Manipulasi, Sama tapi Beda

Madno Wanakuncoro
Karya Madno Wanakuncoro Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Mei 2016
Manipulasi, Sama tapi Beda

Sempat saya malam mingguan, sewaktu usai mapak berkat di acara mauludan, ngopilah saya dengan teman-teman sambil masih pakai sarung dan kopyah hitam. Lantas sepulang dari jagongan atau cangkruk sampai dini hari itu, kami melewati gerombolan remaja sepantaran—mungkin juga di bawah saya. Mereka mengejek, ngereceki begini: “Poso ta koen?” (kau puasakah? Dengan nada ledekan khas jawa timuran). Saya tersenyum getir dalam hati, separuh tersinggung juga tapinya. Namun, pascapikir-pikir membuat saya agak heran. Jadi, orang yang saat malam minggu bukan pada bulan Romadlon memakai sarung dan kopyah itu orang yang berpuasa?

Mata pandang kita, seperti para remaja tadi, kian menyempit seiring waktu. Ini—sudah menjadi public secret—merupakan akibat badai modern tapi “tak modern” yang dahsyat sekaligus aneh pula. Sebab, seharusnya merupakan masa yang maju dengan kewajaran dan lebih efisien, namun kok membebaskan kekumpul-keboan manusia selama ini. Pun kemewah-mewahan kita dalam hidup dan materi berlebihan. Tak beda jauh dengan masa yang terlampau silam. Hanya saja figura dan fasilitasnya berbeda.

Tentunya, kasus ini tidak hanya bisa dituduhkan sebagai persoalan individu atau golongan sebagaimana para remaja yang pandangannya “disempitkan” itu. Boleh jadi sistem (apapun itu) dan kebudayaan kita pun memakai “kacamata 4D” yang dijajakan era ini. Tampilan memang diperlukan. Toh, kebutuhan pertama—meski baru dinilai relatif—bukanlah pangan, melainkan sandangan. Lantas bukan berarti kita sedemikan cuek dan abainya dengan sesuatu yang substansial, yang lebih luhur pasalnya.

Barangkali kejadian saya dini hari itu cuilan fragmen-fragmen jiwa pesakitan kita yang menyejarah hingga masa mendatang. Belum tentu yang mengimbau bahaya korupsi itu secara otomotis membuatnya tak korupsi. Yang menitah untuk senantiasa menaati peraturan, lalu lintas misalnya, bukan berarti ia tak berkemungkinan melanggarnya sendiri. Konsep “Si Maling teriak paling kencang, maling!” masih laku laris. Apalagi sekarang. Terkategorikan salah satu tipologi manipulasi kolot yang tak punya masa tenggang dan masih langgeng. Sekaligus manjur dan jitu.

Paling tidak, mata-pandang semacam itu, telah membenihkan banyak sekali variasi dalam bersosial, berbudaya, berekonomi, beragama dan tak perlu diragukan lagi berpolitik. Penipuan, kepura-puraan, kepengecutan, perkosaan, pengkhianatan terlau sering ditunjuk sebagai “bumbu dramatisasi hidup” yang tak lain kita sendiri aktornya.

Ah, nyatanya saya salah sangka. Telah menuduh kita tak beda dengan point of view-nya remaja-remaja tadi. Kebanyakan kita kan sudah banyak menempuh pendidikan, bahkan tak jarang yang sampai Perguruan Tinggi, negeri ataupun swasta. Sarjana maupun doktoral. Mana bisa kita samakan diri dengan mereka yang urakan, ugal-ugalan itu? Lantas apa gunanya ilmu yang kita peroleh bila kita disamakan dengan mereka? Untuk apa selama ini, apabila begitu nasibnya pelajaran pendidikan kita (khususnya moral), jika tetap saja tak berkompeten untuk membedakan status kita dengan mereka? Mereka hanya mampu ngarit, ngasak dan sebagian besar uthak-athik mesin yang tak jelas dari mana. Minum-minuman keras, tiap malam tak jelas tongkrongannya ngobrol tentang apa. Jauh berbeda dengan kita—mungkin lebih satu tahun cahaya—yang membicarakan kesejahteraan bangsa, bagaimana mencerdaskan semua, pemerataan sosial, menyunggi makhluk bernama keadilan, dan sebagainya.

“Oke… tentu berbeda,” makhluk mungil namun berbisa dalam diri saya mulai gatal, “mereka tuna-android yang mesti ke warnet terlebih dulu untuk buka social media dan situs-situs tak senonoh full-HD. Tak seperti kita yang full-day berpotensi untuk live streaming video apapun (salah satunya anu) dengan quota paketan yang kita beli memakai honor penulisan.”

Demikian sudah, tak dinyana kita memungut kesimpulan yang tak lempang dengan kenyataan. Padahal, kita malahan yang lebih “dangkal” setelah memproses diri dalam pendidikan formal yang acapkali blunder dari tujuannya men-jero-kan pengetahuan dan wawasan kita. Mereka dengan kepolosan dan caranya sendiri telah menyatakan demonstrasi, dalam tempo yang sama, juga menyindir nurani dan akal sehat kita agar segera ngelilir untuk kemudian bangun. Merekalah yang menyumbang paling sedikit angka-angka kemunafikan zaman, keterjebakan pikiran, ketak-becusan kinerja moral era ini atau bahkan tak menyumbang sama sekali: lantaran memang apa yang mau disumbangkan dari seorang papa pendidikan seperti saya untuk bangsa yang memacu sedemikian rupa agar maju. Oh ya, anda tepat, mereka menyumbang garis peningkatan angka kemiskinan dalam diagram negara kita.

Bukankah kita, sesuai status yang dibanggakan masing-masing (entah mahasiswa yang konon agent of change, guru, dosen, pengusaha, pemerintah dll.) memiliki bakat dan sungguh potensial untuk berkhianat pada kewajiban diri sendiri? Kan, sudah dibekali sana sini, ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, pengetahuan yang tak dikenyam oleh kalangan ndeso seperti mereka tadi. Barangkali kalau memang bukan kita, apakah sistem, aturan atau produk-produk pengetahuan yang dibuat para pakar dan ahli, serta termasuk kita juga telah mengalami semacam korsleting dalam menjulurkan kemanfaatannya?

Akh… ternyata sekali lagi kita berkontes-drama ria. Sekarang alangkah nikmat, mending anda segera siapkan kopi, tak usah pakai gula, garami saja. Agar membikin bangun, cenghar deui dari tidurnya akal sehat kita yang menafikan persoalan-persoalan so complicated tersebut. Satu lagi, pakai keringat saja kalau anda kehabisan garam dan tak punya dana untuk membelinya—karena mungkin belum ada proposal kegiatan yang diterima.

 

Pacet, Ahad Wage 10 Januari 2016

*sumber gambar : sahrialbudi.blogspot.com

  • view 293