Muhasabah di Era Kompetitif

Madno Wanakuncoro
Karya Madno Wanakuncoro Kategori Agama
dipublikasikan 10 Mei 2016
Muhasabah di Era Kompetitif

“Haasibu anfusakum qobla an tuhasabu”, seingat saya demikian ucap sayyidina Umar bin Khattab kepada umat islam waktu itu. Hisab-lah dirimu masing-masing sebelum engkau di-hisab. Menunjukkan betapa pentingnya muhasabah itu. Introspeksi diri.

Terbukti begitu pentingnya lantaran efek dari introspeksi diri yang sebetulnya penuh dengan hikmah-hikmah kehidupan. Sebagaimana para sufi mencontohkan dalam bentuk perilaku keseharian. Dan saya yakin semua sufi pun melakukannya, ber-muhasabah selalu, tanpa terkecuali.

Ringkasnya, muhasabah adalah bertanya kepada diri sendiri. Dengan kata lain, tindakan seseorang melihat kembali amalnya setiap hari dan setiap saat, tak hirau berupa kebaikan ataupun keburukan. Kebenaran maupun kesalahan. Meskipun dalam urusan tersebut, terutama kebaikan atau kebenaran, itu wewenang Allah. Dan bagi para sufi hal tersebut alangkah baik agar dilupakan begitu saja. Tetapi tidak dengan keburukan dan kesalahan yang kita perbuat. Sungguh perlu agar direnung-perhatikan untuk kemudian disesali dan tak mengulangi lagi. Dari situlah nilai urgen muhasabah sendiri. Mengevaluasi pribadi supaya dapat menghilangkan hal yang serba keliru serta memperbaiki semua kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukannya.

Atas dasar itulah maka muhasabah bisa disebut sebagai sebuah tekad dan upaya sungguh-sungguh yang sangat penting bagi aktualisasi jati diri manusia—yang selama ini dikeliru-pahami khususnya oleh psikologi barat.

Di masa silam pendahulu kita, para salafushalih selalu melihat dengan amat cermat hal-hal yang mereka anggap sebagai noda yang dapat menggelisahkan hati. Mereka menggunakan kotoran batin itu untuk menghadapi badai ketertipuan dan ‘ujub yang dapat menyerang diri mereka di masa mendatang.

Dengan menjaga kontinuitas dalam melakukan muhasabah, boleh jadi proses tersebut menjadi pemicu kelahiran intelektual dalam rangka menggali nilai-nilai kemanusiaan yang sejati, lantaran dari sisi lain ia pun merupakan kerja keras spiritual seseorang.

Hal ini tentu erat kaitannya dengan hadits tasawuf yang populer itu, dengan menggali kedalaman lubuk jiwa dan hati sendiri dapat menetaskan kedekatan diri kita kepada Sang Pencipta. “man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu.” Barang siapa makrifat akan dirinya sendiri, maka ia pun akan makrifat kepada Allah (ma’rifatullah).

Namun, dewasa ini masyarakat kita di zaman modern acapkali meremehkan sesuatu yang sebetulnya spesial. Serba-terbalik sekarang ini. Banyak pernyataan yang mengatakan bahwa tak perlu lah kita sibuk menggali masa lalu atau menyesali diri sehingga membuat vakum dalam aktivitas sehari-hari kita. Mungkin sekali pendapat tersebut bisa benar adanya. Akan tetapi perlu digaris-bawahi apabila tak sekalipun kita walau sekadar menengok saja ke masa lalu, besar kemungkinan kita akan tersaduk atau tertabrak angkuhnya gelombang sejarah. Sebab, sejarah sangat penting. Bukan untuk disesali saja, melainkan dalam rangka yaitu pelajaran bagi kita untuk kemudian hari dengan senantiasa meningkatkan kualitas diri kita tanpa membawa rasa sombong di sandingnya. Waltandhur nafsum ma qaddamat lighadin.

Sudah barang tentu, semua manusia (khusunya kita para muslim) butuh benar untuk melakukan muhasabah. Sama sekali tidak ada yang tidak butuh. Seperti yang semenjak dahulu sekali para sufi amalkan. Juga karena muhasabah bagaikan lentera di dalam dimensi internal seseorang. Dengannya, jiwa kita akan terlatih untuk senantiasa melakukan pengawasan nafsaniyah—saya kutip istilah dari Muhammad Fethullah Gulen—yaitu pengawasan yang dilakukan oleh jiwanya sendiri sehingga meningkatkan ketajaman sensitivitas dalam menghadapi godaan setan.

Di era penuh kompetisi ini, yang ada hanya menang-kalah, untung-rugi dll. Agar bisa menjauhkan diri akan bahayanya ampas kotoran batin yang lama-lama mengendap bahkan mampu merusak sebuah bangsa, perlu kiranya setiap individu mengamalkan hal tersebut guna menundukkan ego yang selama ini cenderung kita manjakan.

Sebab, pada saat ini kita hanya diajari bagaimana untuk mengungguli yang lain, lebih hebat dari yang lain. Bagaimana mengalahkan yang lain. Bagaimana mempecundangi yang lain. Pusat kita saat ini hanyalah sebatas kemauan ego saja, bahasa noraknya egosentris. Berdampak pada tatanan masyarakat kita yang egois dan individualitasnya meninggi. Bisa-bisa tak tumbuh sejumput pun rasa iba bahkan kepada diri sendiri sekalipun. Merasa lebih tinggi dari yang lainnya, ‘ujub. Meski pada akhirnya, setiap malam mereka (mungkin juga kita) dihinggapi rasa hampa, rongga yang begitu besar tetapi lengang di dada mereka. Kekosongan.

Secara otomatis, bermuhasabah mampu menghindarkan kita dari hal semacam itu, juga perilaku absurd seekor singa semisal yang digambarkan oleh Maulana Rumi dalam Puisinya, Keburukan dalam Diri.

Seekor Singa bergaul dengan seekor Kelinci:

Mereka berlari bersama ke perigi dan melihat ke dalamnya.

Sang Singa melihat bayangan diri; di permukaan air

Tampaklah muka seekor Singa dan seekor Kelinci

yang gemuk di sampingnya.

Begitu ia melihat musuhnya maka ia meninggalkan kelinci

dan meloncat ke dalam perigi.

Ia jatuh ke dalam lubang tanah yang telah ia gali sendiri:

Ketidakadilannyalah yang menerkam kepalanya sendiri.

O Pembaca, betapa banyak keburukan yang engkau lihat

pada orang lain itu tak lain adalah sifatmu sendiri

yang terpantul pada diri mereka!

Semua yang nampak pada mereka adalah dirimu:

Kemunafikan, ketidakadilan, dan keangkuhanmu.

Engkau tak mampu melihat jelas keburukan dalam dirimu,

Kalau tidak begitu engkau akan membenci dirimu sendiri

dengan seluruh jiwamu.

Seperti Singa yang menerkam bayangannya sendiri dalam air,

Engkau hanya menganiaya dirimu sendiri, O orang dungu.

Jika engkau telah mencapai dasar perigi sifat-sifatmu sendiri,

Maka engkau bakal mengetahui kejahatan pun ada dalam dirimu.[1]

 

Telah terlalu banyak dan sering kita amati akhir-akhir ini, konflik marak terjadi. Antar-sesama saudara padahal. Saling menuding-menyalahkan satu sama lain. Barangkali hal tersebut termasuk dari dampak kurangnya intensitas muhasabah kita yang sangat mungkin terlanjur ditimbun oleh rasa ingin menang sendiri dari yang lain pada era kompetitif ini. Memang sangat lumrah dan bisa dimaklumi kalau hal itu terjadi zaman sekarang. Namun bukan berarti kita hanya berdiam diri atau sekadar memandangi fenomena itu.

Perlu begitu dalam kita mengurai permasalahan-permasalahan yang tampak saat ini, untuk menggali dan menemukan akar masalahnya. Meski demikian, menurut hemat saya, ya dengan salah satu dari sekian tak terhitung nilai-nilai sufistik para pendahulu kita yang kini dibutuhkan ialah melakukan muhasabah. Yang pada ujungnya, akan terwujud dan membuahkan seni dalam memandang. Memandang orang yang lebih muda, wah ia punya sedikit waktu untuk berbuat dosa. Memandang orang yang lebih dewasa, wah ia punya banyak waktu untuk melakukan kebaikan. Pendek kata, sangat mungkin orang lain lebih baik dari pada kita—dikarenakan kita tahu apa saja kesalahan yang pernah kita perbuat walau berusaha memungkiri sekuat mungkin.

 

[1]) dalam Buku Nyayian Seruling: Puisi-Puisi Sufistik Jalaluddin Rumi, Bandung: Sega Arsy, 2014.

Sumber gambar: www.dakwatuna.com

  • view 156