Teruntuk yang Dilahirkan Ibu

Madno Wanakuncoro
Karya Madno Wanakuncoro Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Mei 2016
Teruntuk yang Dilahirkan Ibu

Tak perlu kau sia-siakan nikmatmu

Yang masih mendengar suara bentakan Ibu

Tak perlu kau sia-siakan momen di mana kau

Masih merasakan sentuhan hangatnya saat subuh

 

Jangan kau sia-siakan sarapan, teh dan kopi

Yang setiap hari disodorkannya padamu

Jangan kau sia-siakan selama

Kau masih bisa menatap Ibumu

 

Hidup jauh darinya,

Bukanlah suatu kebebasan nyata

Hidup tanpa sentuhannya setiap subuh

Bukan sekedar ujian belaka

 

Hidup tanpa masakan buatannya

Bukan hanya sengsara

Hidup tanpa perhatiannya

Bukanlah hal yang patut disebut sejahtera

 

Tanah rantau itu kejam layaknya tanah penuh ranjau

Tanah rantau itu hanyalah secuil ilusi yang membuatmu silau

Tanah rantau itu hanya salah setitik sarana untuk masa depan nan berkilau

Tanah rantau tak ubahnya seperti medan tempur dengan dunia yang kian memukau

 

Jangan sampai sesal menyelimuti hati & pikiranmu

Ketika kau tak bisa mendapat belaian tangan kriput Ibumu

Ketika bunyi perutmu mengerucuk seisi ruang asramamu

Ketika tak ada lagi perhatian lagi kecuali sesal yang setia menyelimutimu

 

Jangan sampai kau berkoar berharap Ibumu nan jauh dengar

Akan jerit batinmu yang teramat hingar-bingar

Lantaran siksaan penyakit berperangai sangar

Hingga meronta-rontakan jiwamu yang tengah terkapar

 

Tak ada lagi tangan ratu adil yang mampu menyeka tangis

Tak ada lagi pijatan lentik jari malaikatmu tatkala tubuh mengemis

Tak ada lagi perhatian yang bahkan pacar, teman & gurumu sekalipun tak kuasa

Tak ada lagi semuanya yang bisa kau nikmati kecuali isapan jempol belaka

 

Kini hanyalah tinggal rintihan batin

berangan nurani mampu mengatasi

tubuh pesakitan tanpa perhatian siapapun

yang slalu saja mengkoyak-moyakkan hati & pikiranmu…

 

Cibiru Hilir, 17 Maret 2015

  • view 135