GENAR

Lupy Agustina
Karya Lupy Agustina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2018
GENAR

Dahulu sekali, saat Apa Aki masih hidup di muka bumi, aku masih kanak-kanak. Rumah kami belum punya kompor gas. Saban hari Mingu, kami pergi ke kebun mencari ranting-ranting patah dan batang kelapa yang sudah mengering untuk kayu bakar. Kami tidak butuh gas. Minyak tanah dua liter seharga empat ribu rupiah cukup sebagai penyambung hidup satu minggu.

Selain mengurus kebun, kolam ikan, juga beberapa ekor ayam, Apa Aki pandai pula memasak. Tak jarang ia membuatkanku telur dadar wortel sebagai makan siang. Menu lain yang sering ia buat yaitu bubur ketan gula merah untuk camilan sore selepas aku pulang sekolah diniyah. Sering juga aku membantunya mengiris singkong yang kami panen dari kebun. Mengolahnya menjadi keripik berbentuk panjang pipih, dibumbui garam, Apa Aki tak pakai micin.

 Sekali waktu jika tak ada apapun untuk dimakan, Apa Aki tak pernah hilang akal. Diambilnya nasi hangat yang ditanak Emak di atas hawu.  Ia tambahkan sepotong terasi goreng lalu berujar,

“Kudu daek dahar jeung goreng tarasi, loba gizina tina hurang laut,”

Aku yang lapar karena baru pulang sekolah, menurut saja pada perkataan Apa Aki. Kupikir apa salahnya makan dengan nasi terasi? Toh rasanya enak dan mengenyangkan.

Menghabiskan hari dengan Apa Aki selalu menyenangkan. Selain mengajakku bertualang ke kebun dan sawah, ia dengan senang hati berbagi dapur bersamaku. Tidak hanya membuatkanku camilan dan makan siang, Apa Aki mengajariku cara membuat beberapa makanan.

Suatu kali, ketika akan Lebaran, Apa Aki mengajakku meramaikan dapur. Ema telah lebih dahulu sibuk membuat kue semprit, kue akar, juga rengginang. Kami tidak membeli makanan-makanan keren seperti di rumah orang lain. Apa Aki dan Emak lebih memilih membuat suguh* dengan bahan-bahan yang kami miliki di rumah. Lebih hemat, begitu katanya.

Karena kue-kue lain yang lebih sulit sudah ditangani Emak, Apa Aki mengajakku untuk membuat genar. Bahan-bahannya tidak banyak, kami hanya menyediakan tiga kilogram beras, sebungkus tepung tapioka, serta garam.

Mula-mula, Apa Aki mencuci beras kemudian menanaknya di dalam langseng. Sambil menunggu beras matang, ia menyuruhku untuk menyiapkan wadah dan melapisinya dengan plastik. Saat sudah matang, nasi itu langsung ia tumpahkan ke wadah yang sudah kusiapkan. Tanpa menunggu lama, Apa Aki menaburkan tepung tapioka ke dalam nasi yang masih mengepul itu. Kata Apa Aki, menaburkan tepung tapioka saat nasi sedang panas-panasnya berguna agar genar menjadi lebih renyah saat sudah digoreng.

Tahap selanjutnya, Apa Aki menyiapkan dua mutu yang berlapis plastik. Satu untuknya, satu lagi untukku. Kami harus menumbuk nasi bercampur tepung itu sampai halus. Uap nasi yang masih mengepul membingkai wajah kami. Sesekali ia menyeka peluh dari dahiku dengan sapu tangan kotak-kotak biru yang ia simpan di dalam celananya.

“Ari barang jieun teh kudu beresih, kudu berseka, ulah jorok,” begitu ujarnya sambil melap peluhnya juga.

Perjuangan membuat genar masihlah panjang. Seusai nasi tertumbuk dengan sempurna, kami harus mencetaknya menjadi bulatan-bulatan tipis. Apa Aki menyiapkan sepasang piring seng yang sudah dilapisi plastik. Piring pertama digunakan sebagai alas dan piring kedua sebagai penekan. Bagian bawah kedua piringlah yang digunakan oleh Apa untuk mencetak genar.

Apa Aki mengambil nasi yang sudah kami tumbuk lalu membulatkannya hingga seukuran bakso kecil. Nasi yang sudah bulat ia letakkan di atas piring pertama. Ia menutup bulatan nasi dengan plastik lalu menekannya dengan piring seng kedua. Nasi terus ditekan sampai berbentuk bulat tipis.

Aku tidak semahir Apa Aki. Kadang-kadang, genar yang kucetak terlalu kecil dan tebal, lain waktu terlalu tipis sampai retak. Namun, Apa Aki tidak marah, ia membiarkanku membantunya tanpa protes. Ia bahkan dengan sengaja menyediakan nyiru* yang khusus menampung genar-genar yang kucetak agar tidak bercampur dengan master piece yang ia buat.

Genar-genar yang kami cetak, baru memasuki tahap setengah jadi. Selanjutnya, Apa Aki memintaku untuk menjemur nyiru-nyiru yang sudah penuh dengan genar. Genar ini akan kami keringkan di bawah sinar matahari. Pada proses ini, sinar matahari dan kuasa Tuhan Yang Maha Esa amat berpengaruh terhadap cepat-lambatnya proses pengeringan. Jika matahari cukup terik, proses pegeringan bisa berlangsung seharian. Namun jika mendung mengundang gerimis, genar bisa kering dalam 2-3 hari.

Bila genar di atas nyiru itu telah mengering, saatnya bagiku dan Apa untuk menyiapkan perapian. Aku memasukkan kayu bakar ke dalam hawu*. Apa Aki menyiramkan sedikit minyak tanah, menyalakan korek api. Tungku kami sudah berapi, wajan telah terisi minyak. Aku bertugas menjaga api agar tetap menyala. Apa Aki membawa genar yang telah mengering.

Minyak telah cukup panas, Apa Aki duduk di atas jojodog* sambil memegang susuk. Tangan kirinya sudah siap dengan genar yang akan ia goreng.

“Py, kahade seuneu na ulah gede teuing,” aku mengangguk paham. Kutarik kayu-kayu bakar itu menjauhi bagian bawah wajan. Kujaga apinya tetap menyala.

Kami bekerja sama sepanjang hari. Apa Aki tak hanya memberiku tugas menjaga api, ia juga membiarkanku menggoreng genar seperti yang ia lakukan. Ia menggantikan tugasku untuk menjaga tungku. Dengan telaten, ia meniupi tungku sampai bajunya dihinggapi abu. Abu-abu kayu membuatnya terkekeh batuk. Aku menatapnya khawatir lalu meminta ia untuk kembali menggoreng. Apa Aki menolak.  Katanya, anak perempuan harus pandai menggoreng sebagai satu keterampilan hidup. Sayang sekali, harapannya belum mampu kuwujudkan karena genar-genar yang kugoreng begitu coklat sempurna. Apa Aki tidak marah, ia justru senang karena kami punya camilan setelah selesai memasak. Sedangkan genar goreng master piece-nya, tentu saja ia pisahkan untuk hari raya.

Bersama Apa Aki, hidup selalu terasa baik-baik saja. Aku tidak pernah merasa miskin meski sering makan hanya dengan kerupuk dan terasi. Lebaran kami juga tetap khusuk walau tak punya camilan mahal dan hanya makan genar buatan kami sendiri. Aku merasa cukup dan bahagia.

Seandainya saja sorga tak lebih indah dari rumah kami, aku ingin meminta Tuhan untuk tetap membiarkan Apa Aki bersamaku setidaknya sampai aku menikah. Aku masih ingin membuat genar bersamanya lalu kelak mengajari anakku hal yang serupa. Biar anak-anakku mengerti ada pekerjaan yang lebih seru dari sekadar lipsing dan gerak-gerak jari di depan kamera. Ah, tidak.

Aku bersyukur Tuhan memberiku Apa Aki yang bersahaja. Seorang lelaki yang hanya punya tiga baju bagus karena sisanya rebig untuk pergi ke sawah. Darinya aku belajar bahwa hal-hal terbaik dalam hidup kadang tak melulu ada pada sesuatu yang berkilau. Apa Aki memang tak pernah membelikanku makanan mahal. Ia juga tidak punya cukup uang untuk menghadiahiku mainan keren. Namun, ia memberiku hal yang tak akan pernah mampu dibeli oleh apapun: waktu.

 Kosa kata

suguh   = makanan yang disajikan untuk tamu

nyiru     = wadah berbentuk bulat terbuat dari anyaman bamboo

hawu    = tungku perapian untuk memasak

jojodog               = tempat duduk berbentuk segi panjang biasanya terbuat dari kayu

  • view 47