Questions In My Life [Part 3] - Do You Have Enough Salary?

Lia Nurbayani
Karya Lia Nurbayani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Desember 2017
Questions In My Life [Part 3] - Do You Have Enough Salary?

QUESTIONS IN MY LIFE [PART 3]

 

Q       : Gaji kamu cukup gak siy?

 

Setiap orang saya kira pernah mengalami diajukan pertanyaan seperti ini baik oleh keluarga, sahabat, ataupun rekan kerja kita. Tapi kalau kita ditanya pertanyaan demikian, kira-kira apa yang akan kita jawab. Bisa jadi ada yang menjawab tidak cukup, ada yang menjawab lebih dari cukup dan sebagainya. For me, my answer...my answer is depends...tergantung dari kebutuhan setiap orang. Besar kecilnya gaji pasti tergantung pandangan si penerima gaji, cukup atau tidaknya pasti tergantung kebutuhan dari setiap penerima gaji.

Saat saya diajukan pertanyaan tsb oleh rekan-rekan kerja saya, dia bilang "pasti kurang yah Li...gw aja kurang, gaji kita kurang lebih sama kan?" Terus rekan kerja saya yg lain bilang "Memang gaji kalian berapa? Kalau memang kurang saya coba bilang deh ke manajer hr-nya." And my reactions like whatttt....Lalu saya bilang "Tolong jangan bilang apapun ke manajernya karena kalian tidak perlu sampai segitunya apalagi kalian beda dept. Biarlah saya sebagai HR memberikan masukan pada manajer saya"

Saya pun bilang "jika menurut kamu gaji kamu kurang...berarti memang kurang. Tapi kalau kalian tanya ke saya, saya pribadi merasa cukup. Kebutuhan setiap orang beda-beda" 

Percakapan dengan rekan kerja saya mengingatkan pada pengalaman pertama saya bekerja…a long time before. Pada saat keluarga saya mengetahui gaji saya, mereka berpandangan bahwa gaji yang saya terima kecil dan lebih baik cari pekerjaan lain. Well….dulu saya punya keyakinan jika kita bekerja sungguh-sungguh insyaaAllah atasan atau perusahaan tidak akan berdiam diri dan pasti akan menyesuaikan gaji kita (saat dipikir ulang lagi sekarang, apakah pandangan saya tersebut kinda naïve?). But at that time, yang saya peroleh sesuai dengan keyakinan dan pandangan saya.

Every person have a different needs and different operational expenses. Kadang kala kita senantiasa meng-generalisir bahwa jika gaji yang kita peroleh dalam satu kelompok, level, status yang sama diasumsikan memiliki perasaan yang sama...perasaan gaji yang kita terima kurang. Jika terdapat 2 orang dengan status single dengan gaji katakan Rp 3.000.000, untuk orang yang single pertama bisa jadi buat dia cukup tapi bisa jadi buat orang kedua tidak cukup. Hal ini bisa jadi dikarenakan latar belakang, penggunaan atau kebutuhan dari kedua orang tersebut berbeda, mungkin dia menjadi tulang punggung keluarga, gaya hidup, atau memang tidak bisa mengatur keuangan yang dimiliki dan banyak factor lainnya.

Pada saat kita menerima sejumlah uang...banyak hal yang harus dimaknai dari uang yang kita terima. Pertanggungjawaban kita sebagai pemilik uang terhadap uang tersebut. Uang tersebut digunakan untuk apa? Bermanfaat atau tidak baik bagi diri sendiri atau bagi orang sekitar kita. Lalu bagaimana money management yang kita lakukan, sesuai porsinya atau tidak? Tidak hanya ilmu saja yang harus kita pertanyakan dalam penggunaannya tapi materi yang kita peroleh pun perlu kita pertanyakan karena uang atau materi bisa jadi menggiring kita ke surga ataupun neraka tergantung dari penggunaannya tsb. Materi bisa membawa kita pada kebaikan ataupun pada kesombongan. Materi bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur atau menjadi pribadi yang kufur terhadap nikmat Allah SWT (Na’udzubillah).

Semoga kita tidak merasa kurang dikarenakan kurang bersyukur atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Apabila kita sudah bekerja dalam suatu perusahaan, kemudian melakukan pekerjaan sampingan dsb lalu kita masih merasa kurang...Alangkah baiknya kita mulai bertanya terhadap diri sendiri, apakah memang betul materi yang kita miliki kurang, orientasi kita yang masih semata-mata dunia, terjebak dengan lingkaran riba atau karena kurangnya rasa syukur yang kita miliki. Bukankah Allah SWT sudah sangat jelas menyatakan dalam firman-Nya :

"Dan (ingatlah) juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14] : 7)

Diperkuat dengan ayat berikut :

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman [55] : 13) dan diulang terus menerus dalam surat tersebut.

Hal pasti yang saya pelajari melalui pengalaman akhir-akhir ini adalah jika memang itu menjadi rezeki kita meskipun kita menghindarinya, menundanya, ataupun menukarnya tapi jika memang itu sudah menjadi jatah kita maka rezeki itu akan tetap sampai kepada kita meskipun caranya berliku. Ataupun jika kita sudah mengupayakannya sekeras apapun dan bahkan ada di depan mata atau tangan kita, jika memang bukan jatah kita pasti akan terlepas. Katakanlah rezeki itu terdapat beberapa kategori, yaitu rezeki yang memang harus kita usahakan tapi ada juga yang memang sudah menjadi rezeki orang tsb meskipun tidak diusahakan dikarenakan rasa syukur ataupun keimanan dan ketakwaan ybs terhadap Allah SWT (ok, i'm starting confuse how to explain it :D). Bukankah Allah menyatakan dalam firman-Nya :

"Dan tiada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya" (QS. Hud : 6)

Hanya saja sebagai manusia kadang kali (atau seringkali yah :D) merasa ketakutan atau kekhawatiran materi atau rezeki yang diperoleh tidak cukup dengan berpikiran “apakah uang segini cukup?, kira-kira bakal cukup gak yah? Gimana donk uangnya cuma segini, cukup buat nutupin semua pengeluaran gak yah? Dan sebagainya”. Sangat manusiawi yang dirasakan atau dipikirkan oleh setiap orang. Bahkan Allah SWT pun menyatakan dalam firman-Nya :

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155)

“Allah-lah yang menyempit dan yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepada kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah : 245)

The last words…kepada kamu dikembalikan, in my opinion ini mengacu pada rezeki yang harus kita usahakan selain ada beberapa rezeki yang sifatnya tidak perlu diusahakan oleh setiap makhluk. Kata terakhir tersebut menyatakan ada pergerakan atau proses yang harus dilakukan oleh setiap manusa dalam memperoleh rezeki yang perlu diusahakan. Seperti yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

“Sesungguhny Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Qr-Ra’du : 11)

I’m really love those ayat karena Allah SWT senantiasa meminta kita untuk selalu introspeksi terhadap apa yang ada dalam diri kita terlebih dahulu sebelum sekitar kita.

Pada saat kita berbicara mengenai rezeki, hal ini tidak semata-mata harta benda atau uang, tapi juga tahta (kedudukan, jabatan), sahabat, pasangan hidup, kesehatan, kepandaian, pengetahuan, rasa senang atau sedih dan masih banyak lagi. Apapun yang kita rasakan saat ini mengenai materi yang kita terima saat ini, yakinlah…as long as you already fight for it and give your all efforts it will pay off sooner or later. Bukankan ada istilah “proses tidak akan membohongi hasil”. Just have a faith and believe to your self…If it’s meant to be, it will be.

Kun Fayakun …

Karena Allah tidak pernah menyatakan kemiskinan dalam firman-Nya. Allah nyatakan “Dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan” (QS. An-Najm : 48)

Sooo….sudah merasa cukupkah Anda? ????

  • view 152