HAL-HAL YANG AKU PELAJARI WAKTU JADI PEMAIN VOLY AGUSTUSAN

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Agustus 2017
HAL-HAL YANG AKU PELAJARI WAKTU JADI PEMAIN VOLY AGUSTUSAN

--
Agustusan kali ini aku memeriahkan diri dalam lingkaran kemeriahan umat di sekolah. Ibu-Bapak guru dilombakan main voly. Entah bagian Tuhan yang mana yang memberiku keinginan buat ikut lomba. Biasanya aku tidak. Aku lebih senang duduk di tepi lapangan, mengamati sambil sesekali berkomentar.
--
Aku gak pernah main voly. Serius deh. Pelajaran olahraga adalah yang paling tak bisa kukuasai setelah Matematika, Fisika, Kimia dan Balaghoh, juga Ushulul Fiqh. Tubuh gendutku gak pernah bisa tahan lama-lama sama mereka semua. Maka ketika tanggal 18 Agustus 2017 aku main voly, aku rasa Tuhan lagi mau bergembira sama orang-orang Endonesa. Dia mau aku merdeka menjadi aku yang baru.
--
Waktu aku ikut main voly sama grup Cewe Kece dengan kaus dan kerudung merah, aku yakin Tuhan meminta aku buat berani. Walau jujur saja, saat bola datang ke arahku, aku berteriak, "Mamaaa" lalu bergegas pergi supaya tak kena bola. Aku berkali-kali gagal serven. Bahkan pada babak penentuan kemenangan, aku berhasil mengalahkan timku sampai tandas, 25-6.
--
Tim kami tidak kecewa. Sepanjang permainan hanya ada gelak tawa. Aku juga lupa kalau lagi ditonton sama siswa yang ratusan banyaknya. Ini jadi rekor tersendiri setelah di awal permainan rasa grogi menyergap ketaksukaanku menjadi pusat perhatian.
--
Aku senang sekali bisa main voly pada Agustusan kemarin. Berlari mengejar bola di lapangan seperti kata Bu Sindi, "Bu Lupy, udag bolana", ternyata sama menyenangkannya dengan membaca buku seram yang menegangkan. Kurasa bahkan permainan voly kali ini adalah bentuk kemerdekaan pribadiku. Aku saja tak mengira bisa berdiri sambil menunggu bola. Siapapun yang mengenalku sejak lama, tentu takjub dengan keputusanku yang tak biasa.
--
Permainan voly perdanaku jauh dari sempurna. Hanya Bu Sindi yang paripurna menyambut bola, menguasai lapangan. Keberadaanku dalam tim sekadar pelengkap, pangjejeg kalau kata orang Sunda. Aku tak berkontribusi apa-apa selain tepuk tangan dan sorak sorai. Servenku selalu gagal. Di tanganku, bola tak bisa melawan gravitasi. Aku adalah pemain amatir yang menyedihkan. Apakah aku sedih? Tentu tidak, sebab aku sedang senang merasa merdeka.
--
Lewat serven-serven yang gagal juga beberapa bola yang sia-sia, Tuhan mengajariku bahwa: untuk menuju baru, ada banyak gagal yang tak akan kekal kalau tetap bebal untuk belajar. Rasa malu, takut, juga pesimis adalah komplotan yang senang menentang hal-hal baru. Mereka cuma ilusi yang membuat kita senang berada dalam zona nyaman. Kekalahan tim kami juga kawan-kawanku yang masih bisa ketawa-ketiwi menunjukkan sesungguhnya kemerdekaan bermula dari pikiran.
--
Tujuh puluh dua tahun Indonesia merdeka. Aku bebas main voly sambil ketawa terbahak-bahak. Tak takut Belanda atau Nipon memaksa untuk rodi romusha. Tak perlu lagi bersembunyi di lubang gelap seperti yang dilakukan Apa Aki waktu masih belia. Hanya dituntut pandai memegang pena bukan senapan dan bambu runcing (kecuali kamu TNI POLRI atau pembunuh bayaran).
--
Sungguh, kemerdekaan itu amat menyenangkan bukan? Tak ada lagi situasi perang yang genting dan berdarah-darah. Tetapi benarkah semudah itu menjalani kemerdekaan? Kupikir tidak. Banyak PR yang mesti diselesaikan. Kita memang sudah tak perlu angkat senjata tapi bukan berarti bebas berpangku tangan. Negara ini butuh orang-orang yang bukan hanya senang dengan gegap gempita perayaan lalu berkoar "Dirgahayu Indonesia", tetapi tak paham betul buat apa ia berpesta-pora.
--
Menjadi merdeka dalam kemerdekaan merupakan situasi yang gampang-gampang susah, bagiku setidaknya. Gampangnya, aku bisa main voli dengan senang hati. Anak-anak lomba panjat pinang, makan kerupuk, balap karung, sendok kelereng, dan serangkaian babalapan lain dengan penuh suka cita. Susahnya, keriuhan perayaan kadang kala menutupi kejernihan berpikir. Rasa nyaman membuat enggan beranjak. Jadilah sekali merdeka tetap merdeka, tak ingin tambah merdeka gitu? #eh.
--
Aku bilang begitu bukan so hebat tapi karena aku payah. Aku gak mempan sama upacara Senin pagi atau perayaan kemerdekaan paling meriah sekali pun. Tak banyak yang kupahami soal kemerdekaan apalagi hakikat merdeka. Aku cuma tahu, setelah main voli, aku merasa baru, merasa tidak terbelenggu. Kemudian aku menjadi mau tambah merdeka sebab kalau tetap merdeka itu tidak move on! Tsah!

  • view 78