Questions In My Life [Part 1]

Lia Nurbayani
Karya Lia Nurbayani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Agustus 2017
Questions In My Life [Part 1]

QUESTION IN MY LIFE [PART 1]

Q         : Li, kamu happy gak dengan pekerjaan kamu? Dari angka 1 – 10 di angka berapa yang     mau kamu kasih?

 

Sepanjang hidup pasti kita selalu diberikan pertanyaan-pertanyaan oleh orang-orang sekeliling kita. Untuk langkah mari kita mulai dengan pertanyaan di atas.

 

Pertanyaan mengenai kebahagiaan pasti selalu muncul, baik dari diri sendiri maupun dari orang-orang sekeliling kita. Setelah bekerja sekian tahun, untuk pertama kalinya saya diajukan pertanyaan tersebut oleh GM saya. Am I happy with my job? Pertanyaan tersebut seakan-akan menjadi pertanyaan yang selalu saya tanyakan terhadap diri sendiri, pertanyaan mengenai kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak hanya dalam pekerjaan saja tapi juga with my personal life and my social life.

Saat kita ditanya mengenai kebahagiaan oleh orang lain apakah kita bisa langsung menjawab atau justru kita masih berbalik bertanya terhadap diri sendiri. Apakah saya bahagia? Bisa saja kita sendiri pun belum mengetahui atau belum mampu mendeskripsikan definisi dari kebahagiaan itu sendiri. Definisi dan tolak ukur kebahagiaan pasti akan berbeda-beda untuk setiap individu. Akan tetapi sebelum kita melihat atau mengetahui definisi kebahagiaan menurut orang lain, apakah kita sendiri telah mampu mendefinisikannya?

Saya sendiri mampu mendefinisikan kebahagiaan buat diri sendiri pun setelah refleksi diri sendiri, kontemplasi dan pengalaman yang saya alami sehingga saya sendiri mampu menyimpulkan bahwa inilah kebahagiaan yang saya butuhkan. Kebahagiaan yang tidak hanya kebahagiaan secara nalar saja tapi juga afeksi maupun perilaku yang menunjukkan kebahagiaan itu sendiri. Hal ini yang bisa saja mengarah pada kebahagiaan hakiki yang sebenar-benarnya.

Bagi saya kebahagiaan itu adalah sesuatu hal yang mampu kita ciptakan karena saya percaya dengan istilah “we create our own happiness”. Why? Karena kita mendefinisikan kebahagiaan bagi diri sendiri dan hal itu berarti kita mampu menciptakan kebahagiaan yang kita butuhkan dan kita inginkan. Walaupun kita dalam kondisi feeling blue at the time tapi kita mampu merubah itu dengan satu hal yang memang agak sulit untuk dilakukan, yaitu dengan embrace and accept all the things we have, good or bad. Hal-hal yang terjadi pada kita tidak terjadi tanpa alasan. Dengan kata lain, merasa bersyukur terhadap apapun yang kita terima atau peroleh. Rasa syukur menjadi salah satu kunci kebahagiaan yang kita rasakan dan kita alami.

Di saat kita dalam kondisi down, manusiawi jika kita akan merasa drop untuk beberapa saat dan seakan-akan kebahagiaan kita saat itu direnggut atau dirusak oleh pihak lain. But do we need to whining? I guess not. Perilaku demikian tidak akan mampu menyelesaikan masalah dan tidak memberikan solusi apapun. Kita bisa melakukan dengan ambil tindakan dan raih kembali kebahagiaan yang kita inginkan. Why? Because everyone deserve to be happy with their life.

Hal-hal tersebut yang selalu saya coba lakukan agar saya bisa merasa bahagia dengan hidup saya. Tidak hanya meningkatkan rasa syukur dengan yang dimiliki tapi juga berusaha berbagi kebahagiaan dengan sekeliling kita. Bukankah apabila kita berbagi kebahagiaan dengan satu orang maka orang itu akan berbagi kebahagiaan dengan orang lain juga? Happiness virus effect :D . Oleh karena itu ciptakanlah kebahagiaanmu dan raih kebahagiaanmu dengan caramu sendiri tapi tanpa merusak hak orang lain. Orang-orang sekeliling kita hanyalah yang sedang menjalankan peran menjadi penonton yang belum tentu paham atau mengerti dengan hidup kita. Selama tindakan yang kita lakukan tidak melanggar ajaran agama yang kita anut, tidak melanggar hak orang lain dan merugikan orang lain, just do what you do right now, enjoy every second of your life, be happy and always be grateful for everything you have.

Don’t forget to ask yourself, are u happy? ????

 

Bandung, Sabtu, 05 Agustus 2017, 17.00 – 17.30

 

Wassalaamu’alaikum wr wb

 

Lia “Layeuh” Nurbayani

  • view 45