Questions In My Life [Part 4] - How's Life?

Lia Nurbayani
Karya Lia Nurbayani Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Desember 2017
Questions In My Life [Part 4] - How's Life?

QUESTIONS IN MY LIFE [PART 4]

 

Q       : How’s life?

 

Saat saya diajukan pertanyaan itu, saya terdiam beberapa saat, pertanyaan yang diajukan oleh salah satu my former leader. Bingung akan jawaban yang akan diberikan. I just stood still for few minutes. Apa yang harus saya jawab, pertanyaan singkat, nampak mudah tapi sangat sulit dijawab in my opinion :D . Pada awalnya saya akan menjawab “yaa gitulah mba”, tapi dipikir-pikir jawaban itu seakan-akan hidup saya no meaning, flat life or nothing special. Akhirnya pun saya jawab “never been better mba. Up and down tapi alhamdulillah merasakan naik turun ????” (yaa kurang lebih begitu jawabannya). Lalu my former leader said “well that’s life Lay”.

 

Never been better artinya buat saya hidup saya saat ini patut saya syukuri apapun kondisi dan keadaan yang saya alami, saya berusaha untuk bersyukur. Setiap orang punya jalan hidup masing-masing yang dijalani. Setiap orang punya cerita masing-masing untuk diceritakan pada orang-orang sekelilingnya. Setiap orang memiliki pengalaman hidup masing-masing. Baik itu cerita atau pengalaman menyenangkan ataupun tidak. Everyone have their own story.

 

Seringkali kita mendengar istilah “Hidup itu hanya sekali, hidup itu hanya sementara maka nikmatilah”. Yess life only once, tapi cara orang menjalani hidupnya masing-masing akan berbeda yang pada dasarnya tujuannya satu, yaitu menuju hidup yang lebih baik. Hidup yang lebih baik bagi setiap orang bisa dari segi materi, segi pengetahuan secara umum atau agama khususnya, segi akhlak atau karakter yang lebih baik, ibadah yang lebih baik lagi atau bisa jadi ingin merubah dari semua segi kehidupan. Dalam hal ini, menginginkan adanya perubahan menuju hidup yang lebih baik baik bagi diri sendiri. Perubahan itu kadangkala ada penggeraknya, motornya, momen tertentu yang akhirnya membuat seseorang melakukan langkah pertama untuk menuju perubahan.

 

Saya ingat dalam satu momen yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk belajar menuliskan cerita kehidupan saya, karena seringnya saya bercerita ke orang sekeliling saya (Bagi yang sudah mengenal saya pasti paham hahaha). Saat itu saya membaca buku karya Fahd Pahdepie yang berjudul “1001 Malam untuk Muhammad”. Itu adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca, jika kalian belum baca saya sarankan bacalah!. Setelah saya selesai membaca buku tersebut saya berjanji dalam diri saya bahwa saya ingin memberikan manfaat bagi orang lain, meskipun itu kecil, meskipun hanya sebesar zarrah, meskipun bagi orang hanya dianggap sekedar cuap-cuap semata, meskipun orang tidak akan memberikan apresiasi apapun tapi sekedarnya saya bisa memberikan manfaat kepada orang lain dan yang pasti harus disertai dengan hati ikhlas.

 

Di satu sisi alhamdulillah Allah SWT memberikan saya suatu bidang ilmu dan pekerjaan yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Latar belakang saya di bidang psikologi yang tidak hanya membantu dalam healing diri sendiri tapi alhamdulillah dan insyaaAllah mampu memberikan saran atau support pada orang yang berkeluh kesah pada saya (padahal sebelumnya saat saya masuk psikologi, saat ada yang mau curhat saya bilang saya gak mau campuri urusan hidup orang lain atau urusin masalah orang lain. Sekarang? Ketagihan hahaha, kualat dengan omongan sendiri). Bidang pekerjaan sebagai HR pun amanahnya luar biasanya. Saat menjadi bagian Recruitment atau bagian People Development, kita seakan-akan menjadi penyambung rezeki orang lain dan menjalankan salah satu sunnah Rosululloh SAW.  Rosululloh SAW bersabda :

Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

Hadits tersebut secara langsung meminta kita untuk menempatkan seseorang sesuai dengan keahliannya, “the right man in the right place”. Saat bekerja di bagian personalia, kita seakan-akan memudahkan urusan orang lain dalam memperoleh hak-haknya dan juga dalam memonitoring kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap pegawai. Saat menjadi trainer, ucapan ataupun materi yang disampaikan dapat membantu orang lain melakukan perubahan atau minimal memiliki awareness terhadap dirinya sendiri. Pada dasarnya, saya bersyukur Allah memilihkan jalan ini bagi hidup saya karena menyenangkan bagi saya ????. Bekerja sebagai HR ladang amalnya banyak karena benar-benar harus bersabar khususnya terhadap keluh kesah para karyawan hahaha.

 

Dalam kehidupan baik dalam kehidupan pribadi, pekerjaan ataupun social tidak selalu semulus jalan tol. Bahkan di perjalanan tol pun kadang kala kita terhalang dengan mobil lain yang melaju di depan kita, apalagi kalau mobilnya truk yang jalannya lamban :D. Ada kalanya kita memperoleh pengalaman menyenangkan dan ada kalanya kita memperoleh pengalaman kurang menyenangkan. Tapi bukankah apa yang kita alami diantaranya sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta? Jadi masih layakkah kita untuk mengeluhkan sesuatu yang memang sudah ditentukan? Layakkah kita mengeluhkan sesuatu yang tidak kita usahakan? Dan layakkah kita mempertanyakan apa yang kita peroleh saat ini? Setiap orang memiliki porsi kehidupan masing-masing. Hidup ada kalanya naik ada kalanya turun, well that’s life. Seperti halnya roda yang berputar tapi dia akan selalu tetap dalam porosnya.

 

Apapun yang dialami oleh kita dalam hidup saat ini, bercerminlah dan tanyakanlah :”Apakah saya sudah berusaha?”, “APakah saya sudah introspeksi diri saya sendiri?”, “Apakah saya layak dan pantas?”, “Apakah saya sudah tidak menjadi peribadi yang selalu mengeluh?”, “Sudahkan saya ambil hikmah dari setiap kejadian yang saya alami?”, dsb. Hidup tidak hanya semata-mata bertanya terhadap dunia atau sekitar kita apa yang sudah mereka lakukan, tapi juga kita patut bertanya apa yang kita sendiri lakukan untuk sekitar kita. Seperti yang pernah dikemukakan salah satu penulis (saya lupa antara Tere Liye atau Dadang Kadarusman) yang menyatakan “Each days is a gift and not a given right.” Hidup kita adalah hadiah, hadiah dari Sang Maha Pencipta untuk kita gunakan karena bisa kapan saja Allah SWT mencabut nyawa kita tanpa persiapan apapun, bukan semata-mata hak yang harus kita peroleh sehingga kita bisa “menagih” kewajiban Allah SWT kepada kita. Noo….

 

So..live wisely cause life only once and we only have one life  ????

 

  • view 93