Jangan Menyebar Benih Kebencian Pada Anak

Ulfa Chaniago
Karya Ulfa Chaniago Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Desember 2016
Jangan Menyebar Benih Kebencian Pada Anak

"Eh, itu rumah orang Batak, Jangan kesana! ada guguk nya"

"Kenapa rupanya kalo Batak?"

"Orang Batak makan babi"

"Qaqa juga orang Batak, tapi Qaqa ga makan babi"

"Eh iya ya, Qaqa juga Batak"


Beberapa hari yang lalu, saya mendengar Qaqa dan temanya ngobrol-ngobrol di bawah jendela kamar saya, sejenak saya berpikir, darimana mereka mendapatkan benih-benih kebencian tersebut. Qaqa, ponakan saya yang berumur delapan tahun, merasa sangat bingung, kenapa kalau orang Batak harus dibenci dan dijauhi? Dan yang paling miris nya lagi adalah, abang ipar saya yang asli Batak dan bermarga Pasaribu sampai sekarang kalau pergi sholat jum'at selalu dikira mualaf, hanya karena beliau keturunan Batak!

Kebencian itu dimulai dari rumah, dari orang tua yang mengajarkan bahwa mereka yang berbeda dengan kita harus dijauhi dan dimusuhi, mungkin banyak orang tua yang ada di daerah saya tinggal ini tanpa sadar menanamkan pemikiran tersebut pada anak-anak mereka, bahkan mereka yang sekolah menengah atas pun, masih mengira bahwa Batak itu selalu merayakan Natal!!


Suku dan agama itu berbeda, memberikan pengertian dan penjelasan pada anak itu merupakan tugas orang tua yang harusnya diajarkan sejak anak mereka kecil, agar terciptanya rasa saling menyayangi antar agama dan suku, karena nantinya anak-anak ini yang akan menjadi penerus masa depan, jika dari kecil saja mereka sudah membenci teman mereka yang berbeda keyakinan dan suku, sudah bisa dipastikan, ketika mereka dewasa mereka tak akan pernah bisa menerima perbedaan tersebut, dan akan selamanya membenci teman mereka yang memiliki perbedaan dalam hal agama, suku dan bahkan berbeda pendapat, tanpa bisa mereka jelaskan apa yang sebenarnya membuat mereka membenci perbedaan tersebut.

Menjadi mayoritas bukan berarti selalu benar, dan menjadi minoritas bukan berarti selalu salah..

 

  • view 317