Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 6 Mei 2017   09:16 WIB
THE LONELY BLUE RANGER

Waktu masih esempe dan tinggal jauh dari keluarga, kotak telepon menjadi tongkrongan wajib. Andalan buat melepas rindu, pun memperbaiki nasib. Tak mahal-mahal lah biayanya, lima ratus rupiah bisa buat dua menit. Bertanya kabar, mengabarkan rupiah di dalam dompet yang tinggal selembar hijau.
“Mamah sehat? Teteh sudah tak punya bekal. Tolong segera tengok.”

Menjelang esema dan punya mantan pacar yang tak satu kota, kotak telepon menjadi tongkrongan wajib. Rela sekali diriku mengantre. Berdebar cemas sambil sesekali menghafal nomor yang sebenarnya sudah kuhafal.
“Apa aa tahu bahasa Perancisnya ‘terima kasih’?”
Pertanyaan yang paling tidak perlu kepada mantan pacar.
“Aku bangun tidur. Tak tahu apa artinya. Kamu cari sendiri di google.”
Jawaban yang lebih dari cukup untuk membuatmu merasa amat bodoh. Lalu telepon itu diam. Aku tersenyum. Masih ada kesempatan untuk CLBK. Kotak telepon ini akan membantuku, batinku kala itu.

Tahun-tahun berlalu. Aku sudah tak pergi mengantre di depan kotak telepon. Tak lagi menelepon ibuku untuk minta uang jajan. Juga tak melakukan panggilan bodoh kepada, ehem, mantan pacarku. Hingga suatu pagi, di depan sekolah ini, kutemukan kembali ia. Mematung sendiri. Cat birunya yang lusuh telah khatam menangkap usia. Telepon yang ada padanya hanya tinggal tombol-tombol bisu. Aku bertanya-tanya, apakah ia rindu mendengarkan orang-orang bercerita melalui dirinya?

Karya : Lupy Agustina