Yang Dirawat oleh Peri-Peri

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Juli 2016
Yang Dirawat oleh Peri-Peri

Merawat sesuatu, melihatnya tumbuh merupakan satu dari sekian keajaiban yang menyenangkan. Awalnya aku agak ragu, bisakah ia merawat benih-benih itu? Tapi aku tahu yang ia butuhkan bukanlah prasangka tak berguna. Ia hanya butuh dipercayai. Maka ketika ia bilang, "Teh nanti aku mau nyoba tanaman hidroponik", kuputuskan aku akan menjadi orang pertama yang mempercayai kata-katanya. 

What I guess, kali ini ia berhasil. Ia bekerja dari nol. Telaten menyemai, memastikan sayuran-sayuran itu dapat cukup vitamin, memeriksa siklus air dan serangkain hal lain yang tak kutahu persis apa saja. Ia menuai apa yang ditanamnya. Tuhan Maha Ajaib menumbuhsuburkan benih-benih yang dipupuki ketekunan. 

Sejak dulu, aku selalu yakin. Ia akan menjadi tak sekedar ia saat ini. Aku amat senang jika ia bercerita perihal cita-cita, mimpi, dan rencana masa depannya padaku. Meski tak satupun dari itu yang berkaitan denganku. Aku menyukai semangat yang terpancar dari matanya, menikmati nada-nada penuh harap dalam suaranya. He seems so alive.

Siang itu, dengan cengiran khasnya, ia menyapaku sambil memberikan sekeresek sausin. Dia bilang ini panen pertama dari kebun miliknya.  Menyenangkan sekali bisa menerima sayuran yang dirawat oleh tangannya sendiri, yang ia pelihara sepenuh hati. Rasanya seperti memakan kebahagiaan dalam bentuk nyata. Berlebihan? Haha. Kurasa iya. 

Aku takjub. Tak kukira ia adalah perawat yang baik. Barangkali sayuran yang ia rawat dikelilingi peri-peri. Kuakui sausinnya warbiasyah enak dimakan sama Indomie kuah rasa ayam bawang. 

Saat menulis ini, aku membayangkan wajah kanak-kanaknya. Betapa ia tumbuh begitu cepat. Waktu telah melesat jauh meninggalkan masa kecil kami. Ia bukan lagi bocah kecil nakal yang kukenal. Now, He's a man who turn his dreams into plans. Meski begitu, sejak dulu cengirannya tetap sama. Entahlah, aku bersyukur ada hal dalam dirinya yang masih kukenal seperti waktu kami masih kecil. 

Aku amat berterima kasih padanya. Semoga ia tetap merawat mimpi-mimpinya. Telaten memupuki dan mengairi supaya mimpi itu tetap tumbuh. Semoga ia tak lekas merasa puas. Tetap memupuk keingintahuan dan rasa penasaran. Tetap belajar meski tanpa bangku, tanpa buku, tanpa guru. 

Semesta adalah tempat belajar paling sempurna. Angkasa luas, lembah-lembah, gegunung, juga samudera, alam raya ini adalah buku yang tak kan habis dibaca. Kuyakin ia dapat belajar kepada siapa saja. Menjadi murid yang baik bagi guru-guru yang ia temui di banyak tempat. 

Apa yang ia lakukan saat ini, mungkin tak ada kaitannya sama sekali denganku. Hanya, aku merasa perlu untuk memintal doa. Meminta segala kebajikan ada pada sekelilingnya. Sebab ia telah sedia memberiku bagian dari sesuatu yang ia rawat, yang ia jaga. Aku memang tak tahu persis apa yang ia cita-citakan saat ini. Namun tentu saja, setiap mimpi, setiap cita-cita, berhak untuk mendapat doa. 

Lain kali, mungkin aku harus ikut berkebun dengannya. Siapa tahu memang ada peri-peri. Hi

hi. ^^