Link Yang Maha Esa

Madno Wanakuncoro
Karya Madno Wanakuncoro Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Juni 2017
Link Yang Maha Esa

Link yang maha-esa

Oleh: Madno Wanakuncoro*

Kehidupan pada garis orbit era ini sedikit kejam memang. Maaf, maksud saya “memang kejam”. Tidak perlu, sebenarnya, memaparkan beragam macam cong-cing-cong alasan, argumentasi apologetis dan mengorek faktor-indikator untuk ‘mentaukidi’ (baca: memperkuat) kalimat pertama di atas. Toh, sangat mungkin sekali Anda lebih cerdas dibandingkan BJ. Habibie dalam hal memandang realitas sosial masyarakat pada abad milenial ini, terutama di Indonesia—negeri dimana ia dibuat kecewa-mental olehnya sehingga memilih di luar sana—dan apalagi terkait hal-ihwal kalangan grass-root, Lower-Class yang rutin bersinggungan langsung dengan dunia anda. Yang saku ekonomi keseharian mereka lebih klowor dari ukuran celana kita ditambah satu angka, bahkan dengan tanpa sabuk sekalipun.

Fenomena ini—untuk tidak menyebutnya tragedi—ditandai oleh melonjaknya gelombang persaingan hidup yang sangat kompetitif pula sengit, yang nantinya membuat manusia rentan: mudah stress dan frustasi. Besar kemungkinan ketika manusia post-modern tidak lagi mampu menghadapi problematika hidup masa depan, mereka cenderung mengambil jalan pintas seperti bunuh diri, penyalahgunaan narkotika, tindakan asusila atau justru ke hal yang ‘lebih positif’ (tanda petik), misalnya, mengandalkan koneksi untuk memperoleh keinginannya—meraup keuntungan dari makhluk yang kita sebut link. Barangkali dalam bahasamu, nepotisme.

Dalam kaitannya persoalan tersebut, tak pelak jika komponen-komponen pembangun suatu bangsa (atau boleh anda sebut sistem-sistem, partikel-partikel, butiran-butiran, lipatan-lipatan pusparagam dimensi, atau tiang-tiang penyangga peradaban bangsa, asal jangan tiang bendera yang sudah reot dan dipakai gantungan baju apek-butut milik pejabat buncit yang usai korupsi dana haji) musti butuh direkontruksi ulang, ditingkatkan lebih lagi, juga kalau bisa dan mampu harus diperindah perangainya. Seindah-indahnya make-up yang matching dengan wajah bangsa Indonesia. Salah satu dari beberapa komponen itu, yang dinilai paling urgen dan krusial, ialah pendidikan. Dan pendidikan merupakan sektor paling rawan terserang virus link tersebut. Atau malah bukan terserang, melainkan justru sengaja memeliharanya. Melestarikannya.

Apabila dihubungkan dengan yang diamati oleh Paulo Freire di zamannya (berkisar tiga dekade silam), seorang revolusioner pendidikan, yang mengungkapkan bahwa konsep pendidikan yang diterapkan di dunia global pada zaman modern ini tak ubahnya ialah “pendidikan gaya bank”. Mengekang, komersial, materialistis, uang adalah kerabat, penuh propaganda, bahkan merambah paternalisme. Padahal, sejalan dengan pemikiran terobosannya mengenai pendidikan, bahwa pendidikan semestinya (yang tepat: wajibnya) bersifat membebaskan, dan fokus pada peran “Penyadaran” (conscientization). 

Pendidikan membebaskan yang dimaksudkannya yakni mengandung nilai-nilai serta laku-terapan pemahaman, acts of cognition. Bukan malah berupa manipulasi-manipulasi informasi yang digunakan sebagai alat control dan manusia dijadikan selaku objek secara sewenang-wenang. Inilah makro-nikotin yang membikin orang ketagihan secara kolektif ketika sudah memegang remote-control tersebut. Sehingga tidak heran kalau tidak sedikit yang mempertahankan tipe “pendidikan jeruji kesadaran” ini. Juga inilah lumpur basah atau kulit pisang yang menyebabkan pendidikan bangsa kita terpeleset jatuh dan akibatnya blunder dari tujuannya sendiri: men-jero-kan ilmu pengetahuan dan wawasan untuk kemudian mengabdi. Pantas saja ucapan Pramoedya Ananta Toer yang demikian berdaya-sindir masih saja tak diindahkan. Semakin berpendidikan seseorang bukan berarti semakin memakan hak orang lain, tapi harus lebih mengenal batas.

Jujur, sebetulnya, ini masih pengantar. Dan bukan bermaksud kekiri-kirian. Meskipun si penulis sendiri bingung acak tak karuan hendak kemana membawa anda yang budiman dengan menumpangi saya sebagai kendaraan (tulisan ini) ke topik yang menjadi kegelisahan penulisku. Namun sudah sudah barang tentu saya—karya tak berwajah rupawan ini—yakin bahwa anda sekalian sudah terbuka, mungkin semenjak dulu, pori-pori kesadaran akal terhadap realita kita semua yang janggal. Otomatis, timing sudah tepat jika celoteh ini men-jeblos-kan atau menjerumuskan anda kepada inti kegelisahan skala mikro penulis.

Hati-Hati Falasi Kaidah dan Akidah

 

  Ku rajin sholat, kok ya kenapa tetap melarat

  Ku memburu link, tetiba rasa senyum tersungging

  Ku rajin ibadah, kok ya tidak kunjung dapat kerja

  Ku buai sumber link, eh tetiba kok rasa lancar semua

  Duh…

(Ilustrasi: Amsal)

 

Universitas, sebagai tonggak pertama usai lepas dari jerat ‘dikteisme’ (madzhab pendiktean), menjadi poros berpengaruh besar dalam ‘mencetak’ generasi muda bangsa supaya di masa mendatang sanggup bercita-cita dan menuju peradaban yang lebih baik, khususnya Indonesia. Sungguh disayangkan, sekarang tampaknya harapan itu nyaris menjelma utopia belaka. Sebab praktek-praktek pendidikan yang diterapkan di sana pun masih terbilang belum membebaskan dan menyadarkan. Ataukah dari peserta didiknya sendiri yang enggan disadarkan? (semacam sindrom fear of freedom dan afraid of conscientization). Kita sama-sama tahu bila menyoal fakta bahwa kini youth-generation tengah dilanda miskin teladan dan krisis kepercayaan (trust). Dan mahasiswa sebagai salah satu dari bagian sub sistem di sebuah Perguruan Tinggi semestinya paham betul akan hal ini. Tidak jemu-jemu mereka meneriakkan Tri Dharma Perguruan Tinggi; Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Akan tetapi, respon dari atas kurang mendukung terciptanya atmosfer pendidikan yang real dan respon dari diri mahasiswa itu sendiri pun masih harus berlatih bertanggungjawab dalam meng-enyahkan rasa ingin serba-instan melulu. Padahal merekalah yang nanti paling ditagih kontribusi dan baktinya kepada masyarakat dan negeri.

Para mahasiswa, jika meminjam istilah Bung Karno yaitu “Penyambung Lidah Rakyat” (atau populernya konon: agent of change, agent of social control dst.) sekarang ini mudah terhasut oleh buaian dan bualan yang menggantung di ufuk sana. Tentang tahapan-tahapan baku yang mesti mereka daki secara rapi. Seolah tiada tahapan lain yang lebih inovatif, dalam hal penulisan dan kemasan-susunan skripsi misalnya. Tentang mereka yang tidak percaya akan dapat kerja jika tidak berorganisasi. Merasa minder kalau selepas wisuda memakai toga (yang kata dosenku kepanjangannya, maaf sebelumnya, tolol tapi gaya) namun masih belum punya soft-skill apapun. Bahkan softskill untuk menguntit dan membuat LPJ palsu sekalipun. Sehingga khawatir jika ketika ia pulang, teman kampungnya akan berkicau kepadanya: “Wisuda, wilujeng seusah damel…”. Atau pula ada banyak mahasiswa tak lihai—untuk tidak menuduh malas—menembus syarat-syarat pra-wisuda secontoh hafalan Al-Quran, yang dengan putus asa dan semi-nekat ia menyewa seseorang tertentu sebagai joki-tahfidz (pekerjaan musiman).

Yang akademis memandang sebelah-mata pada yang aktivis dan apatis. Begitupun sebaliknya. Dinamika sawang-sinawang, saling-memandang, memang tak terelakkan dalam kehidupan sosial-masyarakat. Tidak pandang walau itu dunia kampus sekalipun. Dan dari frame paragraf sebelumnya tersebut, saya jadi teringat akan pernyataan Ibn Hazm Al-Andalusi, ulama ternama yang mengisyaratkan bahwa pada intinya semua orang yang hidup, hal yang paling dihindarinya ialah rasa cemas atau kekhawatiran. Sedangkan tujuan hidupnya yaitu demi mencapai kebahagiaan.

Sementara itu, mahasiswa—saya ambil contoh satu ini saja yang mewakili kegelisahan penulis—bertindak sebagai upaya menghindari kecemasan yaitu salah satunya memburu link dalam mencapai rasa aman untuk bekal masa mendatang. Cenderung eskapistik namun realistis memang. Seolah ia ragu betul dan tidak percaya pada taburan nikmat Tuhan yang disemai ke dunia berwujud beraneka jenis jalan yang bisa ditempuh dalam mencari pekerjaan. Seakan-akan hanya dari link belaka mahasiswa mendapat lahan kerja. Atau justru bukan seakan-akan. Apa bahkan mereka  telah seratus persen yaqin (pakai qaf) bahwa itulah satu-satunya jalan yang bisa memberinya peluang—ah, mungkin ini sekadar igauan atau bagian dari syak-wasangka (su’udhon) penulis saja—. Atas pemaparan di atas, dari sinilah kemirisan dan kefatalan falasi terjadi.

Mereka terbelenggu oleh benang-kusut pikiran sendiri tentang menemukan dan menuju titik gelap yang dianggapnya itu sebuah titik terang. Meskipun sudah terakui bahwa hanya orang yang berada dalam kegelapan lah yang akan mampu melihat cerlangnya cahaya beserta objek-objek lainnya. Sedangkan orang yang ternaungi cahaya di sekelilingnya itu tak akan (tidak semuanya) tahu perihal apa saja yang ada di kegelapan. Link hanyalah sebuah wasilah. Bukan ghoyah. Begitupun kerja, yang mana menjadi tujuan setelah mencari link, masih merupakan wasilah selanjutnya. Ia bukan ghoyah. Ibaratnya, kita menempuh sebuah perjalanan dan singgah-mampir ke terminal, stasiun, bandara agar atau untuk sampai ke tujuan. Dan keduanya itu masih tataran terminal. Maka jangan sampailah ini menelikung, mempelesetkan, atau bahkan mengebiri keyakinan kita yang utuh dan yang seharusnya. Menuju ke yang harus dituju. Sangkan paraning dumadi—asal-muasal segala kejadian penciptaan. Semoga bimbingan-Nya senantiasa tercurah—paling tidak, ya terciprat—ke masing-masing ubun-ubun kita semua. Jangan sampai kalimat kita ketika bermunajat ke Tuhan, atau di Hari Jadi Pancasila ini, sila pertama berubah menjadi: Link yang maha esa.  Na'udzu billah. Wallahu a’lam bish-showab.[]

 

 

     Bandung, 29 Sya’ban – Romadlon 1438 H.

          (selesai 1 Juni 2017, Hari Pancasila)

 *Madno Wanakuncoro 

Nama pena dari Muhammad Naufal Waliyuddin. Pemuda kelahiran Mojokerto, 1 November 1997 yang gemar baca-tulis apapun yang bisa dibaca dan ditulis. Aktif sebagai juru-tulis di Komunitas Sastra Wengi (KSW) dan mengisi tulisan baik cerpen, puisi, esai, feature dan kerabat sejenisnya baik di media cetak maupun online. Karya puisinya bersama KSW: Sulaman Abjad Bengkok (Madza, 2015), Mengeja Malam (Aria Mandiri, 2016). Sedangkan cerpennya terbit menyebar tak karuan. Mohon nantikan karya selanjutnya di tahun 2017 ini berupa kolaborasi dengan senior-pelukisnya; kumpulan puisi, prosa dan cerita full-illustration. Terima kasih sebanyak-banyaknya bertubi-tubi kepada pembaca. Ingin diskusi apapun, bisa hubungi: 085749916053 atau IG: @madno_wanakuncoro 

 

  • view 88