Hanya Dua Kata

Luthfiah Fadlun
Karya Luthfiah Fadlun Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Hanya Dua Kata

Aku dengan seluruh ke-cuek-anku, katamu. Dan kamu dengan seluruh ke-ansos-anmu, kataku. Heem..

*****

Aku bertemu denganmu pada rapat kecil dadakan temanku. Posisiku sebagai 'yang dipaksa untuk nemenin'. Aku terdiam melihat situasi rapat yang tak kupahami. Sambil meneguk es kelapa khas rengganis, aku mengamati setiap orang yang hadir rapat. Salah satunya, kamu. Tak sepatah kata pun kamu keluarkan dan matamu terpusat pada handphone. Bahkan tiba-tiba menghilang dan kembali dengan seorang teman.
"Fi, kamu bantu jadi panitia yaa.." teriak Sofia ke telingaku. Aku menoleh perlahan.
"Ha? Kok aku?" Tanyaku spontan. Yang lain menatapku. Dia tidak.
"Udah bantu aja yaaa. Jadi koor konsumsi aja kok" ucap Sofia sekedarnya. Aku mengangguk tidak paham. Dia melirik sepintas ke arah pembicaraan kami yang ribut lalu kembali fokus pada handphone-nya.


*****

"Iiih.. kamu gimana siih, kan kamu yang jadi ketuanya, Yam!" Teriak Sofia di luar ruangan. Aku tarik ia menjauh. Yang lain menatap Sofia ngeri. Yam hampir saja membalas perkataan Sofia jika tidak aku tahan.
"Di dalam baru mulai rapat. Ssstt.." bisikku pelan.
"Lagian si Yam gitu terus kalau dia yang jadi ketua. Bete aku" gerutu Sofia. Aku tertawa gemas melihat mukanya yang kusut.
"Yam, mana uang konsumsi makan siang? Trus ini kamu kemanain kertas registrasi?" Nisa mulai panik. Aku menarik nafas. Tadi pagi Sofia terus sekarang Nisa. Heem.
"Sini, mana uangnya? Aku mau beli sama Fiqa." Kataku pada Yam. Yam hanya nyengir karena ada saja yang menjerit karena dia. Aku menarik Fiqa.
"Sini sama kita aja yang beli. Masa cewe yang harus keluar angkat-angkat makanan" sambar Rivo. Rivo berjalan ke arahmu. Mereka berbicara sebentar. Dia menatapku dan Fiqa lalu melenggang begitu saja tanpa lagi-lagi sepatah katapun.
"Nih, sms pesanannya ke no dia" Rivo memberi sepotong kertas berisi nomor handphone sambil menunjukmu. Mereka pergi.
Aku mengetik tiap pesanan makan siang ke nomor yang diberikan tadi.


Aku: Nasi ayam 5 bngkus, ikan 2 bngks. Sent.
Aku: Eh, ditambah 3 bngks nasiayamnya. Sent.
Aku: Maaf salah, jadiny 2 bngks aja yg pake ayam trus yg 1 nya pake udang. Trus ikannya ditmbah 2 bngks. Sent.
Kamu: ulang lagi! Delivered.
Aku terdiam. Ingin tertawa.


*****


Aku membuka ruang sosmed di handphoneku. Sejenak mataku membulat. '2500 comments?'. Aku melihat satu per satu komen yang ada. Parah, ini pertama kalinya aku nulis dan di komen banyak sampah. Ulah siapa lagi kalau bukan dia. Aku arahkan pointer ke bagian chat.


F: "Parahlaah.. antara post dan comment nya ga nyambung bgt"
R: "biar ramai."
F: "kamu tag semua orang pula"
R: "biarin dong."
F: "ancur deh post-an aku"
R: "remove aja aku dari temenmu"


*****


"Yuk jalan!" Sebuah pesan dari whatapp masuk tiap hari selasa sore. Aku segera mengambil tasku dan berjalan menuju travel. Dia menungguku.
"Kemana?" Tanyaku pendek. Dia hanya tersenyum pendek. Perjalanan dilalui oleh diam. Dan selalu begitu. Tapi aku selalu menikmatinya. Lebih sering kami hanya duduk lama di taman kota Bandung ataupun berjalan sambil mengobrol ringan mengelilingi jalan Bandung. Jujur, itu jauh banget dan kalau sendiri aku lebih milih naik angkot. Tapi tetap saja, aku menikmatinya.
"Kamu tuh parah yaaa.. udah hampir 2 tahun di Bandung masih gatau apa-apa tentang Bandung" katanya sambil tertawa kecil.
"Ngapain harus tau, kalau di kosan aja lebih nyaman" jawabku asal.
"Keluar, Fi. Jalan aja gapapa nyasar" lanjutnya.
"Males." kataku lebih pendek. Dia tertawa menatapku. Dan sejak itu kata "Yuk jalan!" mampir tiap Selasa sore.


*****


Aku menemukan banyak jeda ruang yang terhampar. Bahkan pada setiap perenungan yang tak kunjung usai. Aku banyak menunggu. Bahkan kadang aku tak mengharapkan sebuah kepastian. Ketika aku menulis ini pun, tak akan kau pahami seluruh pikiran dan perasaanku. Ketika kembali aku banyak terdiam. Mulai berbicara pada hati yang meragu. Inikah?
Bahkan ketika sepenggalan perhatian darimu membuat berdebar.

Katamu, 'aku ingin menjagamu. Tapi sekarang kan belum bisa'. Aku hanya kembali terdiam. Harus apa?


*****


Aku terdiam di depan layar handphoneku. Sudah lebih dari seminggu tak ada pesan darimu. Aku malu menyapa pula. Menunggu. Lagi-lagi itu yang kulakukan.
"Assalamualaikum" panggil seseorang dari luar rumah. Sekejap terdengar teriakan adikku.
"Kaaaaak.. turun siniii.." teriak adikku berulang kali. Malas sekali beranjak dari kasurku. Aku ambil jilbabku dan memakainya segera. Aku buka pintu kamar dan turun ke lantai bawah. Aku menatap ayah dan ibu sudah di ruang tamu. Aku berjalan mendekat. Kulihat sosok yang tak asing bagiku. Dia bangkit dari duduknya dan menatapku "Yuk Nikah".


(Bersambung)

  • view 150