Masih Perawan?

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2017
Masih Perawan?

Saya enggak tahu, seberapa penting arti keperawanan bagi seorang perempuan. Tiap orang pasti punya cara pandang yang berbeda.

--

Dalam otak anak kecil saya, dulu, gambaran tentang perempuan yang tak lagi perawan selalu disertai dengan persepsi negatif. Entah itu saya pikir dia murahan, entah itu saya kira dia tak punya harga diri. Sungguh, doktrin-doktrin yang diusung sesepuh kami begitulah kiranya. Tidak ada yang salah, memang. Bukankah baik jika perempuan menjaga keperawanannya sampai ia menikah? Bukankah baik jika perempuan menjaga kemaluan dan rasa malunya? Saya sepakat soal itu.

--

Menyoal keperawanan perempuan memang agak sensitif. Salah-salah bicara bisa menyinggung pihak yang bahkan sama sekali tak terkait dengan pembicaraan. Di kalangan perempuan sendiri, agak tabu sebenarnya untuk membicarakan hal ini. Menurut keterangan beberapa kawan, membuka hal ihwal status perawanmu kepada temanmu hanya akan mendatangkan petaka. Betapa tidak, perempuan yang tak perawan selalu dianggap "macam-macam" dan "murahan". Setelah itu, jangan harap, orang-orang akan punya rasa hormat terhadapmu.

--

Masyarakat sosial kita memang senang sekali menghakimi. Peribahasa mengatakan, karena nila setitik rusaklah susu sebelanga. Sebaik dan secantik apapun kamu, perempuan, jika tak perawan maka akhir yang pantas cuma jadi olokan. Mengerikan? Memang.

--

Saya pernah menjadi semacam penganut prinsip dengan sikap yang menyedihkan. Waktu itu, saya selalu beranggapan bahwa perempuan yang tak berkerudung, mereka yang suka rela memberikan keperawanannya adalah manusia hina. Saya kerap bersikap sinis bahkan sering menganggap rendah. Saya rasa, saat itu menjadi bagian terburuk dalam perjalanan keimanan saya. Meskipun saat ini, keimanan saya tak kunjung meningkat drastis.

--

Bertahun-tahun kemudian, nasib seperti menuntun saya untuk melihat arah yang berbeda. Nyatanya, hidup perempuan tak melulu soal keperawanan. Para pelacur itu, para perempuan yang telah kehilangan keperawanan, mereka juga manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang  menciptakan para raja. Mereka dilahirkan dari rahim sang Maha Rahman.

--

Guru saya semasa sekolah pernah berkisah. Ia berkisah tentang seorang pelacur yang masuk surga sebab memberikan air untuk seekor anjing yang kehausan. Kisah sederhana tapi luar biasa. Cerita tersebut membuat saya berpikir bahwa barangkali surga memang milik siapa saja, tak terkecuali pelacur itu. 

--

Sejak saat itu, saya berhenti bersikap sinis. Bodoh sekali mengukur hina atau tidaknya seseorang dengan dasar ia perawan atau tidak. Hakikatnya, setiap manusia bisa berubah. Ia yang sudah tak lagi perawan bahkan dapat menjadi yang paling luar biasa mencintai Tuhan. Para pelacur yang dianggap najis, boleh jadi suatu saat menjadi yang paling baik keimanannya. 

--

Keimanan yang bercokol di dalam hati kita, sejatinya milik Tuhan. Kalau toh bukan kerana kasih-Nya, bisa-bisa kita yang berkoar menimani Tuhan tetiba menjadi atheis. Sungguh kupikir, ibadah-ibadah itu, kesalihan juga ketaatan, bisa diambil kapan saja oleh-Nya. Lantas kuasa apa yang kita punya hingga bisa menghakimi masa lalu seseorang? Kita cuma pejalan kaki yang sama-sama sedang menuju Tuhan bukan? Perawan atau tidak seorang perempuan, pelacur atau bukan, ia, bukan alasan yang tepat untuk memandang rendah derajat seorang perempuan.

--

Baik sekali memiliki keteguhan untuk mempertahankan keperawanan demi kehormatan diri. Namun alangkah bijaksana jika prinsip yang baik itu juga membuat kita bersikap baik kepada orang lain. Barangkali saya terdengar sok suci dan menggurui. Kalau begitu, saya pakai kata-kata Awkarin saja, "kalian suci, saya penuh dosa". Benar begitu? Ah sudahlah. Ini benar-benar bukan tentang siapa yang suci dan penuh dosa. Titik.

 


  • Regina Pamungkas
    Regina Pamungkas
    5 bulan yang lalu.
    Perawan ga perawan juga bukan sebatas sudah pernah hubungan badan atau belum
    Ingatlah yang baik-baik dari seorang manusia, berteman dengan siapa saja, tapi ambil sisi baiknya, sisi buruknya ingatkan saja, karena teman yang baik adalah teman yang mengingatkan kita di saat kita salah