Seperti Jiwa

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Desember 2016
Seperti Jiwa

Aku telah selesai membaca buku ini, Sayang. Kau harus membacanya suatu hari nanti. Meski aku tak yakin, dan sepertinya kau hanya akan mengerutkan kening lalu berkata, "Buku itu terlalu tebal. Lagi pula aku tak terlalu suka membaca cerita yang berlebihan. Kau tahu itu kan?" setidaknya kubayangkan engkau tersenyum seraya mengeluskan tangan di puncak kepalaku. 

Jadi ada baiknya kuceritakan saja padamu perihal buku itu. Bukankah kau bilang, kau selalu suka mendengarkanku bercerita? Ah, kurasa aku amat beruntung memiliki kekasih yang pendengar sepertimu. 

Dengar, Sayang, lelaki dalam buku ini bernama Jiwa. Ia pandai memikat hati wanita meski dengan tampang tidak seberapa. Jiwa suka sekali membaca buku. Ia juga sering membacakan puisi-puisi buat Nanti, kekasihnya. Mereka adalah pasangan kekasih yang memesona. Mereka membangun mimpi bersama-sama, menamainya, "Perpustakaan Terakhir". 

Sayang sekali, entah mengapa takdir selalu senang bercanda dimana pun ia berada. Bahkan pasangan kekasih yang serasi sekalipun tak melulu berakhir dalam kebersamaan, itu keinginan takdir juga penulisnya dalam hal ini. Ya, Nanti, Nanti Kinanti, kekasih yang amat dicintai Jiwa menginggalkannya untuk lelaki lain. 

Ironis bukan? Sampai sini aku tahu betul kau hanya akan berkata, "Itu hanya cerita,mereka tidak nyata. Kamu terlalu serius." Lagi-lagi aku membayangkanmu tersenyum sebagaimana biasanya. Senyum yang merampas habis tumpukan es di dalam dadaku. 

Boleh kulanjutkan ceritaku, Sayang? 

Begitulah, Nanti menikah dengan lelaki pilihan ayahnya. Jiwa tak sudi datang pada pernikahannya. Jiwa dan Nanti, mereka masih saling mencintai. 

Apa yang dilakukan Jiwa kemudian? Dengan segala ketidakberdayaannya, Jiwa memilih menenggelamkan diri bersama buku-buku. Ia mencoba berkencan beberapa kali. Sayangnya, ia tak pernah bisa mencintai perempuan lain sebagaimana ia mencintai Nanti.

Kuikuti kisah keduanya sampai tuntas. Kau tahu apa yang kutemukan pada bagian akhir? Entah kenapa aku merasa bahwa Jiwa ada pada sebagian jiwaku. Bahwa aku adalah si Jiwa Perempuan. 

Tetapi aku tahu, aku tidak akan pernah menjadi seperti Jiwa. Perempuan yang tidak menikah adalah kutukan. Ia borok bagi ibuk-bapaknya. Perempuan harus menikah, entah dengan lelaki yang ia cintai atau yang mencintainya. 

Jadi Sayang, tenanglah. Kau tidak perlu gusar. Beberapa tahun ke depan, barangkali aku akan menjadi Jiwa dalam versiku sendiri. Aku ingin membangun perpustakaan dan membaca lebih banyak buku. Aku ingin tetap menulis puisi-puisi buatmu meski tak satupun puisiku yang kau sukai. Aku ingin menyimpanmu dalam lembar-lembar halaman yang kubaca. Aku ingin menguncimu di dalam kata-kataku.

Lalu pada suatu hari, aku akan memilih seseorang yang lain. Mungkin orang itu tidak sepertimu. Ia bisa berasal dari mana saja, atau bahkan seseorang yang justeru telah amat kukenal. 

Aku tidak ingin mengadaptasi kebodohan Jiwa yang tidak menikah jika tidak dengan Nanti. Aku perempuan, aku harus menikah bahkan jika aku sendiri tak menginginkan itu, aku ttap harus menikah.

Pergilah Sayang. Genggam rekat jemari perempuan itu. Kau berhak segala-galanya untuk kebahagiaan.

Aku tak apa, sungguh bila yang kau ucapkan tempo hari bukan candaan seperti biasanya. Aku bukan orang yang cengeng, kau tahu itu. Dan aku amat menyayangimu.

Kita sudah sepakat bahwa kita tidak akan pernah mendikte Tuhan bukan? Melangkahlah. Aku baik-baik saja. Atau kau masih ingin mendengar ceritaku? 

Aku tak yakin kau ingin tahu akhir kisah Jiwa dan Nanti. Mereka berdua pada akhirnya, ah, aku enggan menceritakannya padamu bagian itu. Kau minta saja pada perempuanmu untuk menamatkan kisah yang sudah kumulai. Kudengar ia seorang wanita cantik nan pintar. Ia pasti lebih pandai bercerita dari padaku.

Selamat tinggal, tidak, bukan aku yang harus mengucapkannya. Kau yang harus mengucapkan itu padaku. Kau yang memilih pergi, jadi ucapkan itu padaku. Tapi kupikir, apa pentingnya siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan jika kita sama-sama terluka. Hahah, sudahlah. Mari berhenti di sini. 

  • view 198