Selepas Demonstrasi Sakral

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 November 2016
Selepas Demonstrasi Sakral

Mengharukan sekali menyaksikan jutaan umat islam tumpah ruah untuk menyerukan kebenaran agamanya. Bagaimana mereka berbondong-bondong, dibakar terik, dihujami dingin, dilindas peluru dan gas air mata, itu amat heroik. Saya tak ada apa-apanya sudah pasti. Orang ini cuma bisa berkata begini begitu tanpa berbuat apa-apa. Appologize me.

Bagi saya aksi demonstrasi kemarin merupakan pemandangan yang langka. Saat semua sekte-sekte agama Islam saling merangkul pundak. Mereka benar-benar saling bersisian dan satu tujuan! Menakjubkan.

Bagaimana tidak, bukankah selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa organisasi islam sering berselisih faham, berebut kekuasaan, saling meonjolkan diri. Bahkan tak jarang, kita dapati orang-orang tak saling menyapa sebab bebrbeda mazhab pengajian, merasa bahwa Kyaiku lebih baik dari Kyaimu. 

Oh, sungguh maafkan saya yang justeru bertanya-tanya sendiri,

"Bisakah umat Islam tetap seperti ini, mengenyampingkan ego golongan-golongannya bukan saja untuk mendemo Ahok tetapi untuk hal lainnya yang menurut saya lebih penting yaitu, "melahirkan pemimpin yang melebihi Ahok?” 

Selama yang saya amati, jauh sebelum ini, kita bahkan terkotak-kotak dalam kepentingan golongan kita masing-masing. Mengalahkan satu sama lain demi kursi tertinggi, tak jarang demi kekuasaan pribadi. Ah, mungkin itu cuma pemikiran dangkal saya, lagi-lagi. Saya tahu apa, jilbab saja masih sebahu, ngaji quran saja belum fasih, tafsirnya apalagi. Sekali lagi itu cuma perasaan saya yang dangkal.

Semoga saja ini menjadi titik balik bagi kebangkitan umat Islam di Indonesia. Keserempakkan ini, jika benar-benar dibina akan membuat ngeri siapa saja. Apalagi jika sehabis ini, kita memiliki sesosok pemimpin yang tak hanya bersedia menceramahi jemaah di masjid-mesjid tetapi juga sedia menuntun lewat birokrasi. Tentu saja, tanpa disertai egoisme golongan masing-masing. 

Agaknya kita juga harus belajar berlapang dada. Belajar jujur kepada diri sendiri untuk mengakui kehebatan orang lain dan menyadari bahwa golongan sendiri pun tak selalu lebih baik dari orang lain. 

Alangkah baiknya jika semangat kebersamaan ini tak cuma berlangsung untuk menuntut Ahok tetapi juga untuk menciptakan pemimpin yang disokong penuh oleh umat tanpa melihat dari partai, mazhab atau sekte manapun selagi ia layak. Sehingga elektabilitasnya mampu melampaui para petinggi yang dibentengi orang-orang entah dari umat yang mana.m

Begitulah. Sekali lagi, maafkan saya yang dangkal. Maafkan saya yang hanya bisa menye-menye di sini. Menjuramu, kekawan.

Salam takzim, 

Kupohon maaf buat semua kekeliruan.

  • view 136