Wahai Para Pria, Calon Suami dan Calon Ayah, Bacalah ini!!

Ulfa Chaniago
Karya Ulfa Chaniago Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Maret 2016
Wahai Para Pria, Calon Suami dan Calon Ayah, Bacalah ini!!

Seperti sebuah Smartphone baru, satu sampai tiga bulan pertama kita akan benar-benar menjaga dan merawat benda tersebut dengan sangat hati-hati, namun biasanyaaa setelah lebih dari tiga bulan tersebut kita akan mulai semena-mena memperlakukan nya, bahkan tangan yg berminyak pun akan kita gunakan untuk menyentuhnya, kita lupa untuk menjaga nya lagi.

Kita melakukan sesuatu yang sangat berbeda dibandingkan seperti pertama kali memilikinya, merasa bahwa sudah dimiliki, lantas mengapa harus  dirawat, ngapain susah-susah dijaga, toh sudah menjadi milik saya..

Jika diperhatikan hal ini sama seperti mereka yang menikah, setelah sekian lama menikah, banyak yang seperti tak peduli lagi pada pasangan, hanya menjalani peran saja, melakukan kewajiban sebagai Suami dan Ayah, mencari nafkah misalnya, melakukan kewajiban sebagai seorang Istri dan Ibu, mengurus rumah, melayani suami anak dan lain nya..

Mereka yang telah lama menikah, sering kali hanya berbicara tentang bagaimana permasalahan rumah tangga saja, dan tak pernah lagi membicarakan bagaimana perasaan mereka masing-masing terhadap pasanganya..

Mereka lupa, untuk terus saling mencintai satu sama lain..

Mereka lupa, untuk menghabiskan waktu berdua, tertawa dan bercanda..

Mereka lupa, untuk tetap menjadi muda seperti awal mereka menikah..

Mereka terlalu fokus untuk menjadi orangtua..

Dan tanpa mereka sadarii, anak-anak mereka memperhatikan mereka, bagaimana mereka saling berkomunikasi, bagaimana cara mereka saling mengasihi, dan anak-anak mereka menjadikan orangtua mereka sebagai patokan bagaimana mereka kelak mencintai pasangan mereka, bagaimana kelak di masyarakat..

Namun sayangnya, dimasyarakat kita banyak sekali orangtua yang tidak menyadari hal sepenting ini..

Ketika anak-anak mereka melakukan kesalahan, biasanya sang Ayah hanya akan menyalahkan sang Ibu, karna tak mampu mendidik anak-anak mereka..

Dalam hal ini, sang Ayah merasa bahwa kewajibanya sebagai kepala keluarga hanya mencari nafkah saja..

Padahal tidak, mendidik anak bukan hanya kewajiban Ibu saja, tapi juga kewajiban Ayah!

Seorang Ayah harusnya juga dekat dengan anak-anaknya, Ayah harus sering meluangkan waktu untuk mendengar cerita anak-anaknya, Ayah harus lebih sering memeluk anak-anak nya dibandingkan Ibu, karena Ibu selalu ada dirumah, seorang Ibu lebih mudah didekati daripada seorang Ayah..

Karna Ibu menunjukkan kasih sayang nya secara terang-terangan, namun tidak begitu dengan seorang Ayah, yang mayoritas tidak mengerti bagaimana caranya menunjukkan kasih sayang seorang Ayah kepada anaknya.

Menjadi seorang Kepala Keluarga, Suami, dan juga seorang Ayah itu terasa sangat berat, jika merasa menjadi seorang Suami dan Ayah merupakan sebuah beban, dan hanya dengan materi saja Istri dan Anak dirumah sudah merasa tercukupi..

Seorang Istri juga membutuhkan kasih sayang dari Suami, membutuhkan dukungan agar mendapatkan semangat untuk mengurus pekerjaan dirumah, yang tak pernah ada habisnya.

Seorang Istri membutuhkan pengakuan, meskipun tak perlu diakui bahwa menjadi Suami nya adalah merupakan anugrah terindah bagi sang Suami, tapi bagi seorang wanita, pengakuan itu perlu, untuk menambah energi yang banyak terkuras karna pekerjaan rumah, katakanlah sesekali "Abang bahagia punya kamu, dek.." sambil memeluknya..

Seorang Suami juga ingin di akui, kadang kala, mereka yang sudah menikah, semakin lama usia pernikahan mereka, semakin lupa mereka cara menghargai pasangan mereka, karna itu tadi, merasa sudah dimiliki, dan hanya tinggal melakukan kewajiban saja satu sama lainya..

Kalau saja mereka ingat, bahwa seorang anak merupakan ranting dari mereka berdua, sudah selayaknya pula lah mereka berdua menjadi akar yang baik agar mendapatkan ranting-ranting yang baik pula.

Memiliki anak terkadang membuat orangtua lupa, bahwa anak merupakan titipan dariNya, dari kecil anak dibiasakan dengan segala kemudahan-kemudahanya dipenuhi segala keinginan nya, diberikan fasilitas-fasilitas dengan bebas tanpa s&k yang berlaku.

Para orangtua lupa, bahwa memudahkan segala keinginan anak sebenarnya membuat anak mereka malas, tidak mau berusaha lebih, kurang mampu menghargai sesuatu, dan mudah ngamuk jika tak dipenuhi keinginan nya..

Jika kamu (calon) seorang Suami dan (calon) seorang Ayah, kelak ketika anak kamu bermasalah, jangan salahkan anak, jangan salahkan pasangan kamu, salahkanlah diri kamu sendiri, mengapa anak kamu seperti itu, kemana kamu selama ini, mengapa tak pernah ikut membantu pasangan kamu dalam mendidiknya, mengajarkanya tanggung jawab, ketegasan, dll.

Studi oleh Father Involvement Research Alliace, menunjukkan bahwa jika sejak bayi dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil, saat dewasa lebih percaya diri, dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian.

Luangkanlah waktu sebanyak mungkin bersama anak. agar nantinya anak mampu bertahan di kerasnya hidup saat orangtuanya sudah tidak bisa lagi terus menerus memantaunya atau saat mereka memiliki kehidupan sendiri lepas dari kita..

Jadi, jika kamu seorang pria yang sudah ingin menikah atau yang sudah menikah, jangan pernah beranggapan bahwa menjadi seorang Suami dan Ayah hanya berkewajiban mencari nafkah saja!!

Kamu juga harus berinteraksi dengan anak-anak dan mengikuti pertumbuhan mereka.

Karna pertumbuhan mereka tak akan pernah terulang lagi, setiap anak merupakan anugerah, mereka titipan, yang perlu dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya

Jika kamu merasa hanya dengan uang saja dan fasilitas-fasilitas yang kamu berikan kepada keluarga kamu sudah membahagiakan mereka, mungkin kamu lupa bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang menantikan kepulangan Ayahnya dari bekerja, yang merindukan sosok Ayahnya, yang ingin bermain bersama Ayahnya, bercerita dan menghabiskan waktu bersama Ayahnya..

Anak memang tak dilahirkan bersama buku petunjuknya, namun kamu bisa belajar dari mereka yang sudah memiliki anak, dan juga dari orangtua kamu, ambil yang baiknya, dan perbaikilah kesalahan mereka dengan mendidik anak-anak kamu dengan lebih baik dari kamu tentunya.

Jangan lupa, tetaplah merasa muda dan cintai pasangan kamu layaknya pengantin baru meskipun sudah lama menikah, teruslah jatuh cinta dan saling mencintai pasangan kamu, selamanya karna kelak,  ketika anak-anak  dewasa mereka akan menikah, kamu dan pasangan kamu akan kembali berdua saja seperti pengantin baru lagi, jadi teruslah saling mencintai, tetaplah bergandeng tangan, saling percaya dan jujur satu sama lain meskipun badai besar menghantam rumah tangga kalian..

  • view 635