tentang menjagaku

pena goresanku
Karya pena goresanku Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Januari 2016
tentang menjagaku

Siapa aku berani menolak pertemanan yang kau tawarkan?

Bukan, samasekali bukan hakku untuk melakukan itu. Aku masih perempuan biasa, yang terlalu banyak dosa. Bukan golongan perempuan berhati lemah lembut, bertutur kata apik, ataupun perempuan yang benar-benar menundukkan pandangan.

Siapa aku berani menolak pertemanan yang kau tawarkan?

Maaf, hanya sebatas ini yang aku bisa. Aku belum bisa menyandarkan hatiku kepadamu, seperti halnya kawanku yang sudah lebih berani menyandarkan hatinya kepada pasangannya. Aku masih belum siap dengan konsekuensi yang harus kutanggung, dengan segala kenyamanan yang ditawarkan, aku masih belum siap dengan apa yang membayangi dibalik itu semua. Bukankah lebih terjamin jika hal-hal tersebut terjadi setelah adanya ikatan yang sah?

Aku hanya takut jika ternyata aku salah menyandarkan hatiku. Aku akan berusaha untuk membiarkan hatiku tetap terjaga. Aku ingin memberikan hatiku seutuhnya, kepada siapapun nanti pemilik sah hati ini.

-------------------

Jika ada hal baik datang, sebaiknya jangan ditolak

Entah aku tak tahu, apakah kamu termasuk dalam hal baik tersebut atau tidak. Yang aku tahu, kamu orang baik. Dan itu cukup menjadi peganganku untuk tetap berkawan denganmu.

-------------------

Aku yang pergi, atau kamu yang pergi?

Sama sekali bukan masalah jika aku ataupun kamu tetap berada pada posisi masing-masing, JIKA kita sama-sama bisa menjaga hati, membangun tembok kesadaran yang tinggi bahwa ini hanya sekedar hubungan pertemanan.

-------------------

Kamu kurang tegas, tegaslah kalo ke cowok.

Kalimat tersebut pernah dilontarkan kepadaku. Lalu aku harus bagaimana? Bukankah kebaikan harus dibalas dengan kebaikan juga? Seandainya kau tahu, aku hanya akan benar-benar terbuka jika memang sesuai dengan kepribadianku. Hanya beberapa, dan itu masih dalam hitungan jari dalam satu tangan. Salahkah?

-------------------

Sing penting iso njogo awakmu, iso nuntun awakmu dunia akhirat.

Itu salah satu petuah yang aku dapatkan. Singkat, tidak bertele2, namun penuh makna. Njogo awakmu, bukankah itu salah satu bentuk tanggung jawab yang harus dilakukan? Iso nuntun dunia akhirat, berarti agamanya harus kuat. Kuat disini bukan yang tinggi ilmunya, samasekali bukan. Tetapi kuat disini adalah yang ibadahnya jangkep dan mau terus belajar menjadi pribadi yag lebih baik lagi.

Ada dua macam orang baik di dunia ini, dia yang benar-benar diciptakan Allah untuk menjadi orang baik sehingga dari kecil sudah nampak kebaikan-kebaikan ada pada dirinya. Seperti Rosululloh saw. Ada pula dia yang masalalunya kurang baik sehingga kemudian dia tobat dan menjadi orang baik, seperti para sahabat.

-------------------

Ya Allah, jika dari kesemuanya ada yang benar-benar baik untuk agamaku, keluargaku, diriku, dan masa depanku, maka dekatkanlah dengan cara yang indah, dengan cara yang selalu dalam naungan ridhoMu. Sungguh aku takut terlukai maka aku akan berusaha untuk tidak melukai, jauhkanlah jika memang ada yang kurang baik dengan cara yang sehalus-halusnya, agar hatinya jauh dari rasa dendam dan dengki akibat hubungan yang terjauhkan ini..

?

Yogyakarta, 29 Desember 2015

  • view 237