Kamu

Wurdiyah Nur Madura
Karya Wurdiyah Nur Madura  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 September 2016
Kamu

Malam ini ada yang iseng serius bertanya, “Kepada laki-laki seperti apa kamu akan jatuh cinta?”

“Hhhmmmm… Kepada laki-laki yang suara mengajinya mencongkel daki hatiku. Kepada laki-laki yang karenanya aku akan menulis bait-bait berikut ini Hahahahaa..."

Selamat malam wahai tuan
Tuan suara yang karenanya aku menjelajah
Tuan suara yang bahkan membuat pencarianku jengah
Tuan suara yang aku paksa keyakinan diri tetap terasah

Selamat malam wahai tuan
Malam tak pernah senikmat ini
Tak pernah sekhidmat ini
Tak pernah selumat ini
Bahkan aku curigai memang tak kan pernah begini

Selamat malam wahai tuan
Bukan karena merdu suaramu
Bukan karena syahdu nadamu
Bukan karena adu vibramu
Tapi karena semuamu aku rindu

Rasa yang begitu saja, seolah ia sederhana
Ini memang tidak sederhana
Megah dalam dada, hanya begitu adanya dalam kata
Semua yang bisa kunyatakan, hanyalah paksaan dari sekecil-kecilnya usahaku menjabarkan

“Jadi, kamu hanya akan menikah dengan laki-laki yang suara mengajinya enak?” sergahnya.

“O tidak. Menikah dan jatuh cinta itu berbeda. Kalau menikah, hhhmmmm… Asal dia laki-laki, hidup, sehat, dan agamanya baik bagiku sudah cukup. Lagi pula inti dari oretan yang kalau boleh disebut puisi itu tadi, inti dari bagusnya mengajinya seorang muslim, bukan sekadar urusan suara, tapi asal ilmu amal dan amal ilmunya bisa menggandengku untuk menjadi agen muslim yang lebih baik, naahhh itu, iya itu…”

“Cirinya?” masih penasaran ternyata ini orang.

“Ya minimal sholatnya ada bekasnya,” jawabku.

“Titik hitam di keningnya seperti dipatok ular?” reaksinya menggebu.

“Hahahahahaa… Kamu ini niat betul menghiburku. Jangan melawak. Bekas sholat tidak sebercanda itu. Bekas sholat yang kumaksud ya jika sholat 5 waktunya membekas pada tindak-tanduk kesehariannya. Inti orang sholat 5 waktu itu kan berarti muslim yang baik. Muslim yang baik kan berarti lembut hatinya. Ciri lembut hati itu sederhana, misal; ada anak-anak jualan keliling ya dibeli dagangannya syukur-syukur diborong dan dilebihkan bayarnya.”

“O… Jadi, itu maksudmu menodongku memborong kacang goreng anak laki-laki di perempatan jalan waktu itu?”

“Wahahahaahahaaa… Beda pembahasan ini kali. Padahal waktu itu aku cuma bercanda, eh kamu seriusin. Jadi nggak ikhlas? Wah rugi kamu. Udah keluar duit, pahala juga diragukan kalau gini ini hahahaha… Nggak usah dijawab lagi, aku cuma bercanda. Aku percaya kamu ikhlas.”

……….............................