ABDILLAH Beserta Puisi-puisinya

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Mei 2016
ABDILLAH Beserta Puisi-puisinya

Abdillah Hanafi. He's my little brother. Usianya 8 tahun, kelas 2 SD. 

He's not genius. Nilai-nilai mata pelajarannya tak pernah lebih dari kisaran 75. Apalagi matematika dan IPA. IPS lumayanlah, kabar terakhir yang kudapat, dia dapat nilai ulangan 90 untuk bahasa Inggris. Aku hanya tertawa dan meledeknya seperti biasa. 

Dia adalah anak bungsu di keluarga kami. Usianya terpaut 14 tahun denganku. Kakak-kakaknya, Dimas dan Dika, masing-masing baru menginjak 15 dan 12. 

Dibandingkan dengan kakak laki-lakinya, Dillah-panggilan untuk Abdillah-lebih dekat denganku. Aku sering menemaninya nonton tv sambil membaca novel. Kami senang mewarnai gambar bersama-sama. Sesekali bergantian membaca cerita sebelum tidur siang dan menulis diary di malam hari. 

Suatu sOre, saat Dillah tak pergi menbal bersama kawannya. Ia duduk bersamaku dan ibu. Kami menonton "Sasuke Ninja Warrior" edisi TNI. Tiba-tiba Dillah berkata padaku, "Lup, pangmawakeun buku jeung pulpen aya inspirasi yeuh." 

Smbil tertawa, ibuku berkata, "Inspirasi naon atuh budak leutik!"

"Inspirasi puisi atuh, Mah." Ujar s Dillah menyaut. 

Beberapa menit kemudian, ia sibuk sendiri. sesekali mendongakkan wajah mirip orang yang sedang berpikir. Ia asyik menulis. Sementara kami masih menonton tv. 

Dillah beranjak dri tempat duduknya, ia menyerahkan buku tulisnya pdaku. Menyuruhku membaca puisinya. Aku menurut, membaca puisinya dengan seksama. 

Puisi Pertama

Angkatan Udara kepentingannya menjadi pilot

Angkatan Laut kepentingannya menjadi keamanan di laut

Angkatan Darat kepentingannya menjadi keamanan di darat

Semuanya punya kewajiban sendiri

Pemimpinnya membimbing prajurit mereka sendiri

Mereka bangga sekali pada pemimpinnya

Mereka mempunyai pekerjaan apapun

Mereka ikhlas seikhlasnya apapun.

Baiklah, kuakui. Aku tertawa saat membacanya. Coba baca penggunaan kata "apapun" dalam puisi itu. Out of my expectation. Sangat tidak pas dan membuat lucu saja bagiku. 

Puisi kedua ini dia buat berkaitan dengan cita-citanya. Dia ingin jadi polisi, katanya.

Puisi Kedua

Polisi menangkap orang jahat

Misalnya narkoba, pencuri, jambret

Itu adalah kesalahan yang sangat salah di sisi undang-undang

Mereka harus saling memafkan 

Harus saling tolong menolong

Bukan menjahati orang lain

Mereka harus punya pekerjaan yang halal

Bukan mencuri

"Bimbing Anak Anda Biar Pintar"

Puisi kedua ini berhasil membuatku trpingkaL. Mski kuakui tak ada yang lucu-lucu amat di isinya. Tapi kalimat "Itu adalah kesalahan yang sangat salah di sisi undang-undang", "Mereka harus punya pekerjaan yang halal/Bukan mencuri" rasanya membuatku tak cukup mengenal adikku sndiri.

Aku tak mengira Dillah yg saban sore pulang ke rumah dengan baju penuh lumpur. Adikku, yang senang "ngojay" di Cikembang, kali kebanggan desa kami. Kukira ia hnya akan menulis puisi tentang ibu, guru, seperti halnya yang kutulis waktu kecil dulu. 

Tak ada yang mengajarinya menulis puisi. Tak ada yang mengira ia akan punya keinginan menulis puisi. Hahaha. Semoga Dillah menjadi polisi yang jujur dan pnulis puisi yang hebat! 

  • view 211