JIKA AKU MASIH KECIL DAN IKUT NGARAMBET

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Agustus 2017
JIKA AKU MASIH KECIL DAN IKUT NGARAMBET

Aku besar dan tinggal di desa, tumbuh di antara gegunung dan petak-petak sawah. Tentu saja aku telah khatam hal-hal seperti: berenang di kali, mancing di selokan, mandi di sumur, dan ngarambet di sawah. Kamu tahu ngarambet? Itu lho kegiatan memanen padi dalam istilah bahasa Sunda.
--
Kalau sedang musim ngarambet aku sering menemani Apa Aki pergi ke sawah. Ia selalu memakai dudukuy dan rebig andalannya. Sambil berlari-lari kecil, aku mengekornya dari belakang dengan rambut kucir dua dan dudukuy yang kebesaran karena itu punya emak. Kami adalah tim dudukuy yang kompak dan solid.
--
Kami berjalan riang dari rumah menuju sawah. Menyusuri jalan setapak yang waktu itu masih tanah. Langitnya cerah, biru berawan putih. Indah kan? Bagiku sih iya.
--
Apa Aki sering menyapa siapa saja yang ia temui di perjalanan. Aku hanya mengamati sambil sesekali nyengir kalau ada yang bilang, "Eleuh, Neng Upy ngiring ka sawah?". Kurasa waktu itu orang-orang masih ramah. Meski sekarang juga gak judes sih. Tapi ya beda saja. Sejak jalan di desaku beraspal mulus, orang-orang kurang senang berjalan kaki. Mereka lebih senang naik motor cepat-cepat, mana sempat bertegur sapa.
--
Kalau sudah sampai sawah, rasanya dunia amat luas dan aku kecil kayak simeut. Di tengah hehampar padi yang menguning, ibu-ibu asik mengeprik padi sambil sesekali tertawa entah membicarakan apa. Ingin sekali aku ikut ngarambet sama ibuk-ibuk tapi Apa Aki selalu melarang, "Cicing we di saung bisi merang," begitu katanya. Jadi aku duduk saja, eh kadang kala berburu ikan-ikan kecil yang ada di selokan atau tutut buat dimasak. Cukup seru untuk membunuh rasa bosan.
--
Menjelang siang, Emak suka membawakan kami bekal. Di rantangnya berisi sayur lodeh, ikan asin, sambal terasi dan lalap. Emak juga membawa bakul dengan nasi yang masih hangat dan tentu saja air teh di dalam teko. Apa Aki sangat suka air teh, katanya membuat awet muda dan panjang umur (tapi kenapa Apa pergi lebih dulu?)
--
Aku, Apa Aki, Emak, dan ibu-ibu yang ngarambet, duduk di pematang sawah. Kami mengalas nasi pakai daun pisang. Dengan lahap, kami makan bersama, kalau kata orang Sunda itu namanya botram. Meski bukan makanan mewah, masakan Emak enak rasanya kalau dimakan di sawah saat lagi lelah.
--
Sungguh peristiwa ngarambet merupakan berlian masa kecil yang tetap kemilau di dalam ingatanku. Ngarambet adalah proses "menuju padi" yang amat menyenangkan bagi anak kecil seumuranku, waktu itu. Hal-hal seperti: menyaksikan ibu - ibu berpeluh mengeprik padi, memburu ikan-ikan di selokan, mencari tutut di dalam lumpur sawah, botram di pematang sawah, merupakan kenangan mewah yang menyenangkan buat diingat.
--
Sayang sekali, dengan segenap kenangan indah itu Apa Aki melarangku menjadi petani. Ia bilang, hidup petani itu pedih. Mereka mengolah tanah, menanam benih, merawat padi menjadi beras menjadi nasi, tetapi uangnya tak banyak. Kata Apa, hidup petani itu susah. Susah beli mobil, susah punya perhiasan, susah menjadi kaya, paling bagus ya masih bisa sekolah. Akan tetapi, aku tak malu memiliki Apa sebagai petani. Kalaulah bukan sebab Apa Aki petani, belum tentu aku kenal dengan ikan-ikan di selokan dan para tutut sawah.
--
Bagiku, Apa Aki adalah sebenar-benarnya pahlawan, ibu-ibu penandur juga pahlawan. Mereka ikhlas mengolah beras yang tiap hari kumakan. Untuk itu, aku mau berterima kasih kepada Apa Aki, juga ibu-ibu penandur. Terima kasih telah tabah menjadi petani. Terima kasih telah sudi merawat tanah, menjadikannya ladang bagi bulir-bulir beras yang kumakan sehari tiga kali. Terima kasih tetap menjaga bumi dan kami yang senang makan nasi.
--
Jika saja ketika menulis ini aku masih kecil dan sawah Apa Aki masih ada, aku mau lagi ikut ngarambet. Biar kelak dapat kuceritakan pada anakku bahwa ibunya keturunan seorang petani yang tabah. Barangkali dengan begitu, ia dapat belajar untuk mencintai tanah.
--
Aku ingin menolak lupa, bahwa leladang beton yang memenuhi tepi jalan di desaku kini, pernah menjadi sawah yang damai. Tiap jengkal tanahnya adalah tempat peluh-peluh tabah para ibu penandur.
--
Meski Apa Aki bilang aku tak usah jadi petani, aku akan tetap menghormati mereka. Sebab berkat segala peluh dan tabah merekalah, Tuhan masih mengasihi bumi.

--

  • view 66