Yang Tak Akan Pernah Kuajak Ucing Sumput

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2017
Yang Tak Akan Pernah Kuajak Ucing Sumput

Aku suka main ucing sumput. Waktu kecil, sore-sore dengan teman. Di balik pohon pohon, di belakang rumah, di pinggir sumur. Kami bahagia, ada yang menjadi ucing: mencari. Ada yang nyumput : dicari. Aku lihai, sesekali saja jadi ucing.

Sampai besar, aku masih suka ucing sumput. Bersembunyi lebih jauh. Kadang-kadang dari polisi biar tidak ditilang. Kadang-kadang dari mantan karena tak tahan. Sering-seringnya dari bapak-ibuku sebab beberapa kebohongan. Apalagi pada bapak-ibu guru saat kesiangan masuk sekolah itu seru sekali. Hasilnya? Aku lolos lebih sering dari pada terjebak.

Saat dewasa, aku makin suka ucing sumput. Ucing-ucingan sama kenangan, utang-utangan (tanpa “k”), deadline-an, setoran, dan -an,-an lainan. Kamu begitu gak?

Sepanjang hidupku aku akan menyukai ucing sumput tak peduli lawan mainku beda-beda. Siapa saja boleh coba. Wani ngadukeun! Tapi aku takluk tak bisa main ucing sumput sama si Dia. Ini sungguh-sungguh. Aku pasti kalah. Aku pasti jadi ucing. Aku pasti tak bisa nyumput.

Dia akan menemukanku, meski : aku bersembunyi di balik pohon di hutan terjauh, di dalam air di danau terdalam (kenapa gak lautan? Suka-suka aku).
Dia akan menemukanku di balik benda-benda; rumah, kursi kayu, perahu, dan segala sesuatu. Ia adalah yang tak akan pernah kuajak bermain ucing sumput. Yang kasih-Nya Maha Menyembunyikan segala cacat-burukku. Yang pada-Nya tak bisa kusembunyikan diriku. Di hadapan-Nya, aku akan selalu ucing.

  • view 55