjadi bagian dari kerusakan itu, maka selesai sudah. Dunia sepenuhnya rusak.
 
"Itu Nabi, mustahil zaman sekarang ada yang bisa seperti Nabi". 
 
Allah tidak menyuruh kita untuk menjadi Nabi, dan tentu kita tidak bisa menjadi Nabi. Tapi, kewajiban kita bukan menjadi Nabi, kewajiban kita adalah berusaha, berjuang sesuai ajaran Nabi. Kebaikan bukan soal siapa menang siapa kalah, tapi siapa yang mau berjuang. Kalau sudah berjuang apa pasti menang? Tidak. Lalu, jika sudah berjuang tapi tidak menang apakah kemudian kebaikan usahanya sia-sia di hadapan Allah? Tidak. 
 
Yang fatal adalah jika kita menyerah sebelum berperang. Meleburkan diri kepada segala sesuatu yang dianggap wajar oleh zaman. Sekali lagi, kita memang tidak bisa menjadi Nabi. Tapi kita bisa berjuang menjalani hidup sesuai perintah Allah yang diajarkan melalui tuntunan para Nabi.
 
Baik buruk hidup kita dimulai sejak dari alam prasangka kita. Dan, bukankah "Allah sesuai dengan prasangka hambaNya" ?
 
Tulisan ini hanya ikhtiar "Waa tawaa shaubil haqqi wa tawaa shaubish shabr (saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran)" (Q S Al 'Asr [103]:3) Kenapa? Karena kita saling mmencintai, sebagai saudara seiman juga sesama manusia.

Karya : Wurdiyah Nur Madura