Piala Sang Juara

Luthfians
Karya Luthfians  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juli 2016
Piala Sang Juara

“Aku masih ingat dahulu, jika kami bertamu ke rumah Pak Haji Sufyan, bos ayah. Ayah selalu dengan ekspresi yang sama. Ia selalu diam, terpukau. Tak pernah sedikitpun memalingkan wajahnya, apalagi mengedipkan matanya. Bukan, bukan demi melihat rumahnya yang mewah, atau bahkan barang-barangnya yang mahal dan mengkilap. Tapi demi melihat piala-piala yang terpajang rapih di etalase rumahnya itu. Ya, demi melihat piala-piala yang dari dahulu ayah impikan terpajang di rumahnya yang reot. Tak apalah baginya walaupun hanya satu buah. Apalagi jika Pak Haji Sufyan mulai berbicara, membangga-banggakan piala-piala itu. Katanya piala-piala itu hasil jerih payah anak sulungnya yang sekarang sekolah di Mesir. Hasil prestasinya mulai dari ia kecil hingga saat ini. Ah, makin terguncang saja hati ayah. Kapan anaknya bisa seperti itu. Kapan anaknya bisa memberikan satu saja piala untuknya. Yah, setidaknya piala itu bisa membuktikan kepada Pak Haji Sufyan bahwa anak orang susah seperti dia pun bisa mendapatkan piala-piala itu.

Tapi terkadang optimismenya itu luntur. Kadang ia merasa dirinya lupa, bukankah ia hanya orang biasa. Berbeda dengan Pak Haji Sufyan. Pantaslah menurutnya jika anak pak Haji Sufyan jadi orang pintar. Makanannya jelas tidak sembarangan, harus bernutrisi. Tidak seperti dirinya yang hanya buruh tani. Makan tahu, tempe setiap hari.” Ungkapku pada Hasan sambil mengusap butiran air mataku yang tak terasa menetes.

“Kadang aku sendiri tak habis pikir. Padahal ayah bisa saja membeli atau memesan piala-piala yang lebih bagus di toko ‘juara’ di kota. Tapi yang ayah inginkan bukan sekedar piala-piala kosong yang dibeli dengan instan. Yang ia inginkan adalah piala yang istimewa. Piala yang didapat dari jerih payah dan prestasi anak semata wayangnya. Ya, aku. Aku yang sampai saat ini belum juga bisa mewujudkan impian kecilnya.” Lanjutku.

Aku menarik nafas panjang. Menyandarkan tubuhku ke tembok lalu menutup wajah dengan kedua tanganku. Menangis sesenggukan. Entah karena terharu atau karena iba melihatku menangis, Hasan yang sedari tadi duduk di sampingku juga meneteskan air matanya. Ia mengelus-ngelus tubuhku pelan mencoba menenangkan.

“Aku memang anak tidak berguna San!” keluhku.

“Jangan begitu, kamu salah jika menganggap dirimu seperti itu!. Mungkin Allah belum menakdirkan kamu untuk mewujudkan impian ayahmu itu. Tapi percayalah Li, suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkannya. Asalkan kamu mau berusaha” tuturnya.

“Ah, entahlah. Mungkin memang benar. Orang susah seperti kami tidak mungkin jadi orang pintar” keluhku lagi. Kami terdiam dalam waktu yang lama. Sampai Hasan mencoba berbicara, memecah kesunyian di antara kami.

“Li... tenangkanlah dirimu dulu, aku ingin berbicara sesuatu padamu” katanya sambil menutup pintu dan meninggalkanku sendiri di kamar. Sedangkan aku masih terus tenggelam dalam kesedihanku. Hingga aku mencoba melupakannya. Aku merebahkan badanku di lantai, memejamkan mataku. Pergi ke alam mimpi.

 ***
 
“Kau lihat piala-piala itu?” tanya Hasan serius. Sambil menunjuk piala-piala yang berjejer rapi di etalase kantor utama pondok Al-Falah.

“Ya, ada apa dengan piala-piala itu?”

“Kamu kenal Ahmad tetangga kamar kita?” tanyanya lagi sambil merangkulku.

"Ya, apa hubungan dia dengan piala-piala itu?” tanyaku serius.

“Piala-piala itu ya miliknya. Hasil prestasinya!” jawabnya.

“Benarkah?? Ahmad si hitam kurus itu?”

“Ya, kamu pasti tidak akan menyangka. Tapi memang begitulah kenyataannya. Ahmad yang ternyata anak seorang buruh tani sepertimu ternyata bisa mendapatkan piala-piala yang diimpikan ayahmu itu” terangnya. Aku terdiam.

“Setahuku, aku jarang sekali melihatnya makan. Makanan dia setiap hari ya hanya kitab dan buku. Dia juga dulu sama seperti kamu, sering mengeluh. Tapi lihat, buah dari usahanya sekarang dia bisa menutupi kekurangannya itu dengan prestasinya. Harusnya kamu bisa lebih dari dia Li!” lanjutnya sambil melihat kearahku.

“Ingatlah, kehidupannya lebih memprihatinkan dibanding kamu, tapi dia mau berusaha!. Tidak hanya diam dan menyerahkan semuanya pada takdir. Ingatlah Allah tidak akan merubah takdir seseorang jika ia tidak mau merubahnya sendiri. Berusahalah meski harus ribuan kali. Kamu tahu Thomas Alfa Edison pencipta lampu kan?. Dia perlu berusaha ribuan kali sampai ia berhasil menyalakan lampunya yang sampai sekarang menerangi dunia dalam gelap. Semangatlah, karena akupun sedang berusaha. Aku juga ingin seperti dia” tuturnya.

Aku masih terdiam. Kepalaku menunduk lemah. Kata-katanya benar-benar menusuk. Aku seperti terhempas ke tembok. Lalu sebuah energi memasukiku. Mengajak mulutku berkata: “Ya, aku bisa sepertinya, melebihinya”. Tiba-tiba aku melihat piala-piala itu ada digenggamanku, di sampingnya terletak selembar piagam yang tertulis jelas namaku. Juara satu, Ali Murtadho.

 *** 
 
Gemuruh riuh peserta dan penonton MQK kabupaten Tuban membahana di pondok pesantren Al-Hidayah sang tuan rumah. Semua sibuk dengan kegiatannya sendiri. Namun aku di sini hanya terdiam. Di depanku tersimpan rapi piala-piala yang sama. Piala yang dulu terpampang di Rumah Haji Sufyan, piala yang dulu tersimpan di etalase pondokku. Ya, Allah sebentar lagi aku akan memilikinya bagaimana ekspresi ayah jika melihatku membawa piala itu?. Tentu ayah akan sangat senang dan bangga!.

Tak terasa air mataku menetes di depan piala-piala itu. Ah, aku jadi teringat ayah, dimana dia? Padahal tadi pagi aku sudah meneleponnya. Apakah dia tidak akan hadir?. Ah jangan ya Allah. Aku ingin ia melihatku membawa piala-piala itu. Aku ingin melihatnya tersenyum!.

“Ali...!” seseorang tiba-tiba memanggilku dan menyentuh pundakku. Aku menoleh ke belakang.

“Oh, Ahmad. Ada apa?”

“Ayo kita ke bangku penonton. Sebentar lagi pengumuman pemenang”

“Wah, sudah selesai ya lombanya?. Ya sudah duluan, nanti aku menyusul!” Aku memandang piala-piala itu untuk yang kesekian kali kemudian meninggalkannya lalu berjalan menuju bangku penonton.

Puncak acara sudah dimulai. Semua peserta merasakan hal yang sama, cemas antara menang atau tidak. Mereka menyimak dengan seksama saat pembawa acara mulai mengumumkan para juara.

“Hadirin sekalian, juara pertama lomba membaca kitab Hidayatul Adzkiya dimenangkan oleh saudara Ahmad dari pondok Al-Falah” Semua penonton bersorak menyambut Ahmad sang juara bertahan menaiki panggung. Membawa piala yang pertama. Satu persatu para juara dipanggil dan sedikit demi sedikit nama-nama itu menambah poin untuk pondok Al-Falah, hingga hampir menjadikannya juara umum.

“Dan yang terakhir, juara membaca kitab Khulasoh Nur al-Yaqin diraih oleh saudara Ali Murtadho dari pondok pesantren Al-Falah yang sekaligus mengantarkan Pondok Pesantren Al-Falah menjadi juara umum!” Aku menaiki panggung diiringi sorak-sorai penonton. Membawa piala pertamaku, piala yang diimpikan ayah sejak dari dulu. Namun aku masih sibuk mencari kesetiap sudut lapangan. Mencari dimana ayah berada. Dan akhirnya kau menemukannya di belakang, ia melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku. Aku mengangkat piala itu dan membalasnya dengan senyuman. Kami turun dari panggung diiringi sorakan dari suporter Al-Falah, mereka menyambut kami di bawah panggung, lalu mengangkat-ngangkat tubuh kami dan mengelu-ngelukan nama kami dan Al-Falah. Aku turut tenggelam dalam kebahagiaan, mengangkat-ngangkat pialaku bangga, hingga tak sengaja aku melepaskannya.

PRAANNGG!!! Piala itu terjatuh, pecah, dan terinjak injak oleh kaki-kaki mereka. Aku segera turun dari pangkuan mereka, kemudian mendekati pecahan-pecahan piala itu, dan memandangnya lemah.

“Pialaku....”

 ***
 
Pagi. Dalam kamar yang sunyi itu, aku masih memegang pecahan-pecahan piala itu.

“Hancur sudah impianku”. Aku membuang pecahan piala itu. Menangis sejadinya, sambil menutupi wajahku. Hingga tiba-tiba seseorang mendekatiku, memanggil namaku. Aku mendongakkan kepalaku. Bangkit, lalu memeluknya.

“Ayah, maafkan aku” ucapku lemah.

“Li, biar seribu piala yang pecahpun ayah tak apa. Bagi ayah kamu tetap juara, meski tanpa piala-piala itu. Ayah bangga memilikimu. Ayah selama ini buta. Menganggap piala-piala itu segalanya, menganggap piala-piala itu cermin prestasimu yang bisa ayah banggakan. Tapi ayah salah nak, Kaulah segalanya untuk ayah. Kaulah yang harusnya ayah banggakan, karena kaulah sang juara di hati ayah, meski tanpa piala-piala itu”.

Langitan, Selasa 08 April 2014  

*Ingatlah kawan, piala-piala itu adalah hak siapapun yang berusaha mendapatkannya. Maka, jadilah pemimpinya.

  • view 178