Remah [I]ngatan

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Mei 2016
Remah [I]ngatan

Sebuah kota tertentu terkadang menjadi amat lekat dengan seseorang atau sebaliknya? 

Beberapa kali mampir di kotamu, aku tak pernah punya cukup waktu untuk menuntaskan rindu. Malam atau siangkah perjalanan yang paling kau nikmati? Aku lebih suka perjalanan malam hari. Duduk di kursi samping jendela. Menyibak sepi lewat jalanan yang sibuk. Sesekali berangan, andai kursi sampingku diduduki kamu. 

Sepanjang yang aku ingat, kita tak pernah berjalan bersisian, maksudku ini benar-benar secara harfiah. Lagi pula, aku lebih senang melihatmu dengan jarak. Menikmati caramu melempar senyum. Bersitatap dengan pandanganmu yang jenaka. Aku ingat, kau sering tersenyum sambil memamerkan gigi-gigimu yang rapi. Lesung di bawah matamu saat kamu tertawa, that was so you! 

Empat jam perjalanan menuju atau meninggalkan kotamu adalah ketidakberdayaan yang menyenangkan. Ada sebuah perasaan aneh yang menjalariku. Beberapa pertanyaan lalu muncul berebutan. Apakah semua jalan yang kulewati juga pernah kau lewati? Bersama siapa? Apa warna baju perempuan itu? Merahkah? Warna yang kau sukai. Apakah kalian juga membicarakan kesenanganmu? Cita-citamu? Bagaimana rasanya mengobrol denganmu selama berjam-jam? Bagaimana rasanya menyaksikan caramu tertawa yang amat kusukai itu dari dekat? 

Aku sering diam-diam mengamati para pejalan kaki. Pengendara motor, juga orang-orang di dalam mobil. Lamat-lamat berdoa dalam hati, "Tuhan, kumohon, dari ratusan orang di jalan ini, tidakkah Kau buat salah satu di antaranya adalah dia?" Tapi tak sekali pun doa itu berhasil, sejauh yang kurasa sampai saat ini. 

Tuhan sepertinya belum berkenan. Empat tahun berlalu semenjak pertemuan terakhir kita. Setidaknya itu yang kuingat. Kemeja batik hitam dngan corak bunga berwarna kecoklatan pada bagian bawah. Rambut gondrongmu yang tidak berubah, and also your warm smile. Seperti biasa, aku selalu menyukai jarak. Kita saling menyapa lewat anggukan dan tatap mata, selalu sejak dulu. 

Ingatan-ingatan itu sudah jauh tertinggal. Sampai di penghujung bulan kelahiranmu, entah apa muasal aku merindukan kotamu malam ini. Maka kubiarkan saja. Mengenang perjalanan-perjalanan itu. Perasaan-perasaan yang menyertainya, juga remah ingatan tentang kamu. Mengenang kembali kita, tanpa merasa ingin kembali. 

-Ruang imajinasi. Semoga tak berlebihan. Haha!

  • view 85