Pencerita yang Tak Tahu Diri

Pencerita yang Tak Tahu Diri

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Juli 2016
Pencerita yang Tak Tahu Diri

 "Kenapa selalu aku yang kamu ceritakan di dalam tulisanmu?" Ujarmu malam itu.

Aku tertegun menatap layar handphone yang kupegang. sedikit kaget sebab pada akhirnya pertanyaan itu kamu lontarkan padaku. Harus kujawab apa? Kuketik beberapa kalimat namun urung kukirim. Aku tidak ingin kamu salah paham. Tidak ingin perasaanku terbaca begitu jelas.

"Aku ingetnya sama kamu. Gitu aja. Maaf kalau kamu merasa terganggu." Jawabku. 

Aku tak tahu apa yang kamu pikirkan waktu itu. Barangkali kamu menganggapku orang gila yang terobsesi padamu. Ada sedikit perasaan bersalah. Aku sudah mengusik kenyamananmu. 

"Gak apa-apa. Silakan aja kalau emang aku jadi inspirasi buat kamu nulis. Aku cuma malu. Aku gak sebaik yang kamu tulis di setiap ceritamu." 

Kamu selalu begitu. Tak percaya diri dengan segala sisi baik yang kamu punya. Padahal bagiku, segala yang ada padamu adalah pemberian Tuhan yang terbaik. Aku tak ambil pusing soal masa lalumu, jika itu yang kamu maksud dengan "tak sebaik yang kamu tulis dalam ceritamu". 

Aku hanya berusaha melihatmu dari sisi yang tak orang lain lihat. Mempercayai bahwa kamu tak sekedar kamu yang tampak. Tatapan matamu yang jenaka juga memiliki luka. Wajah kekanakanmu yang menyenangkan bahkan sering terlihat kesepian. Tetapi engkau selalu berpura-pura. Berkata baik-baik saja, bersikap kamu tak apa-apa. Bagaimana bisa aku tak jatuh sayang padamu?

Aku hanya pencerita. Memilikimu lewat kisah-kisah yang mungkin saja tak kamu sukai. Mengasihimu lewat kata-kata yang hanya kamu anggap sebagai gurauan galau tak berguna. Tak apa.

"Aku mencintaimu, biarlah ini urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, terserah itu urusanmu.-Pidi Baiq". 

Ya, biarlah perasaan ini hanya menjadi urusanku. Aku akan lebih berusaha untuk tidak hirau soal bagaimana kamu kepadaku. Meski demikian sulit untuk tidak peduli padamu.

Jika cerita-cerita itu mengusikmu, aku minta maaf. Anggap itu adalah tokoh dan tempat yang tidak disengaja. Atau lupakan saja. Bersikap seolah kamu tak pernah membacanya. Bersikap seolah kita tak pernah saling mengenal, tak apa jika itu diperlukan. 

Aku minta maaf sebab tak bijak menyikapi perasaan. Ceroboh menuliskannya di sembarang tempat. Lupa bahwa kamu punya hak untuk tidak kusebut. Aku ini siapamu? Hanya pencerita tak tahu diri yang miskin imajinasi. Sebab melulu bercerita kamu.

 

 

 

 

 

  • view 477