Karena Suami yang...

Wurdiyah Nur Madura
Karya Wurdiyah Nur Madura  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 April 2016
Karena Suami yang...

Mencoba menjawab pertanyaan seorang Tretan,

Perempuan seringkali menginginkan pasangan yang lebih tinggi pendidikannya?

Tidak selalu seperti itu, meskipun iya ada bahkan banyak yang begitu. Bagaimana bisa kita yang masih penuh kekurangan bisa merasa lebih baik dari pasangan sehingga membuat kita merasa punya hak untuk selalu menuntut-nuntut? Laki-laki dan perempuan beserta seluruh kelebihan dan kekurangannya masing-masing diciptakan untuk saling melengkapi. Lagi pula, bukankah kita diajarkan untuk hanya meminta kepada Sang Maha.

Soal laki-laki yang seringkali keder menghadapi perempuan yang pendidikannya lebih tinggi?

Tretan… Itu masalahnya bukan di perempuannya, tapi di laki-lakinya. Kalau laki-laki sudah keder duluan, lalu apa salah jika kami sebagai perempuan merasa tidak yakin padanya sehingga akhirnya tidak memilih laki-laki tersebut? Laki-laki jangan egois, kekederan kalian jangan didiskriminasikan sebagai keangkuhan perempuan. Menurut saya, kalaupun pendidikan laki-laki tidak lebih tinggi dari perempuan yang diinginkannya, jika laki-laki itu merasa mampu, berusaha dengan realistis, maju dengan gagah mengajukan diri untuk menjadi suami, menjadi imam, saya sebagai perempuan tidak akan menolak.

Karena perempuan tetaplah perempuan, kami adalah makmum bagi kalian para laki-laki, para bakal imam. Kalau imamnya keder, lalu kepada siapa perempuan harus bermakmum, mengabdikan diri, tumpuan belajar, tumpuan untuk dituntun, mempercayakan anak-anaknya untuk ditauladani? Pahamilah keinginan sederhana kami, para perempuan muslim hanya ingin mengabdi sebaik-baiknya kepada Allah, ingin bersama suami menjadi agen muslim yang baik.

Kamu memisalkan seorang santriwati pasti menginginkan pria yang sangat mengerti agama, minimal bisa jadi imam sholat?

Iya. Tentu saja. Tidak hanya santriwati, setiap perempuan muslim pasti menginginkan hal serupa. Lebih dari sekadar minimal bisa menjadi imam sholat, perempuan muslim mendambakan laki-laki yang baik agamanya.

Karena suami yang baik agamanya, paham bagaimana kewajibannya menafkahi keluarganya, mendamaikan lahir batin istri dan anak-anaknya.

Karena suami yang baik agamanya, paham bahwa sebelum menuntut haknya agar istrinya tampil cantik terawat, kewajibannya terlebih dulu yang harus ditunaikan adalah memberikan nafkah untuk istri perawatan di salon kecantikan.

Karena suami yang baik agamanya, paham bagaimana Allah mewajibkan mencari ilmu sebaik-baiknya, dari liang rahim hingga liang lahat, sehingga laki-laki sebagai suami akan berjuang habis-habisan untuk pendidikan sebaik-baiknya bagi generasi yang lahir dari rahim istrinya kelak.  

Karena suami yang baik agamanya, paham untuk berlaku lemah lembut kepada keluarganya. Karena kata Allah, kalau suami bersikap keras dan berhati kasar, maka keluarganya akan jauh darinya. Bukan jarak fisik tentunya, tapi batin. Apa yang lebih menyakitkan dari kejauhan batin fisik yang sedang bersama?

Karena suami yang baik agamanya, paham untuk memaafkan kesalahan istri atau anak-anaknya dan memohonkan ampunan kepada Allah. Kemudian memusyawarahkan masalah tersebut, tapi tetap ikhlas bertawakkal semata Lillah apapun hasilnya.

Karena suami yang baik agamanya, paham kalaupun diperbolehkan memukul anak atau istri sebagai hukuman atas kesalahan mereka, suami paham aturannya jelas. Bahwa Nabi Muhammad mengajarkan untuk tidak memukul di bagian kepala hingga bahu, tidak boleh di badan bagian depan, silahkan memukul badan bagian belakang dan itupun carilah bagian paling empuk, dan pukulan tersebut tidak boleh menyisakan rasa sakit.

Karena suami yang baik agamanya, paham bagaimana Allah memerintahkannya untuk menundukkan pandangan dari mereka yang bukan mahramnya, sehingga kesetiaan dalam berumahtangga pun terjaga. Kalaupun dalam beberapa keadaan, ternyata mendua diperlukan, Allah sudah memberikan jalan keluar dengan poligami yang tentu saja syarat dan ketentuan berlaku.

Lagi pula, urusan imam sholat tidaklah minimal. Menjadi imam sholat berarti paham tata cara bersuci, menjaga kebersihan, paham betapa baiknya sunnah beristisna’ sebelum berwudhu bagi kesehatan, paham tampil indah dan bersih sangat disukai Allah, paham bacaan sholat harus sempurna dengan hukum ilmu Tajwid, paham bagaimana aturan shaf dalam sholat, paham bahwa tuma’ninah dalam sholat itu harus dan berdampak sangat baik bagi kesehatan, paham dan paham hal-hal lainnya yang tentu saja bukan urusan minimal.

Itu kenapa, iya, kami para perempuan muslim menginginkan laki-laki muslim yang bisa menjadi imam, semaksimal mungkin.

Karena apa? Cinta? Tuntutan agama? Formalitas pernikahan? Jauh lebih dari itu semua adalah, Lillahi Ta’ala. Sebagai pengabdian diri seorang muslim, ibadah kepada Allah. Apa yang lebih sempurna dari aturan Allah, semua cinta, tuntutan, tuntunan, aturan, larangan, perintah telah menjadi petunjuk yang seimbang menjemput kebahagiaan, tidak hanya di dunia fana tapi juga di akhirat yang nyata.

Untuk pertanyaan santri seolah haram melamar puteri kyai?

Kalau memang benar ada yang begitu, maaf, tapi bagi saya, si Kyai sebagai wali perempuan tersebut telah gagal memahamkan agama Islam pada puterinya. Sejak kapan Islam menilai dan memutuskan perkara hanya berdasarkan strata? Bukankah Muhammad si pedagang, si penggembala, si yatim waktu itu menikahi janda kaya berwibawa, Sayidah Khadijah r.a pada saat belum menjadi Nabi. Beliau Saw menikah pada usia 25tahun sedangkan baru diangkat menjadi Nabi pada usia 40tahun atau 15tahun setelah pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah r.a. Saya sangat menyayangkan jika hal ini terjadi sebagai sebuah fenomena sosial, lebih-lebih dari golongan kyai dan guru. Golongan yang seyogyanya sangat paham ajaran Nabi.

Wallahua’alam. Mohon maaf atas segala kekurangan. Jika ada yang baik, semoga bermanfaat. Jika salah, mohon koreksi saya dan tambahkan ilmu kepada saya.

  • view 208