Jujurlah Pada Pasangan Anda

Ulfa Chaniago
Karya Ulfa Chaniago Kategori Kesehatan
dipublikasikan 21 September 2016
Jujurlah Pada Pasangan Anda


 
Buat yang sering memendam perasaan kesal pada pasangan sebaiknya mulai sekarang diungkapin aja deh,
daripada kena stroke krn terlalu lama memendam perasaan kesal terhadap psangan nya, karena, ketika seseorang sudah terserang stroke, kamu, bukanlah kamu yang sekarang 

 *belajar ilmu sabar memahami menerima pasangaan apapun kondisinya sejak tinggal dengan penderita stroke*

 
 

Kutipan diatas adalah status di Facebook saya,  saya mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup sejak saya memutuskan pindah dari rumah saudara saya, dan memilih untuk kos. Kos yang saya pilih itu, kos yang tinggal satu atap bersama ibu kos bserta keluarganya, saya memang lebih memilih kos yang masih berasa kekeluargaanya, dan yang pastinya jam malam nya juga lebih ketat, memang itu yang saya inginkan.

Baru 2 minggu saya tinggal di kos tersebut, dan saya baru mengetahui bahwa suami si ibu kos ini ternyata terserang stroke sejak 7 bulan yang lalu, bapak ini dulunya, sebelum terserang stroke bukan seorang pemarah, bukan seseorang yang mau menaikkan intonasi suaranya terhadap orang lan, apalagi istri nya, semua tetangga mengatakan hal yang sama.

Ibu kos saya, (sebut saja Ibu Lis) Ibu Lis ini bisa dibilang wanita yang mandiri, mampu mengerjakan apapun tanpa bantuan suaminya, sepele mungkin awalnya, ketika seorang istri yang tidak membutuhkan kehadiran suaminya, jarang meminta bantuan suami ataupun tidak begitu perduli pada apa yang suami nya rasakan ketika ternyata istrinya mampu berdiri sendiri tanpa ada suami dalam hal apa pun, termasuk mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Sehari-hari suami nya bekerja mencari nafkah menjual jasanya dengan becak motor tua nya, Ibu Lis ikut membantu mencari nafkah dengan mengerjakan banyak hal, dari mulai memasak untuk katering, menjual kue dan membantu menyuci pakaian untuk mereka yang meminta tolong bantuanya.

Selama lebih dari 20 tahun pernikahan mereka, sebenarnya sang Suami merasa beliau masi mampu mencari nafkah untuk keluarganya sendiri, namun hal tersebut ia pendam sendiri, hanya ia tahankan pemikiran tersebut didalam hatinya, karna jika ia mengungkapkan isi hatinya, bisa-bisa sang istri merasa berang dan merasa bahwa apa yang dilakukan nya membantu mencari nafkah suaminya selama ini hanyalah sia-sia, dan sang suami tahu persis apa yang akan terjadi, mereka akan bertengkar hebat karna sang istri merupakan wanita yang memang keras mengenai keinginanya.

Dulu Ibu Lis ini merasa, suaminya bukan seseorang yang mampu memendam perasaan yang tak mampu diketahuinya. Sebagai seorang istri, sudah selayaknya lah pula kalau ia merasa mengenal siapa suaminya, namun ternyata tidak, suaminya yang baik hati, bukan seorang pemarah, yang selalu meng-iya-kan apa permintaan istri nya, dan jarang sekali tersinggung terserang stroke, karna ternyata ada perasaan yang berpuluh-puluh tahun dipendam rapat-rapat karna tak ingin ada pertengkaran, dan tak ingin memperpanjang masalah.

Siapa yang tak shock, ketika suaminya yang baik, bisa dikatakan bukan lagi jarang, bahkan tak pernah membentaknya, berubah menjadi sosok yang pemarah, lebih mellow, lebih emosian dan tak mau jauh dari istrinya. Istri mana yang tak sedih, ketika mengetahui penyebab nya ternyata karna hanya tak ingin mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya pada sang istri yang membuatnya berubah menjadi seseorang yang lain dan menjadi lemah fisiknya.

 

Ibu Lis mengatakan pada fa,

“Ujian Ibu yang paling berat fa, adalah ketika melihat Bapak yang sekarang tak pernah ada didiri Bapak yang pertama kali Ibu kenal, Bapak yang ceria sudah hilang, karna kesalahan Ibu sebagai istri yang tak mampu melihat bahwa sebenarnya sebagai seorang suami Bapak merasa kesalahanya lah yang tak mampu mencari nafkah sendirian, dan membuat Ibu ikut bekerja, karna sebenarnya melihat Ibu bekerja Bapak tidak setuju, namun karna Bapak mengetahui bahwa Ibu adalah seseorang yang keras kepala jika sudah berkeinginan lah yang membuat Bapak menyetujui ibu membantunya. Karena Bapak begitu mengenal siapa Ibu, namun tidak yang sebaliknya”


Jika Ulfa menikah nanti, pilihlah seseorang yang mampu membuat fa mengungkapkan apa isi hati fa, saling jujurlah fa pada pasangan, jangan pilih seseorang yang tak mau mendengarkan apa pendapat kita, jangan ulangi kesalahan Ibu ketika tak mampu melihat ada yang Bapak pendam selama bertahun-tahun, ketika Bapak menganggap membuat Ibu bahagia dengan tidak membahas permasalahan kecil yang ternyata malah berdampak besar seperti saat ini.
 
 
 
 
Bapak sebenarnya hanya ingin membahagiakan istrinya dengan tidak membahas permasalahan tersebut, dan Ibu hanya menganggap bahwa menunggu uang dari bapak saja tak cukup jadi sudah sepantasnyalah Ibu membantu mencari nafkah untuk kebutuhan bersama. Ada yang salah diantara mereka, namun mereka memilih tidak melihat kesalahan tersebut.
 

Menghadapi penderita stroke harus memiliki kesabaran tak berbatas, mereka jauh lebih egois dibandingkan orang yang paling egois, lebih kekanak-kanakan dibandingkan anak-anak, mereka lebih manja dibandingkan cucu mereka, dan lebih cengeng dibandingkan wanita.

Tak jarang fa melihat langsung Bapak memukul dadanya sendiri dan menangis meraung-raung karna panggilanya tak disauti sang istri, membentak sang istri dan tiba-tiba menangis setelahnya karna sadar bahwa sang istri matanya sudah berkaca-kaca.

 Tapi Ibu Lis masih tetap setia mendampingi sang suami, tetap menggandeng tanganya ketika berjalan bersama, tetap melayani semua keperluan suaminya, dan sering fa melihat mereka shalat berjamaah, meskipun Bapak sudah tak jelas cara bicaranya. 

 

Menikah itu menerima pasangan nya lengkap satu paket, ketika sakit maupun sehat.
ketika sehatnya dulu ia setia menemani Anda, janganlah Anda tinggalkan ketika ternyata setelah menikah pasangan Anda menderita sebuah penyakit, justru kehadiran Anda, sebagai seseorang yang dicintainya tetap terus berada disisinya ketika sakit, jauh lebih mujarab dibandingkan obat manapun.

  • view 8.2 K