Allah gives His best

Lutfiah
Karya Lutfiah  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Januari 2017
Allah gives His best

Jalan hidup setiap manusia itu berbeda, pasti berbeda, tapi semua tujuannya sama akan kembali kepada Sang Empunya jiwa, yang udah minjemin kita seluruh kehidupan ini plus-plus paket komplitnya. Setiap manusia juga udah disediakan jalan untuk suksesnya masing-masing, but of course jalan itu nggak akan semulus wajah artis-artis korea, sebab pasti bakal ada rintangan yang siap menyambut, agar kita bisa menemukan dan menyimpan mutiara-mutiara kehidupan yang udah Allah sediakan, tentunya untuk bekal perjalanan selanjutnya menuju negeri akhirat.

Dari waktu ke waktu kehidupan itu berubah, nggak statis, tapi dinamis. Semua ada waktunya. Sebagai manusia yang budiman sudah seharusnya kita ngerti dan paham bahwa hidup nggak mungkin selamanya dirundung kepahitan, selagi kerangka raga dan hati mau bergerak untuk berubah, nggak mungkin hidup nggak berubah. Selagi kaki masih mau mengayuh pedal, mungkinkah roda tak akan berputar?.

Setiap dari kita pasti punya IMPIAN, setidaknya keinginan untuk mencapai atau mendapat hal-hal yang lebih dari biasanya. Yup, begitu juga dengan gue. Mimpi-mimpi gue seabreg, yang selalu gue tulis di buku diary, seiring berjalannya waktu banyak list yang udah gue ceklis pertanda bahwa impian itu sudah terwujud.  Salah satunya waktu gue masih kelas 4 (X SMA) di pondok, gue pengen banget namanya jadi Ketua Kamar anak baru, kenapa? Sebab, gue pengin ngajarin mereka bahasa inggris, gue pengin ngajarin mereka apa yang gue tahu dan gue bisa. Gue selalu berdoa dan berharap supaya gue bisa jadi ketua kamar. Gue deketin tuh bagian kemanan, nanya-nanya perihal ketua kamar anak baru. Singkat cerita, diumumkanlah nama-nama yang terpilih untuk jadi ketua kamar anak baru dan nggak ada nama gue kesebut di daftar itu. Pupus, gue nggak jadi ketua kamar anak baru. Sementara banyak dari temen deket gue yang jadi ketua kamar. Kecewa? Pasti, tapi mau bagaimana lagi. I tried to accept it sincerely...

Selain jadi ketua kamar, target gue yang lain adalah jadi Pengurus Rayon bagian Bahasa, yang ini gue pede bakal dapet, sebab alhamdulillah gue sering dipilih untuk ikut lomba bahasa di lingkup internal. Satu hal lagi yang bikin gue semakin pede adalah gue jadi pemenang Miss Language. Kabarnya yang lolos jadi Miss Language pasti bakal jadi Rayon Bahasa, woo gimana nggak pede coba gue. Sejak itu gue terus memperdalam bahasa inggris, ngapal-ngapal kosakata dan pastinya berdoa. Nah disini gue sama temen baik gue sama-sama kepingin banget jadi Rayon Bahasa. 

Hari pindah kamar pun tiba, harap-harap cemas, karena saat pembagian kamar baru sekaligus pengumuman bagian Rayon. Gue dan teman gue mendengarkan dengan seksama dari awal sampai akhir, sepanjang itu pulalah hati gue dagdigdug ga karuan, terlebih nama gue dan temen gue belom kesebut bahkan sampai menjelang gedung terakhir, nama gue dan beberapa temen gue nggak kesebut. 

Lagi-lagi harapan gue harus pupus, jangankan dapetin Bagian Rayon Bahasa, dapet kamar juga nggak. Begitu juga dengan temen gue, dia bahkan udah denger kabar kalau dia bakal dicalonin jadi ketua rayon bahasa. Kita bernasib sama.

But, semua itu belum berakhir disitu,  setelah menunggu cukup lama akhirnya kita ‘yang gak kebagian kamar’ ditempatkan di kamar-kamar bekas karantina. Dan gue kebagian kamar yang isinya full 16 (enambelas) orang dan gue lah ketua kamarnya. I walked as fast as i could ke kamar baru gue, dan lagi kecewa itu mampir. Ternyata calon kamar yang bakal gue tempatin itu adalah kamar yang disebut ‘sarang baqot’. Gue nggak bisa nolak, gue pasrah, gue masuk ke kamar itu dan baru aja beberapa langkah gue udah lihat makhluk-makhluk mungil yang menggelikan itu jalan-jalan dengan manisnya di depan mata gue. Pasrah. Cuma itu. 

Calon-calon penghuni kamar baru mulai berdatangan satu persatu dan gue masih mematung lesu ngeliatin ranjang besi di hadapan gue. At least gue langsung beraksi melakukan ritual pembasmian baqot. Dan untuk kesekian kalinyaaaaaa gue harus sabar lagi. Ditengah-tengah keseriusan gue bersihin ranjang, gue nggak ngeh kalo ada ustadzah manggil dan akhirnya gue kena omel. 

Lengkap banget ya, kenyataan jauh dari harapan. 

Sejak saat itulah, hidup gue semakin nggak mulus, masalah datang silih berganti. Gue yang ‘agak’ pendiem (katanya) harus bisa hidup diantara mereka yang 180 derajat berbeda dengan gue. Disinilah gue belajar buat ikhlas dan menerima, ya mungkin memang udah takdirnya gue disini. Meski berat banget buat dijalanin tapi mau bagaimana lagi... there’s no choice...

And i keep believing that Allah has another plan for my life...

Sampai suatu masa, dimana setelah masalah yang gue hadapi memuncak, disitulah Allah kasih lihat gue Pelangi yang indah. Saat salah seorang ustadzah yang mengurusi bagian ketua kamar anak baru, mengatakan kalau ketua kamar di gedung yang gue tempatin akan tetap jadi ketua kamar, itu artinya gue bakal jadi ketua kamar anak baru. 

Sabar, Iklas, Menerima dan terus berdoa...

“ Jangan langsung beranggapan negatif kalau Allah tidak mengabulkan do’a kita. Bukan tidak mengabulkan, belum mengabulkan saja. Dan pasti suatu saat akan dikabulkan, entah kapan. Allah lebih tahu waktu yang tepat ”

Yup, Masyaallah. Gue beneran jadi ketua kamar anak baru, gue kepilih buat jadi salah satu anggota tim debat dan yang lebih indahnya gue dilantik jadi bagian bahasa pusat, Central Language Manager. Lolos lomba debat ke tingkat provinsi dan masuk ke semi Final di Anyer 2015, perwakilan di Simulasi Sidang ASEAN di Serang 2015,  Ketua Lembaga Kursus Bahasa Inggris (ECC). 

Sometimes Allah allows us to fail because there is something down there we’re supposed to find

 

  • view 63